PUNGGAWANEWS, Penting bagi setiap Muslim untuk selalu introspeksi diri dan menjauhi segala bentuk kesombongan atau keangkuhan. Dalam ceramah yang disampaikan di Masjid Islamic Centre Tanassang Sinjai, Ustadz Abdul Somad (UAS) menekankan tiga pilar utama yang harus kita pegang teguh untuk menjaga hati dan amalan kita: mengembalikan segala sesuatu kepada Allah, menjaga silaturahim dan persatuan, serta berinvestasi pada pendidikan Islam dan doa.

1. Menjauhi Sombong dengan Mengembalikan Segalanya kepada Allah

Sifat sombong timbul ketika seseorang melupakan Allah sebagai sumber dari segala nikmat dan kelebihan yang dimiliki. Ustadz Abdul Somad mengingatkan, ketika seseorang dipuji karena keindahan anaknya, ia sering kali lupa dan menjawab dengan bangga, “Siapa dulu mamanya?” Padahal, semua itu adalah pemberian Allah.

“Supaya enggak sombong, cepat kembalikan kepada Allah.”

Allah selalu disebut dalam kehidupan kita, terutama melalui panggilan salat lima waktu: fajar, zuhur, asar, magrib, dan isya. Ini adalah pengingat konstan bahwa segala kekuasaan dan kebesaran hanyalah milik-Nya.

  • Saat Senang: Ucapkan Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah).
  • Saat Susah: Ucapkan Innalillah (Sesungguhnya kami milik Allah).
  • Saat Mendapat Nikmat: Ucapkan Masyaallah Tabarakallah (Apa yang dikehendaki Allah, Maha Berkah Allah).
  • Inti dari Semua Keadaan: Ucapkan La Haula Wala Quwwata Illa Billah (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).

Jika ada orang yang selalu berkata “karena saya, karena saya, karena saya,” UAS mengingatkan bahwa sifat ini identik dengan setan, Firaun, Abu Lahab, dan orang yang terlalu membanggakan diri sendiri.

Hakikat Diri: Semua Diciptakan dari Tanah

Untuk menghilangkan keangkuhan, kita harus ingat asal-usul kita. Semua manusia, dari orang yang paling dimuliakan hingga yang biasa, diciptakan dari tanah.

“Abdul Somad yang tinggi, Abdul Somad yang diberi mikrofon untuk ngomong… tapi Abdul Somad diciptakan dari tanah.”

  • Tanah Timbun: Sifatnya ingin selalu di atas (sombong).
  • Tanah Liat: Sifatnya susah bayar utang (tidak mau berusaha).
  • Tanah Sengketa: Sifatnya ingin berkelahi saja (penuh perselisihan).

Ingatlah, derajat kemuliaan di mata manusia tidak menjamin kemuliaan di hadapan Allah. Boleh jadi orang yang paling belakang, yang duduk di lantai, lebih dulu masuk surga daripada yang berada di atas mimbar.


2. Jaga Silaturahim dan Investasi Kekal

Pentingnya Silaturahim dan Persatuan

Persaudaraan yang sejati adalah persaudaraan karena Allah. Persaudaraan karena jabatan akan hilang ketika jabatan melayang. Persaudaraan karena harta akan sirna ketika harta binasa. Namun, persaudaraan karena Allah akan kekal abadi, di dunia, dan di surga.

UAS menekankan pentingnya menjaga persatuan:

“Menang jadi arang, kalah jadi abu.”

Berperang atau berselisih tidak ada gunanya, karena hasilnya hanya sisa yang tidak bermakna. Ibaratnya cahaya lampu yang terang karena di luar gelap, seseorang menjadi hebat karena ada orang lain yang mendukungnya. Semua yang hadir dan mendukung acara dakwah ini memiliki andil, meskipun tidak disebutkan namanya. Boleh jadi amal mereka yang ikhlas, karena tidak dilihat orang, lebih banyak daripada amalan yang tampil dan hilang karena riya (pamer) atau sum’ah (ingin didengar).

Investasi yang Kekal

Ketika kita kembali kepada Allah, hanya tiga amalan yang akan kekal:

  1. Makanan yang dimakan (akan menjadi kolesterol, diabetes, dll.).
  2. Pakaian yang dipakai (akan busuk dan ketinggalan zaman).
  3. Yang diwakafkan/disedekahkan (itulah yang akan kekal abadi).

Wujudkan amal jariah sebelum ajal menjemput. Sebagaimana Jenderal Muhammad Yusuf yang pensiun dan membangun Almarkaz Al-Islami, kita juga harus menyiapkan bekal. Bagi yang tidak memiliki kekayaan atau jabatan tinggi, Allah membuka pintu amal jariah melalui Hamil, melahirkan, dan mendidik anak-anak menjadi generasi saleh dan salihah.

3. Pendidikan Islam dan Kekuatan Doa

Mempersiapkan Generasi Penerus Dakwah

UAS menekankan bahwa kita adalah masa lalu. Yang akan menjamin tegaknya dakwah hingga puluhan tahun ke depan adalah anak-anak muda.

“Yang akan melanjutkan tongkat estafet dakwah itulah dia anak-anakku yang pakai sorban dan pakai jubah.”

Kita wajib memasukkan anak ke lembaga pendidikan Islam yang seimbang, tidak hanya mengajarkan tafsir dan hadis, tetapi juga fisika, kimia, biologi, dan matematika. Anak pesantren harus bisa menjadi tentara, polisi, hakim, pengacara, dan pebisnis. Ini adalah cara untuk membangkitkan harkat dan martabat Islam.

UAS juga mengajak para hartawan di Sinjai untuk mewakafkan tanah mereka kepada Badan Wakaf Indonesia (BWI) untuk pembangunan pesantren, tempat para santri belajar dan menghafal Al-Qur’an.

Senjata Terbaik Seorang Mukmin

Kunci terakhir adalah doa. Orang yang tidak bisa ke Baitullah bisa membangunkan malamnya untuk salat hajat, memohon kepada Allah agar anak-anaknya selamat dari narkoba, LGBT, pacaran, dan maksiat.

Ad-dua’u Silaahul Mukmin – Doa adalah senjatanya orang beriman.

UAS menceritakan bagaimana ibunya mendoakannya setiap malam dengan membaca Al-Fatihah 100 kali. Doa orang tua adalah alasan utama keberkahan dan kesehatan seorang anak.

  • Panggil Anak dengan Baik: Jangan panggil anak dengan kata-kata buruk (misalnya “setan”), tetapi panggil dengan doa: “Sini wahai calon DPR RI,” atau “Sini wahai calon Bupati Sinjai.”
  • Tiupkan Doa: Bacakan Al-Fatihah dan tiupkan ke kepala atau usapkan ke badan anak yang sedang tidur, memohon agar Allah menjaganya.

Dengan memegang teguh tiga pilar ini—Mengembalikan kepada Allah, Menjaga Silaturahim, dan Mendukung Pendidikan serta Doa—kita berharap Allah menjadikan Sinjai, Sulawesi Selatan, dan seluruh Indonesia sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur (negeri yang baik dengan Tuhan yang Maha Pengampun).