3. Pendidikan Islam dan Kekuatan Doa

Mempersiapkan Generasi Penerus Dakwah

UAS menekankan bahwa kita adalah masa lalu. Yang akan menjamin tegaknya dakwah hingga puluhan tahun ke depan adalah anak-anak muda.

“Yang akan melanjutkan tongkat estafet dakwah itulah dia anak-anakku yang pakai sorban dan pakai jubah.”

Kita wajib memasukkan anak ke lembaga pendidikan Islam yang seimbang, tidak hanya mengajarkan tafsir dan hadis, tetapi juga fisika, kimia, biologi, dan matematika. Anak pesantren harus bisa menjadi tentara, polisi, hakim, pengacara, dan pebisnis. Ini adalah cara untuk membangkitkan harkat dan martabat Islam.

UAS juga mengajak para hartawan di Sinjai untuk mewakafkan tanah mereka kepada Badan Wakaf Indonesia (BWI) untuk pembangunan pesantren, tempat para santri belajar dan menghafal Al-Qur’an.

Senjata Terbaik Seorang Mukmin

Kunci terakhir adalah doa. Orang yang tidak bisa ke Baitullah bisa membangunkan malamnya untuk salat hajat, memohon kepada Allah agar anak-anaknya selamat dari narkoba, LGBT, pacaran, dan maksiat.

Ad-dua’u Silaahul Mukmin – Doa adalah senjatanya orang beriman.

UAS menceritakan bagaimana ibunya mendoakannya setiap malam dengan membaca Al-Fatihah 100 kali. Doa orang tua adalah alasan utama keberkahan dan kesehatan seorang anak.

  • Panggil Anak dengan Baik: Jangan panggil anak dengan kata-kata buruk (misalnya “setan”), tetapi panggil dengan doa: “Sini wahai calon DPR RI,” atau “Sini wahai calon Bupati Sinjai.”
  • Tiupkan Doa: Bacakan Al-Fatihah dan tiupkan ke kepala atau usapkan ke badan anak yang sedang tidur, memohon agar Allah menjaganya.

Dengan memegang teguh tiga pilar ini—Mengembalikan kepada Allah, Menjaga Silaturahim, dan Mendukung Pendidikan serta Doa—kita berharap Allah menjadikan Sinjai, Sulawesi Selatan, dan seluruh Indonesia sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur (negeri yang baik dengan Tuhan yang Maha Pengampun).