Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jamaah yang dirahmati Allah, di pagi yang penuh berkah ini, marilah kita merenungkan kisah agung dari salah satu pasangan terbaik yang pernah ada dalam sejarah Islam: Sayyidah Ruqayyah radhiyallahu anha, putri tercinta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, sosok yang bahkan para malaikat pun merasa malu di hadapannya.

Pasangan mulia ini dikenang karena keteguhan dan pengorbanan mereka, mencatatkan sejarah sebagai pelaku dua kali hijrah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sayyidah Ruqayyah radhiyallahu anha lahir di Mekah dalam kehangatan rumah tangga Rasulullah dan Sayyidah Khadijah. Nama Ruqayyah sendiri memiliki arti yang indah: “yang naik, mempengaruhi, dan memberi inspirasi.”

Beliau tumbuh dalam asuhan seorang ibu yang bijaksana, Sayyidah Khadijah radhiyallahu anha, dan dari ayahnya, Rasulullah SAW, beliau belajar tentang cinta, rasa hormat, dan kasih sayang yang tiada tara.

Ujian Pertama: Pernikahan yang Dipaksakan

Sebelum masa kenabian, Ruqayyah bersama adiknya, Ummu Kultsum, dilamar oleh putra-putra Abu Lahab, yaitu Utbah dan Utaibah. Lamaran ini didorong oleh paman Nabi, Abu Lahab, dan istrinya, Ummu Jamil, yang ingin mempererat hubungan keluarga.

Rasulullah SAW menghargai silaturahmi, namun beliau tidak pernah tergesa-gesa menerima lamaran tanpa bermusyawarah dengan putri-putrinya. Meskipun Khadijah dan putri-putri beliau mengetahui sifat buruk Ummu Jamil, pernikahan ini tetap dilangsungkan demi menjaga keharmonisan keluarga.

Perceraian yang Menjadi Rahmat

Setelah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama dan berdakwah, Islam berkembang pesat. Para pemuka Quraisy merasa terancam dan menyusun siasat licik.

Ketika turun Surah Al-Lahab yang mengutuk Abu Lahab dan istrinya, kemarahan Abu Lahab memuncak. Ia memaksa kedua putranya, Utbah dan Utaibah, untuk menceraikan putri-putri Nabi, mengancam akan memutuskan hubungan selamanya.

Namun dengan rahmat-Nya yang tak terbatas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan Sayyidah Ruqayyah dan Ummu Kultsum dari keluarga yang penuh keburukan. Mereka kembali ke rumah ayah mereka yang penuh cinta.

Menanggapi perpisahan ini, Rasulullah SAW bersabda dengan penuh keyakinan: “Karena Tuhanku telah memerintahkan bahwa putri-putriku hanya akan menikah dengan orang-orang yang termasuk penghuni surga.”

Beberapa bulan setelah perpisahan itu, kesabaran Sayyidah Ruqayyah radhiyallahu anha dibalas Allah dengan takdir yang indah: beliau dipertemukan dengan Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu anhu.

Siapakah Utsman bin Affan? Beliau adalah salah satu dari delapan orang pertama yang memeluk Islam (As-Sabiqunal Awwalun), sosok yang sangat dermawan, berasal dari keluarga terhormat Bani Umayyah, dan termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga (Al-Asharatul Mubasysyarun bil Jannah).

Rasulullah SAW sendiri yang mengatur pernikahan suci ini, mendoakan berkah bagi rumah tangga mereka. Penyatuan ini semakin memicu amarah kaum musyrik, karena rencana jahat mereka untuk menyakiti Nabi justru mendatangkan kebahagiaan yang jauh lebih besar.

Tekanan dan penyiksaan terhadap kaum Muslimin di Mekah semakin tak tertahankan. Mereka disiksa, dihina, dan diusir hanya karena mengucapkan kalimat tauhid. Akhirnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi izin untuk berhijrah.

Hijrah Pertama: Ke Habasyah (Ethiopia)

Sayyidina Utsman dan Sayyidah Ruqayyah radhiyallahu anhuma mencatat sejarah sebagai pelaku hijrah pertama dalam Islam menuju Habasyah (sekitar tahun 615 Masehi).

Bayangkan, jamaah sekalian, pasangan muda ini meninggalkan tanah kelahiran, keluarga, harta, dan yang paling berat—meninggalkan Rasulullah SAW—demi mencari keamanan dan kebebasan beribadah di bawah kepemimpinan Raja Najashi yang adil.

Rasulullah SAW memohon kepada Allah dengan penuh kasih: “Ya Allah, semoga Engkau menjadi pelindung dan penolong mereka. Sungguh Utsman bin Affan adalah orang pertama setelah Nabi Luth alaihi salam yang berhijrah bersama keluarganya demi Allah.”

Hijrah Kedua: Ke Madinah

Setelah beberapa tahun di Habasyah, mereka kembali ke Mekah dengan harapan situasi telah membaik. Namun, penyiksaan terhadap kaum Muslimin belum juga berhenti.

Ketika Allah mengizinkan hijrah ke Madinah, pasangan ini sekali lagi membuktikan keteguhan iman mereka. Mereka berhijrah bersama Rasulullah SAW menuju Madinah, kota yang akan menjadi tempat lahirnya peradaban Islam.

Di Madinah, Sayyidah Ruqayyah melahirkan putra yang diberi nama Abdullah. Kehadiran Abdullah menjadi penghibur atas segala kesulitan dan kehilangan yang mereka alami selama dua kali hijrah.

Madinah yang membawa ketenangan, ternyata juga menjadi tempat ujian terberat bagi Sayyidah Ruqayyah radhiyallahu anha.

Kehilangan Anak: Putra beliau yang sangat dicintai, Abdullah, meninggal dunia di usia belia akibat penyakit. Ujian kehilangan buah hati ini sangat memukul Ruqayyah, membuat tubuhnya semakin lemah dan rapuh.

Perang Badar: Ketika persiapan Perang Badar—pertempuran paling penting dalam sejarah Islam—dimulai, Sayyidah Ruqayyah jatuh sakit parah. Rasulullah SAW memerintahkan Sayyidina Utsman RA untuk tidak ikut berperang dan tetap tinggal di Madinah merawat istrinya yang sedang sakit keras.

Ini adalah keputusan yang sangat berat. Di satu sisi, Perang Badar adalah panggilan jihad yang paling mulia. Di sisi lain, istri tercinta sedang dalam keadaan kritis. Namun Utsman radhiyallahu anhu memilih ketaatan kepada Rasulullah dan menunjukkan kesetiaan luar biasa kepada istrinya.

Wafat yang Mengharukan: Sayyidah Ruqayyah radhiyallahu anha berpulang ke rahmatullah tepat saat kabar kemenangan Perang Badar baru saja tiba di Madinah. Beliau adalah putri pertama Rasulullah SAW yang wafat, di usia yang masih sangat muda, sekitar 22-23 tahun.

Setelah wafatnya Ruqayyah radhiyallahu anha, Rasulullah SAW menikahkan Utsman RA dengan adik Ruqayyah, yaitu Sayyidah Ummu Kultsum radhiyallahu anha.

Inilah sebabnya Sayyidina Utsman radhiyallahu anhu digelari Dzu Nurain (Pemilik Dua Cahaya), karena mendapat kehormatan luar biasa menikahi dua putri Rasulullah SAW. Tidak ada seorang pun dalam sejarah Islam yang mendapat kehormatan seperti ini kecuali Utsman bin Affan.

Jamaah yang dimuliakan Allah, kisah pasangan dua hijrah ini mengajarkan kita tentang:

1. Kepercayaan Penuh kepada Allah Mereka rela meninggalkan segalanya—harta, keluarga, tanah air—demi menjaga iman dan ketaatan kepada Allah. Ini adalah bukti nyata dari tawakal yang sempurna.

2. Kesabaran dalam Menghadapi Ujian Ruqayyah radhiyallahu anha menghadapi perceraian yang memalukan, dua kali hijrah yang melelahkan, dan kehilangan dua orang yang paling dicintai (putranya dan kemudian nyawanya sendiri) dengan keteguhan hati seorang mukminah sejati.

3. Kesetiaan Pasangan Utsman radhiyallahu anhu menunjukkan kesetiaan luar biasa, memilih merawat istri yang sakit daripada bergabung dalam pertempuran paling penting dalam sejarah Islam. Ini adalah teladan bagi setiap suami tentang bagaimana menempatkan prioritas dengan bijaksana.

4. Ketaatan kepada Rasulullah Meskipun berat, Utsman menerima perintah untuk tidak ikut Perang Badar dengan lapang dada. Namun Allah tetap mencatat beliau sebagai peserta Badar dan memberinya pahala yang sama.

5. Ridha dalam Takdir Allah Setiap ujian yang menimpa pasangan ini mereka hadapi dengan kesabaran dan keyakinan bahwa Allah memiliki rencana yang lebih baik.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridai Sayyidah Ruqayyah dan Sayyidina Utsman, membalas pengorbanan mereka dengan sebaik-baik balasan. Semoga kita semua dapat meneladani kesabaran, keteguhan iman, dan kesetiaan mereka dalam menjalani kehidupan ini.

Ya Allah, kumpulkanlah kami bersama mereka di surga-Mu yang penuh kenikmatan. Ya Allah, kuatkanlah iman kami sebagaimana Engkau menguatkan iman pasangan dua hijrah ini. Ya Allah, berikanlah kepada kami pasangan yang saling menguatkan dalam ketaatan kepada-Mu.

Amin Ya Rabbal Alamin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


📚 Disusun untuk Kajian Subuh
Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah bagi kita semua