Di masa Rasulullah ﷺ, hiduplah seorang pemuda dari Yaman yang sederhana, miskin, dan hampir tak dikenal manusia. Ia bernama Uwais Al-Qarni. Meski namanya asing di telinga penduduk bumi, namanya justru sangat masyhur di langit.

Uwais adalah seorang pemuda berparas rupawan, bermata biru dan berambut kemerahan. Pakaian yang ia miliki hanya dua helai yang sudah lusuh. Ia sering menangis saat membaca Al-Qur’an dan tak pernah lalai dalam ibadah. Siang harinya ia berpuasa, malamnya ia habiskan untuk shalat dan bermunajat kepada Allah.

Namun karena kemiskinannya, banyak orang meremehkannya. Ia sering diejek, dihina, bahkan dituduh sebagai pencuri. Tak seorang pun menyangka bahwa pemuda yang dianggap remeh itu adalah kekasih langit.

Hidup untuk Mengabdi kepada Ibu

Uwais telah lama yatim dan hanya hidup bersama ibunya yang sudah tua dan lumpuh. Ia bekerja sebagai penggembala kambing. Upahnya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Jika ada kelebihan, ia berikan kepada tetangganya yang lebih membutuhkan.

Ibunya adalah segalanya bagi Uwais. Ia merawatnya dengan penuh kasih dan ketaatan. Suatu hari, sang ibu menyampaikan keinginannya yang sangat besar: menunaikan ibadah haji ke Baitullah.

Keinginan itu membuat Uwais terdiam. Ia miskin, tak memiliki kendaraan, dan perjalanan dari Yaman ke Makkah sangat jauh dan berat. Orang-orang biasanya menempuhnya dengan unta dan perbekalan yang cukup. Tapi cinta Uwais kepada ibunya tak mengenal kata mustahil.

Latihan yang Mengundang Ejekan

Uwais membeli seekor anak sapi dengan harga murah. Setiap hari, ia menggendong anak sapi itu naik turun bukit di dekat rumahnya. Orang-orang menertawakannya dan menganggapnya gila.

Hari demi hari berlalu. Anak sapi itu semakin besar, dan kekuatan Uwais pun semakin terlatih. Delapan bulan kemudian, tibalah musim haji. Kini orang-orang baru menyadari maksud Uwais yang sebenarnya: ia melatih diri untuk menggendong ibunya menuju Makkah.

Dengan penuh keteguhan, Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman hingga ke Baitullah. Subhanallah, betapa besar baktinya kepada sang ibu.

Doa yang Tulus di Tanah Suci

Saat wukuf di Makkah, sang ibu menangis haru. Ia berdoa agar Allah mengampuni seluruh dosa anaknya.

Namun Uwais berkata dengan lembut,
“Wahai Ibu, jika engkau diridhai Allah dan masuk surga, itu sudah cukup bagiku. Ridhamu adalah jalanku menuju surga.”

Karena ketulusan itu, Allah menyembuhkan Uwais dari penyakit kulit yang telah lama ia derita. Hanya tersisa satu tanda putih di lehernya—tanda yang kelak disebutkan Rasulullah ﷺ.

Rindu Bertemu Rasulullah ﷺ

Uwais telah memeluk Islam meski belum pernah bertemu Rasulullah ﷺ. Ia sangat merindukan untuk bertemu langsung dengan Nabi Muhammad ﷺ, namun selalu tertahan oleh baktinya kepada sang ibu.

Suatu ketika, ia meminta izin kepada ibunya untuk pergi ke Madinah. Dengan berat hati, sang ibu mengizinkan, namun berpesan agar Uwais segera kembali.

Setelah menempuh perjalanan jauh, Uwais tiba di Madinah dan mendatangi rumah Rasulullah ﷺ. Sayangnya, Nabi sedang berada di medan perang. Uwais ingin menunggu, namun ia teringat pesan ibunya. Maka dengan hati berat, ia kembali ke Yaman tanpa sempat bertemu Rasulullah ﷺ.

Uwais, Penghuni Langit

Ketika Rasulullah ﷺ pulang, beliau bertanya tentang seorang tamu yang mencarinya. Setelah mendengar penjelasan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Uwais Al-Qarni adalah seorang yang taat kepada ibunya dan merupakan penghuni langit.

Beliau berpesan kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma,
“Jika kalian bertemu Uwais Al-Qarni, mintalah doa dan istighfarnya.”

Pertemuan dengan Umar dan Ali

Tahun-tahun berlalu. Umar menjadi khalifah. Ia dan Ali selalu mencari Uwais setiap kali rombongan dari Yaman datang. Hingga suatu hari, mereka menemukannya sedang menjaga unta.

Setelah memastikan tanda putih di tubuhnya, Umar dan Ali meminta Uwais mendoakan mereka. Dengan rendah hati, Uwais merasa tidak pantas, namun akhirnya ia berdoa untuk mereka.

Umar hendak memberinya harta dari Baitul Mal, namun Uwais menolaknya. Ia hanya ingin tetap menjadi hamba yang tidak dikenal manusia.

Wafatnya yang Menggetarkan

Ketika Uwais wafat di Yaman, terjadi peristiwa yang mengherankan. Banyak orang tak dikenal datang untuk memandikan, mengkafani, dan menguburkannya. Bahkan liang lahatnya telah siap sebelum digali penduduk setempat.

Orang-orang Yaman terperangah. Siapakah sebenarnya Uwais Al-Qarni? Pemuda miskin yang mereka kenal ternyata adalah kekasih Allah, terkenal di langit meski tersembunyi di bumi.

Pelajaran Berharga

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang tua adalah sebab engkau masuk surga atau neraka.”
(HR. Ibnu Majah)

Kisah Uwais Al-Qarni mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan sejati bukanlah popularitas, melainkan keikhlasan, ketaatan kepada Allah, dan bakti kepada orang tua.

Semoga kisah ini menjadi pelajaran dan inspirasi bagi kita semua.