Kajian Subuh bersama Ustadz Adi Hidayat

Bab ilmu sangat penting dalam ibadah kita. Mulai sekarang, kita harus meningkatkan kualitas mengaji dengan tuntas. Salat dari takbir sampai salam memang sah dan pahalanya dicatat, tetapi barakah salat tidak akan kita dapatkan jika tidak memahami apa yang kita baca. Barakah itulah yang membuat kita semakin lebih baik.

Jika kita hanya mengucapkan takbir “Allahu Akbar” tanpa memahami maknanya hingga salam, maka untuk mempraktikkan rahmat dan barakah akan minim. Inilah yang menjadikan ada orang yang sudah salat namun lisannya masih kasar, tangannya masih berbuat maksiat, dan kakinya melangkah pada hal yang tidak benar.

Memahami Makna Takbiratul Ihram

Mari kita pahami satu per satu. Ketika kita mengangkat tangan dan mengucapkan “Allahu Akbar”, apa maksudnya?

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah satu-satunya sahabat Nabi yang ketika takbir langsung menangis. Ketika Rasulullah menunjuknya menjadi imam, beliau berkata, “Ya Rasulullah, jangan saya. Saya ini orangnya perasa, takutnya malah tidak khusyuk makmumnya.” Tetapi Nabi tetap memerintahkannya karena beliau berusaha memahami bacaan yang dibacakan.

Perhatikan baik-baik: “Allahu Akbar” sambil mengangkat tangan ke belakang artinya membuang urusan dunia ke belakang. Jangan bawa-bawa urusan dunia dalam salat. Ini yang menyebabkan seseorang sering tidak khusyuk karena dunia dibawa dalam salat. Lisannya “Allahu Akbar” tapi dalam salatnya handphone-nya akbar—berbunyi ting-tung, lalu membatalkan salat untuk mengangkat telepon.

Jauhkan dan buang dunia. Pasrahkan. Yang penting adalah kita berikrar dalam salat: “Ya Allah, hanya Engkau yang paling Agung yang aku agungkan.” Tetapi dalam kehidupan, bahkan sebelum salat, kadang kita merasa agung dibanding yang lain—sombong, merasa paling berilmu, paling punya uang, paling punya kedudukan. Padahal dalam salat pun Allah bisa mewafatkan kita saat itu. “Ya Allah, aku tobat, Ya Allah, aku tobat.”

Makna Doa Iftitah

Setelah takbir, kita mengatakan: “Allahumma ba’id baini wa baina khathaaya…”

Artinya: “Ya Allah, jauhkan antara aku dan kesalahan seperti Engkau menjauhkan timur dan barat.”

Ini adalah pengakuan bahwa kita kecil dan banyak salahnya. Kita mengaku tinggi di hadapan orang dengan sombong dan angkuh, merasa hebat dibanding tetangga atau pasangan. Maka dalam salat kita tobat dan memohon: “Ya Allah, jauhkan antara aku dan kesalahan yang aku bawa dalam salat. Aku takut kalau dalam salat diwafatkan masih membawa kesalahan.”

Lalu kita pasrah. Bahasa bebasnya begini: “Ya Allah, kalaupun Engkau wafatkan aku sekarang dalam salatku ini, aku pasrah Ya Allah, sepanjang Engkau ampuni dosaku. Dan aku berjanji kalau selesai salat masih hidup, aku akan menjadi orang yang lebih baik dari sebelum aku salat terakhir.”

Berbuat Baik kepada Sesama

Setelah hubungan dengan Allah baik, sekarang kita perbaiki hubungan sesama muslim. Namun perlu diingat, dalam kehidupan kita tidak hanya bertemu dengan muslim. Ada juga non-muslim di sekitar kita.

Rasulullah mengajarkan: “La ikraha fid din” (tidak ada paksaan dalam agama). Ibadah masing-masing, tetapi ketika diatur hubungan muamalah dan interaksi sosial dalam kehidupan—di pekerjaan, bertetangga, berkebun—maka hukumnya berlaku universal, bersama-sama diatur.

Prinsip Keadilan Universal

Dari hal paling kecil: Anda tinggal di komplek, ada tetangga muslim dan non-muslim. Nabi menyamakan semua hukumnya—hukum makanan, hukum senyuman. Senyum kepada yang muslim, senyum juga pada non-muslim.

Jangan sampai ketemu tetangga muslim senyum, yang non-muslim tidak senyum. Jangan sampai berkata, “Kok enggak senyum? Soalnya kafir sih.” Itu dicatat malaikat sebagai dosa. Senyum Anda pada orang Islam harus sama dengan senyum pada non-muslim—100% sama.

Di tempat kerja seperti TNI, Polri, pengadilan, atau kantor-kantor pemerintah, tidak semuanya orang Islam. Maka harus adil. Kalau memang yang layak promosi jabatan adalah non-muslim, promosikan. Kalau yang layak muslim, promosikan. Tapi tanamkan nilai-nilai kebaikan dan keadilan.

Sehingga ketika ditanya, mereka berkata, “Terima kasih, Islam yang mengajarkan saya untuk bersikap adil dalam tugas saya.” Ketika itu dilakukan, maka dia kenal Islam. Kalau kemudian memahami dan mengucapkan syahadat, itulah pahala yang melimpah atas amanah kedudukan pada Anda.

Berbagi dengan Tetangga

Rasulullah bersabda dalam hadis: “Siapa yang masak makanan sampai baunya ke tetangga, maka bagilah.”

Jangan hanya membagi ke tetangga muslim saja. Ratakan. Kirimkan ke setiap tetangga yang bisa dibagi—jangan dilewat yang non-muslim. Bagi ke Pak Haji, Bu Haji, Bu Ustaz, tetangga biasa, semua.

Tiba-tiba Pastor keluar dan berkata, “Pak, kayaknya enak rendangnya.” Jangan berkata, “Bapak sih tokoh kafir.” Itu dosa. Seharusnya malah dapat pahala. Datangi dan ketuk rumahnya: “Selamat pagi, ada rezeki nih, ada satu panci rendang.”

“Oh Pak Haji baik sekali!”

“Bukan saya yang baik, Nabi Muhammad yang mengajarkan saya untuk berbagi.”

Kenalkan nama Nabi Muhammad. Besok-besok saat dia mengembalikan panci, sudah bisa salam: “Assalamualaikum Pak Haji.” Dan dia didoakan balik.

Hukum Tanaman yang Merambat

Saya lihat banyak tumbuhan—ada rambutan, durian, dan macam-macam. Dalam Islam berlaku hukum: jika tanaman Anda merambat ke tetangga dan buahnya masuk, maka buahnya adalah haq musytarak (hak bersama dengan tetangga).

Jangan tunggu dia minta. Ketuk pintunya: “Bu, Pak, ada buah saya. Saya tahu pohon rambutan punya Bapak, betul. Tapi buahnya ke tempat Ibu. Jangan tunggu sampai menguning atau memerah. Ibu mau saat hijau pun, ambil saja, tidak usah minta izin.”

“Aturan dari mana, Pak?”

“Nabi Muhammad mengajarkan saya jangan sampai tetangga menikmati dengan pandangan dan menyapu sampahnya saja. Dia mendapatkan bagian yang sama untuk mengambil buahnya.”

Saya menginginkan suasana begini antar umat Islam—internal diperbaiki, hubungan dengan orang-orang sekitar juga dijaga dengan berbuat baik. Jaga itu sampai wafat, karena kita tidak tahu kapan kita pulang.

Pulang dengan Bekal

Mari kita renungkan tentang pulang. Semua orang senang kalau pulang, bukan? Habis Lebaran mau Idul Fitri, mau pulang kampung, senang kan? Saking senangnya kita cari bekal—tiket kereta, bis, bahkan ada yang naik motor bebek dengan bekal segudang.

Ketika ditanya kenapa, dia jawab: “Karena Ustaz, saya senang mau pulang!”

Yang di kampung juga sibuk—cek rumah, sediakan makanan, siapkan sambutan karena ada yang mau pulang. Jadi setiap pulang itu biasanya senang kalau ada bekal. Kalau tidak ada bekal, tidak siap pulang.

Bekal Pulang ke Akhirat

Sekarang saya konfirmasi lagi: kalau malam ini kita pulang (ke akhirat), senang tidak?

Kalau tidak punya bekal, tidak siap pulang. Maka materi yang kita pelajari malam ini, bawa dan terapkan. Tobat dulu malam ini. Dengan tobat, gugur semua dosa insyaallah—kecuali hutang. Hutang tetap harus dibayar. Tobat tidak melunasi utang.

Kisah Tobat di Tengah Jalan

Ada orang yang pernah membunuh 99 orang, bahkan sampai 100 orang. Dia ingin bertobat. Dia datang kepada seorang kiai. Kiai itu berkata, “Kalau yang seperti kamu ini, saya tidak bisa membimbing. Tapi saya referensikan pada kawan saya yang di sana.”

Ini sikap bijak. Tidak ada ustaz yang menguasai segalanya. Kalau bukan pakar di bidangnya, arahkan dan sarankan pada ustaz lain yang menguasai bidangnya.

Maka dia berjalan ke tempat kiai itu. Di tengah-tengah perjalanan, ternyata ajalnya tiba. Dia meninggal di tengah jalan.

Apa yang terjadi? Saking viralnya sampai di era Nabi Muhammad turun ayat (QS. An-Nisa):

“Siapa yang bertekad mengubah dirinya lebih baik, kalau dia masih ada ajal hidupnya, maka oleh Allah akan dilimpahkan ketenangan.”

Jadi kalau mau berubah jadi baik, bukan dunia dulu yang dikasih, bukan materi atau pangkat dulu yang diberikan—tetapi ketenangan di hati oleh Allah supaya menerima kebaikan. Setelah itu baru dilimpahkan kedudukan, ditambahkan harta, ditambahkan ilmu.

Tetapi kalau dia ingin berubah lalu tiba-tiba wafat di pertengahan, maka jalan kakinya itu menggugurkan dosa-dosanya. Tobatnya diterima. Tapak kakinya dihitung sebagai amalan baru.

Maka orang tadi yang pernah membunuh 100 orang, meninggal di pertengahan jalan ke majelis ilmu untuk mengaji. Di tengah-tengah, belum sampai belajar, meninggal. Allah perintahkan: “Catat amalannya untuk menggugurkan dosanya, dan catat tapak pertama kakinya untuk mengantarkan dia ke surga.”

Penutup

Jalan tobat adalah jalan tenang menuju pulang. Mari kita perbaiki diri mulai dari salat yang khusyuk dengan memahami maknanya, berbuat baik kepada sesama tanpa memandang latar belakang, dan mempersiapkan bekal untuk pulang kepada Allah.

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk terus bertobat dan menjadi lebih baik setiap harinya.

Wallahu a’lam bishawab.

Disusun dari Kajian Ustadz Adi Hidayat