Bismillahirrahmanirrahim. Segala puji bagi Allah Yang Maha Suci, Yang telah memilih Nabi Muhammad ﷺ sebagai khatam al-anbiya (penutup para nabi) dan rahmat bagi seluruh alam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada baginda Rasulullah ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umat yang mengikuti jejak beliau hingga akhir zaman.
Dalam sejarah Islam, setiap peristiwa yang berkaitan dengan kehidupan Rasulullah ﷺ memiliki makna mendalam dan pelajaran berharga bagi umat. Salah satu peristiwa yang penuh khidmat adalah prosesi pemakaman beliau, termasuk ritual pemandian jenazah menggunakan air dari Sumur Gars (بئر غرس)—sebuah sumur yang dipercaya memiliki berkah khusus dan dianggap sebagai salah satu sumur yang airnya berasal dari surga.
Artikel kajian ini akan mengupas secara mendalam tentang sejarah Sumur Gars, prosesi pemakaman Rasulullah ﷺ, serta hikmah dan pelajaran yang dapat kita petik sebagai umat Islam di masa kini.
Sumur Gars: Mutiara Kesucian di Tanah Madinah
Lokasi dan Sejarah Sumur Gars
Sumur Gars (بئر غرس) adalah salah satu sumur bersejarah yang terletak di kota Madinah al-Munawwarah. Lokasinya berada sekitar 1 hingga 1,5 kilometer di sebelah timur laut Masjid Quba, atau sekitar 4 kilometer di selatan Masjid Nabawi. Hingga kini, sumur ini masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu destinasi ziarah penting bagi kaum muslimin yang berkunjung ke Madinah.
Nama “Gars” sendiri merujuk pada nama kebun atau tanah tempat sumur ini berada. Dalam literatur sejarah Islam, sumur ini terkenal karena kesucian airnya yang luar biasa dan keberkahan yang terpancar darinya. Beberapa ulama menyebutkan bahwa air sumur ini memiliki kualitas yang istimewa, bahkan ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah meludahkan air dari mulut beliau ke dalam sumur ini, sehingga airnya menjadi semakin suci dan penuh berkah.
Keistimewaan Air Sumur Gars
Dalam sejumlah riwayat, disebutkan bahwa air Sumur Gars memiliki beberapa keistimewaan:
- Air yang Suci dan Jernih: Air sumur ini dikenal sangat jernih, sejuk, dan tidak berbau, meski telah berusia ratusan tahun.
- Berkah dari Ludah Rasulullah ﷺ: Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah berkumur-kumur lalu meludahkan airnya ke dalam sumur ini, sehingga airnya menjadi penuh berkah.
- Digunakan dalam Prosesi Wafat Rasulullah ﷺ: Keistimewaan terbesar sumur ini adalah penggunaannya untuk memandikan jenazah Nabi Muhammad ﷺ, sesuai dengan wasiat beliau sebelum wafat.
Wafatnya Rasulullah ﷺ: Hari yang Paling Kelam dalam Sejarah Islam
Waktu dan Keadaan Wafat
Rasulullah Muhammad ﷺ wafat pada hari Senin, bulan Rabiul Awal tahun ke-11 Hijriah (bertepatan dengan 632 Masehi). Wafatnya beliau merupakan berita yang amat sangat menggemparkan dan memilukan hati seluruh kaum muslimin pada masa itu.
Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Aku tidak pernah melihat hari yang lebih cerah dan indah daripada hari ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah. Dan aku tidak pernah melihat hari yang lebih gelap dan kelam daripada hari ketika Rasulullah ﷺ wafat.”
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bahkan sempat tidak percaya dan mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ hanya pingsan dan akan kembali. Barulah setelah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu membacakan ayat Al-Qur’an, Umar pun menyadari bahwa Rasulullah ﷺ benar-benar telah berpulang ke Rahmatullah.
Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 144:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ
“Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)?” (QS. Ali Imran: 144)
Prosesi Pemandian Jenazah Rasulullah ﷺ
Persiapan dan Pelaksanaan
Setelah dipastikan bahwa Rasulullah ﷺ telah wafat, para sahabat segera mempersiapkan prosesi pemandian jenazah beliau. Berbeda dengan prosesi pemandian jenazah pada umumnya, jenazah Rasulullah ﷺ dimandikan tanpa melepaskan pakaian dari badan beliau.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ sebelum wafat, bahwa beliau tidak ingin badannya terlihat oleh siapa pun, bahkan oleh keluarga terdekat sekalipun. Ini adalah bentuk kehormatan dan kesucian yang dijaga dengan sangat ketat.
Siapa yang Memandikan Jenazah Rasulullah ﷺ?
Prosesi pemandian jenazah Rasulullah ﷺ dilakukan oleh beberapa orang terdekat beliau, yaitu:
- Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu – sepupu dan menantu Rasulullah ﷺ, yang memimpin prosesi pemandian
- Al-Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu – paman Rasulullah ﷺ
- Al-Fadl bin Abbas radhiyallahu ‘anhu – putra Al-Abbas
- Qutham bin Abbas radhiyallahu ‘anhu – putra Al-Abbas yang lain
- Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu – pemuda yang sangat dicintai Rasulullah ﷺ
- Syuqran radhiyallahu ‘anhu – budak yang dimerdekakan oleh Rasulullah ﷺ
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata setelah selesai memandikan jenazah Rasulullah ﷺ:
“Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, ya Rasulullah! Engkau indah dalam hidup, dan engkau indah dalam kematianmu.”
Air Sumur Gars: Pilihan yang Penuh Makna
Air yang digunakan untuk memandikan jenazah Rasulullah ﷺ berasal dari Sumur Gars. Pemilihan air dari sumur ini bukan tanpa alasan. Beberapa ulama berpendapat bahwa:
- Kesucian air dari sumur ini telah dikenal sejak lama
- Rasulullah ﷺ sendiri yang berwasiat agar dimandikan dengan air dari sumur tersebut
- Sebagai bentuk penghormatan terhadap jasad mulia beliau
Proses pemandian dilakukan dengan penuh khidmat dan penuh air mata. Para sahabat yang hadir merasakan kesedihan yang amat mendalam, namun mereka tetap menjaga kekhusyukan dan kehormatan prosesi tersebut.
Prosesi Pengkafanan dan Penyalatkan Jenazah
Pengkafanan dengan Tiga Helai Kain Putih
Setelah selesai dimandikan, jenazah Rasulullah ﷺ lantas dilapisi dengan kain kafan. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu melapisi jasad beliau dengan tiga helai kain putih berbahan katun (quthun). Tidak ada gamis (baju) dan tidak ada sorban, hanya tiga lembar kain putih yang menutup seluruh tubuh beliau.
Ini sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ dalam mengkafani jenazah, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha:
“Rasulullah ﷺ dikafani dengan tiga helai kain putih dari kain katun Yaman, tidak ada gamis dan tidak ada sorban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Penyalatkan Jenazah secara Bergiliran
Setelah dikafani, jenazah Rasulullah ﷺ diletakkan di atas ranjang di kamar Aisyah radhiyallahu ‘anha—istri beliau yang paling dicintai. Para sahabat dan kaum muslimin kemudian bergantian mensalatkan jenazah beliau tanpa ada imam yang memimpin. Mereka masuk secara bergelombang: laki-laki terlebih dahulu, kemudian perempuan, lalu anak-anak.
Ini adalah penghormatan luar biasa, di mana setiap individu umat Islam pada masa itu diberi kesempatan untuk mensalatkan jenazah Rasulullah ﷺ secara langsung.
Perdebatan Tempat Pemakaman dan Keputusan Akhir
Berbagai Usulan Tempat Pemakaman
Sebelum dimakamkan, terjadi diskusi di antara para sahabat tentang di manakah jenazah Rasulullah ﷺ akan dikebumikan. Beberapa usulan muncul:
- Di Makkah – kota kelahiran beliau dan tempat turunnya wahyu pertama
- Di Baitul Maqdis (Yerusalem) – tempat suci yang penuh berkah
- Di Baqi’ – pemakaman umum kaum muslimin di Madinah
Hadis Abu Bakar ash-Shiddiq yang Menentukan
Ketika perdebatan berlangsung, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bangkit dan berkata:
“Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Tidak ada seorang nabi pun yang wafat kecuali ia dikubur di tempat di mana ia dicabut nyawanya.'”
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu membenarkan kesaksian Abu Bakar mengenai hadis tersebut. Maka, seluruh sahabat bersepakat bahwa jenazah Rasulullah ﷺ akan dikubur di tempat beliau menghembuskan napas terakhir, yaitu di kamar Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Proses Penguburan: Khidmat dan Penuh Kesedihan
Penggalian Liang Lahad
Abu Thalhah Zaid bin Sahl al-Anshari radhiyallahu ‘anhu ditugaskan untuk menggali tanah tepat di bawah ranjang Rasulullah ﷺ yang terdapat di kamar Aisyah. Penggalian dilakukan dengan sangat hati-hati dan penuh kehormatan.
Penurunan Jenazah ke Liang Lahad
Ada empat orang lelaki yang memasukkan jasad mulia Rasulullah ﷺ ke dalam liang lahad, yaitu:
- Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu
- Al-Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu
- Al-Fadl bin Abbas radhiyallahu ‘anhu
- Qutham bin Abbas radhiyallahu ‘anhu
Semua makhluk Allah Ta’ala yang menyaksikan pemandangan itu teramat berduka. Manusia agung yang sangat dicintai telah meninggalkan dunia yang fana ini. Langit dan bumi seakan ikut berduka.
Penutupan dan Penyiraman Kubur
Setelah jenazah Rasulullah ﷺ dimasukkan ke dalam liang lahad, kubur beliau kemudian ditimbun dengan tanah. Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu—muazin kesayangan Rasulullah ﷺ—memercikkan air dari bejana gerba ke atas kuburan tersebut sebagai bentuk penyucian.
Dari arah kepala, beliau kemudian menaburi makam Nabi Muhammad ﷺ dengan batu-batu kerikil yang diperolehnya dari halaman rumah beliau. Terakhir, kubur beliau ditinggikan sedikit, sekira satu jengkal dari permukaan tanah, sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ.
Sumur Gars di Masa Kini: Destinasi Ziarah Penuh Berkah
Kondisi Sumur Saat Ini
Hingga saat ini, Sumur Gars masih berdiri dengan kokoh di Madinah al-Munawwarah. Sumur ini telah mengalami beberapa renovasi untuk menjaga kelestariannya, namun esensi dan kesuciannya tetap terjaga. Air sumur masih mengalir jernih, dan banyak kaum muslimin yang datang untuk berziarah dan mengambil berkah dari air tersebut.
Ziarah dan Hikmahnya
Sumur Gars selalu ramai diziarahi oleh kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia, terutama mereka yang sedang menunaikan ibadah haji atau umrah. Berziarah ke sumur ini bukan berarti menyembahnya atau menganggapnya sebagai sesembahan—namun sebagai bentuk mengenang sejarah Islam dan mengambil pelajaran dari kesucian serta kesederhanaan Rasulullah ﷺ.
Ziarah ke tempat-tempat bersejarah seperti Sumur Gars memiliki beberapa hikmah:
- Menambah kecintaan kepada Rasulullah ﷺ dengan mengenang jejak-jejak beliau
- Meningkatkan penghayatan terhadap sejarah Islam yang penuh pelajaran
- Memperkuat iman dan ketakwaan melalui perenungan atas pengorbanan para sahabat
- Mengingatkan kita akan kematian dan pentingnya persiapan menuju akhirat
Pelajaran dan Hikmah dari Prosesi Pemakaman Rasulullah ﷺ
1. Kesederhanaan dalam Kematian
Meski Rasulullah ﷺ adalah pemimpin umat, nabi terakhir, dan manusia paling mulia, beliau dimakamkan dengan sangat sederhana. Tidak ada kemegahan, tidak ada upacara yang berlebihan. Ini mengajarkan kita bahwa kesederhanaan adalah nilai luhur yang harus dijaga hingga akhir hayat.
2. Kehormatan Jenazah
Prosesi pemandian jenazah Rasulullah ﷺ dilakukan dengan sangat hati-hati dan penuh kehormatan. Bahkan pakaian beliau tidak dibuka, sebagai bentuk menjaga kehormatan jasad beliau. Ini mengajarkan kita untuk selalu menghormati jenazah, baik itu jenazah keluarga, sahabat, maupun orang lain.
3. Pentingnya Ilmu dan Rujukan Hadis
Ketika terjadi perbedaan pendapat tentang tempat pemakaman, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu merujuk kepada hadis Rasulullah ﷺ. Ini mengajarkan kita pentingnya ilmu dan merujuk kepada dalil syar’i dalam setiap keputusan.
4. Kematian adalah Keniscayaan
Wafatnya Rasulullah ﷺ mengingatkan kita bahwa kematian adalah takdir yang pasti bagi setiap makhluk. Tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk manusia semulia Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan diri dengan amal saleh.
Allah Ta’ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap jiwa akan merasakan kematian.” (QS. Ali Imran: 185)
Penutup
Sumur Gars adalah salah satu jejak bersejarah yang mengingatkan kita akan kesucian, kesederhanaan, dan kehormatan Rasulullah Muhammad ﷺ. Air dari sumur inilah yang digunakan untuk memandikan jenazah beliau—prosesi yang dilakukan dengan penuh khidmat oleh para sahabat terbaik.
Semoga dengan mengenang sejarah ini, kita semakin mencintai Rasulullah ﷺ, meneladani akhlak beliau, dan mempersiapkan diri untuk menghadap Allah Ta’ala dengan penuh keimanan dan amal saleh.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Wallahu a’lam bishawab.
[Kajian ini disusun berdasarkan literatur sejarah Islam, kitab-kitab hadis, dan sirah nabawiyyah yang sahih. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah bagi penulis dan pembaca. Aamiin.]


Tinggalkan Balasan