Di tengah hiruk-pikuk kota, deru kendaraan, dan riuh manusia, sering kali hati justru terasa sunyi. Kita berada di tengah keramaian, tetapi jiwa seakan berjalan sendiri. Saat itulah muncul pertanyaan paling jujur dalam hidup: siapa sebenarnya kawan bicara kita?

Dalam kesunyian itu, seorang mukmin menemukan jawabannya. Ia sedang berbicara dengan Allah.

Ketika berdiri dalam salat, kita mengucap, “At-tahiyyâtul mubârakâtush shalawâtuth thayyibâtul lillâh.”
Segala penghormatan, keberkahan, salat, dan kebaikan—bukan milik kita. Semua milik Allah. Kita tidak membawa apa-apa. Kita hanya menyerahkan diri sepenuhnya.

Dan ketika kita salat berjamaah di masjid, sering kali kita tidak sadar: bukan hanya kita yang berbicara kepada Allah, tetapi Allah juga sedang berbicara kepada kita—melalui ayat-ayat yang dibaca oleh imam.

“Alam yajidka yatîman fa âwâ.”
Bukankah engkau dahulu seorang yatim, lalu Allah melindungimu?

“Wa wajadaka dhâllan fahadâ.”
Engkau pernah bingung arah hidup, lalu Allah menunjukkan jalan.

“Wa wajadaka ‘âilan fa aghnâ.”
Engkau pernah sempit, fakir, merasa tidak cukup—lalu Allah mencukupkanmu.

Ayat-ayat itu seolah mengetuk hati kita satu per satu. Mengingatkan bahwa hidup kita penuh pertolongan Allah, meski sering kita lupakan.

Hati yang Sempit dan Janji Kelapangan

Mengapa hati terasa sempit?
Karena dendam, marah, kecewa, dan luka yang disimpan terlalu lama.

Namun ketika imam membaca, “Alam nasyrah laka shadrak,”
Allah seakan berbisik: “Bukankah sudah Aku lapangkan dadamu?”

“Wa wada’nâ ‘anka wizrak.”
Bukankah telah Aku angkat beban berat yang menekan pundakmu?

Dan janji itu ditegaskan berulang-ulang:
“Fa inna ma‘al ‘usri yusrâ. Inna ma‘al ‘usri yusrâ.”
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Ayat ini kini bahkan tertulis di belakang truk dan mobil di jalanan. Meski sederhana, ia tetap membawa manfaat. Kita mungkin bukan ustaz, bukan ulama, tetapi setiap tulisan kebaikan bisa menjadi pengingat bagi orang lain.

Jika tak mampu menulis Arab, tulislah dengan huruf latin:
“Di dalam kesulitan ada kemudahan.”
Itu pun sudah bernilai dakwah.

Bekal Kehidupan yang Kekal

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

Mâ akalta fanait.
Apa yang kita makan akan habis—bahkan berubah menjadi penyakit.

Wa mâ labista fa ablait.
Apa yang kita pakai akan usang dan ditinggalkan zaman.

Wa mâ tasaddaqta fa abqait.
Tetapi apa yang kita sedekahkan, wakafkan, dan infakkan—itulah yang kekal abadi.

Rumah besar hanya akan menjadi kenangan. Namun ruang kelas tempat para penghafal Al-Qur’an belajar akan terus mengalirkan pahala. Setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca, setiap doa santri, akan menjadi cahaya bagi kita dan bagi orang tua kita yang telah mendahului.

Betapa indah jika amal jariah itu kita hadiahkan untuk almarhum ayah dan ibu. Kita mendapat pahala, mereka pun mendapat bagian.

Kesendirian yang Menguatkan Iman

Ada masa dalam hidup ketika anak-anak telah berkeluarga, pasangan diuji sakit, dan rumah terasa sunyi. Kita merasa ditinggalkan, dilupakan, dan tidak lagi dibutuhkan.

Namun Allah menenangkan hati melalui firman-Nya:
“Mâ waddaka rabbuka wa mâ qalâ.”
Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.

Jika ingin berbicara kepada Allah—salatlah.
Jika ingin Allah berbicara kepadamu—bacalah Al-Qur’an.

Di sanalah kita sadar: kesendirian bukan hukuman, tetapi ruang untuk kembali mendekat.

Penutup: Sunyi yang Menghidupkan

Sunyi di tengah keramaian bukan tanda kalah. Ia adalah panggilan untuk pulang—pulang kepada Allah.

Selama kita masih mau salat, masih mau membaca Al-Qur’an, masih mau beristigfar, maka rahmat Allah tetap menaungi. Dan selama nama Nabi Muhammad ﷺ masih disebut dalam selawat, umat ini tidak akan pernah benar-benar sendiri.

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang menemukan ketenangan dalam sunyi, kekuatan dalam doa, dan harapan dalam setiap ayat-Nya.

Wallâhu a‘lam bish-shawâb.
Wassalâmu‘alaikum warahmatullâhi wabarakâtuh.