Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Teman-teman sekalian, hari ini kita akan membahas sebuah amalan penting namun sering terlupakan karena kesibukan atau sifat terburu-buru, yaitu doa-doa utama yang dibaca setelah salat (pasca salat). Amalan ini sangat ditekankan oleh Nabi Muhammad ﷺ, bahkan beliau mengajarkannya kepada sahabat tercinta, Muadz bin Jabal, dengan kalimat penuh kasih: “Karena cintaku padamu, ya Muadz.”
Ini menunjukkan bahwa doa pasca salat adalah perhatian terbaik dari seorang sahabat sejati kepada sahabatnya, yang diukur bukan dari status sosial, melainkan dari upaya mendekatkan sahabat itu kepada Allah SWT.
📚 Sumber dan Referensi Utama
Kajian ini bersumber dari beberapa referensi kitab hadis dan syarah (penjelasan), yaitu:
- Fathul Bari fi Syarah Sahih Al-Bukhari: Kitab monumental yang ditulis oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani (seorang Hafiz yang hafal 100.000 hadis dengan sanadnya) yang menjelaskan kandungan hadis-hadis dalam Sahih Al-Bukhari.
- Sahih Al-Bukhari (Al-Jami’ As-Sahih Al-Musnad Al-Mukhtasar min Umuri Rasulillah SAW wa Sunanihi wa Ayyamih): Kitab hadis tematik yang menghimpun hadis berdasarkan tema kehidupan, yang di dalamnya terdapat pembahasan spesifik tentang Kitab Ad-Du’a (persoalan doa).
- Periwayat Lain: Hadis ini juga dikutip dan ditampilkan oleh Imam At-Tirmidzi, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Daud, dan Imam An-Nasai.
Sanad (Rantai Periwayatan): Keunggulan ajaran Islam adalah adanya sanad, yaitu referensi yang tersambung pada sumber primernya. Sanad ini memproteksi dan menjaga ajaran agama tetap orisinal. Sebagaimana kata para ulama, “Kalaulah tidak ada sanad, semua orang nanti bisa berpendapat sesuai dengan seleranya.”
🤲 Doa Utama Pasca Shalat
Hadis tentang doa ini diriwayatkan oleh sahabat Muadz bin Jabal radhiyallahu ta’ala anhu. Para ulama ber-ijma’ (sepakat) bahwa yang dimaksud dengan “setiap selesai salat” *(fi kulli dubur shalah) adalah setelah salam (ba’da as-salam).
Doa yang diajarkan Nabi ﷺ adalah:
$$\text{اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ}$$
Transliterasi:
Allahumma a’innī ‘alā dzikrika wa shukrika wa husni ‘ibādatik.
Arti:
“Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, dan bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.”
Doa ini memohon 3 hal utama kepada Allah:
1. Memohon Kemampuan Berzikir (Mengingat Allah)
- A’innī ‘alā dzikrika: “Tolonglah aku untuk senantiasa mengingat-Mu.”
- Hakikat Zikir: Zikir adalah kondisi selalu terhubung (terkoneksi) dengan Allah SWT.
- Hikmah: Koneksi dengan Allah memberikan kemudahan dalam berkehidupan (“Punya Allah”). Jika seorang hamba merasa memiliki Allah, masalah seberat apapun akan terasa ringan, karena ia yakin Allah pasti menyelesaikannya. Inilah fungsi salat, yaitu menciptakan keterhubungan (silah) yang kuat antara hamba dan Rabb-nya.
- Relevansi Ayat: Surah An-Nisa (4) ayat 103: “…Jika Anda telah tuntas mengerjakan salat, fadzkurullaha (cepat terkoneksilah [ingatlah] kepada Allah)…”
2. Memohon Kemampuan Bersyukur
- Wa shukrika: “Dan bersyukur kepada-Mu.”
- Bersyukur adalah bentuk pengakuan atas segala karunia dan kemudahan hidup yang datang dari keterhubungan dengan Allah (poin 1).
3. Memohon Kemampuan Memperbagus Ibadah
- Wa husni ‘ibādatik: “Dan memperbagus ibadah kepada-Mu.”
- Yaitu memohon kemampuan untuk melaksanakan ibadah dengan kualitas terbaik (ihsan) dan sepenuh hati.
💡 Adab Utama dalam Berdoa
Terdapat tiga adab (tata krama) yang harus dihadirkan saat memanjatkan doa, terutama dalam mengucapkan Allahumma a’innī:
1. Merendahkan Diri (Tawadhu’)
- Lafazh: Allahumma
- Allahumma adalah bentuk yang lebih halus dan merendah (tawadhu’) dari kata Ya Allah.
- Penting: Ketika seorang hamba merendah di hadapan Allah (rendah diri), Allah akan mengangkatnya setinggi-tingginya. Sebaliknya, orang yang meninggikan diri akan direndahkan oleh Allah.
- Catatan: Rendah diri hanya kepada Allah; dalam pergaulan dengan manusia, gunakanlah rendah hati.
2. Menghadirkan Keyakinan Penuh (I’timad)
- Lafazh: A’innī
- Kata a’innī mengandung permohonan yang ingin cepat dikabulkan. Ini menuntut keyakinan yang kuat.
- Doa harus dilakukan dengan keyakinan penuh, seakan-akan jawaban Allah sudah di tangan. Jangan pernah ragu.
3. Koneksi Penuh (Khusyu’)
- Sambungkan kalimat doa hingga terasa pada jiwa, bukan hanya di lisan.
- Salah satu hikmah doa dibaca pasca salat adalah karena kondisi kita saat itu sedang terkoneksi (terhubung) kuat dengan Allah. Mengambil kesempatan di momen keterhubungan inilah yang membuat doa lebih cepat dikabulkan.
💼 Penutup: Doa dan Solusi Hidup
Semua Nabi yang doanya diabadikan dalam Al-Qur’an (misalnya dalam Surah Al-Anbiya’ 21: 83-90) selalu menggunakan algoritma ini: Tawadhu’ + Keyakinan + Koneksi penuh.
Doa ini mengajarkan kita bahwa kunci kemudahan hidup bukanlah pada jabatan, harta, atau koneksi duniawi, melainkan pada koneksi dengan Allah. Jika kita memiliki Allah, segalanya akan dimudahkan.
Pesan Penting Terkait Masalah:
Jika menghadapi masalah, jangan pernah mencurahkan atau menumpahkan informasi sensitif di ranah publik (seperti media sosial). Selesaikan masalah secara personal. Ada dua cara curhat:
- Langsung Curhat kepada Allah (Contoh Nabi Ya’kub, QS Yusuf 12: 86: “Innāma ashku baththī wa huznī ilallāh…” Aku hanya mengadukan kesulitan dan kesedihanku kepada Allah).
- Mencari Solusi Terbatas kepada orang bijak dari keluarga yang bisa menengahi (QS An-Nisa’ 4: 35).
Semoga kita semua dimudahkan untuk mengamalkan doa ini dan selalu merasakan keterhubungan dengan Allah SWT.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Tinggalkan Balasan