Seringkali, kita menyematkan harapan ketenangan pada capaian-capaian duniawi. Dalam benak banyak orang, ketenangan hidup baru akan diraih jika semua kebutuhan material terpenuhi, jika posisi sosial berada di puncak, atau jika status hubungan sempurna. Namun, melalui kajian singkat ini, Ustaz Hilman Fauzi membongkar mitos tersebut dan memberikan pemahaman yang lurus mengenai hakikat ketenangan.

Ketenangan Bukanlah Simbol Status Dunia

Ustaz Hilman Fauzi menegaskan dengan lugas bahwa ketenangan sejati tidak diukur oleh barometer duniawi.

  1. Bukan karena harta yang banyak: Realitas menunjukkan bahwa banyak orang kaya justru hidup dalam kegelisahan yang mendalam. Sebaliknya, orang miskin pun bisa merasakan kegelisahan, bahkan Ustaz Hilman mengisyaratkan bahwa jumlah orang yang gelisah dari kedua kelompok ini terbilang banyak.
  2. Bukan karena punya jabatan tinggi: Kekuasaan dan jabatan tidak menjamin kedamaian batin. Tingginya posisi seringkali dibarengi dengan tingginya tekanan dan tanggung jawab, yang justru bisa memicu kegelisahan.
  3. Bukan karena terkenal atau populer: Popularitas, alih-alih memberikan ketenangan, seringkali merenggut privasi dan menjadi beban tersendiri.
  4. Bukan karena punya pasangan atau tidak punya pasangan: Hubungan romantis, baik yang sudah terjalin dalam pernikahan maupun yang belum, terbukti bukanlah penjamin ketenangan. Baik yang berpasangan maupun yang sendirian, keduanya sama-sama berpotensi merasakan kegelisahan.

Dari semua fakta ini, jelaslah bahwa ukuran ketenangan bukanlah pada harta, pasangan, atau segala atribut duniawi yang kita miliki. Segala yang sifatnya materi dan fana tidak mampu mengisi kekosongan spiritual dalam hati manusia.

Rumus Pasti Ketenangan Sejati

Jika bukan karena faktor-faktor duniawi tersebut, lantas apa kunci sebenarnya?

Ustaz Hilman Fauzi memberikan jawaban yang sangat ringkas, namun mendalam: “Tenang itu saat kita dekat sama Allah.”

Inilah Rumus (00:51) yang pasti dan tak terbantahkan. Ketenangan sejati (sakinah) adalah anugerah Ilahi yang diturunkan ke dalam hati hamba yang membangun kedekatan dan hubungan yang tulus dengan Penciptanya.

Ketika hati sudah terpaut erat dengan Allah, maka gejolak duniawi—seperti kekurangan harta, masalah pekerjaan, atau kesulitan dalam hubungan—tidak akan mampu menggoyahkan pondasi kedamaiannya. Hati yang dekat dengan Allah akan selalu ingat firman-Nya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Penutup: Mari Dekati Sumber Ketenangan

Marilah kita jadikan momen kajian subuh ini sebagai pengingat untuk meluruskan orientasi hidup. Hentikan pencarian ketenangan pada hal-hal yang fana. Fokuskan energi kita untuk memperkuat ibadah, memperdalam ilmu, dan memperbanyak zikir, karena hanya dengan mendekat kepada Allah kita akan menemukan ketenangan yang abadi, yang tidak akan terenggut oleh terpaan badai kehidupan manapun.

Oleh: Ustaz Hilman Fauzi