Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Alḥamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā sayyidinā Muḥammad, wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Segala puji hanya milik Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muḥammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.
Kajian Subuh ini mengajak kita merenungi peristiwa agung Isra’ dan Mi’raj, bukan sekadar sebagai peringatan tahunan, tetapi sebagai pedoman hidup dalam menghadapi ujian, membangun tawakal, dan menguatkan iman melalui shalat.
Para ulama klasik hingga kontemporer—termasuk Syekh Muḥammad Mutawalli Asy-Sya‘rāwī—mencatat bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj mengandung tiga pesan besar:
- Cara menghadapi ujian kehidupan
- Cara bertawakal dan bersandar kepada Allah
- Cara membangun hubungan utuh dengan Allah melalui shalat
Latar Sejarah: Tahun Kesedihan (Āmul Ḥuzni)
Peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada tahun kesepuluh kenabian, bukan tahun hijrah. Tahun ini dikenal sebagai Āmul Ḥuzni (Tahun Kesedihan) karena wafatnya dua pelindung utama Rasulullah ﷺ:
- Sayyidah Khadijah ra. – penenang jiwa, pendamping dakwah, dan sumber kekuatan batin Rasulullah
- Abu Thalib – paman Nabi yang menjadi perisai dakwah secara sosial dan politik
Di luar rumah, Rasulullah ﷺ menghadapi caci-maki dan intimidasi.
Di dalam rumah, Sayyidah Khadijah menjadi sumber ketenangan.
Ketika dua penopang ini wafat di tahun yang sama, Rasulullah ﷺ menghadapi tekanan dakwah tanpa pelindung manusiawi. Inilah fase ketika Allah mendidik Nabi-Nya untuk memutus sandaran kepada makhluk dan menguatkan sandaran hanya kepada Allah.
Perjalanan ke Thaif: Ujian yang Menggetarkan Jiwa
Dalam kondisi tersebut, Rasulullah ﷺ berharap mendapatkan dukungan dakwah dari Bani Tsaqif di Thaif, sekitar 100 km dari Makkah. Beliau berjalan kaki bersama Zaid bin Ḥārithah.
Namun yang terjadi justru:
- Penolakan
- Caci maki
- Lemparan batu hingga kaki Rasulullah ﷺ berdarah
Dalam kondisi terluka dan terhina, Rasulullah ﷺ berlindung di sebuah kebun. Di sanalah terjadi dialog agung antara langit dan bumi.
Doa Rasulullah ﷺ di Thaif
Alih-alih meminta azab, Rasulullah ﷺ berdoa:
“Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu atas kelemahanku, kurangnya dayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia.
Selama Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli apa pun yang aku hadapi.”
Beliau menolak tawaran malaikat penjaga gunung untuk menghancurkan penduduk Thaif, dan justru berharap:
“Semoga dari keturunan mereka kelak lahir orang-orang yang beriman.”
Inilah akhlak kenabian yang menjadi pintu Isra’ Mi’raj.
Pelajaran Pertama: Setiap Kebaikan Pasti Diuji
Isra’ Mi’raj diawali dengan ujian berat, mengajarkan bahwa:
- Setiap risalah kebaikan
- Setiap kebijakan yang adil
- Setiap dakwah yang benar
Pasti berhadapan dengan ujian.
Al-Qur’an menegaskan:
“Apakah kalian mengira akan masuk surga tanpa diuji sebagaimana orang-orang sebelum kalian?”
(QS. Al-Baqarah: 214)
Ujian bukan tanda kegagalan, tetapi tanda kesungguhan.
Pelajaran Kedua: Merespons Ujian dengan Akhlak
Rasulullah ﷺ mengajarkan respon yang proporsional:
- Tidak membalas keburukan dengan keburukan
- Tidak menjadikan kritik sebagai alasan permusuhan
Allah berfirman:
“Tolaklah keburukan dengan cara yang lebih baik.”
(QS. Fussilat: 34)
Spirit Isra’ Mi’raj adalah:
Merangkul, bukan memukul.
Menyatukan, bukan memecah.
Pelajaran Ketiga: Putuskan Sandaran pada Manusia, Kuatkan Tawakal
Wafatnya Abu Thalib dan Sayyidah Khadijah bukan sekadar musibah, tetapi pendidikan ilahi agar Rasulullah ﷺ:
- Tidak menggantungkan harapan pada manusia
- Menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran mutlak
Ketika tawakal Rasulullah ﷺ mencapai puncaknya, Allah mengundang beliau langsung ke langit.
Isra’ Mi’raj: Perjalanan Iman, Bukan Logika
Isra’ Mi’raj dibuka dengan kalimat:
Subḥānal-ladzī asrā bi ‘abdihī…
Kata Subḥān menandakan:
- Peristiwa besar
- Di luar jangkauan akal
- Tetapi tidak bertentangan dengan iman
Isra’ Mi’raj adalah perkara iman, bukan perkara logika semata.
Oleh-Oleh Terbesar Isra’ Mi’raj: Shalat
Puncak Isra’ Mi’raj bukan perjalanan fisik, tetapi hadiah shalat.
Shalat adalah:
- Tanda penghambaan (‘ubūdiyyah)
- Sarana penguat iman
- Jalan utama pertolongan Allah
Allah berfirman:
“Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
(QS. Ṭāhā: 14)
Manfaat Shalat
- Mencegah maksiat (QS. Al-‘Ankabūt: 45)
- Menenangkan hati (QS. Ar-Ra‘d: 28)
- Mempercepat terkabulnya doa
- Menghadirkan kesuksesan dan kebahagiaan sejati
Penutup: Isra’ Mi’raj Bukan Sekadar Peringatan
Isra’ Mi’raj bukan hanya untuk dikenang, tetapi:
- Untuk menguatkan iman
- Untuk memperbaiki shalat
- Untuk meningkatkan tawakal
Jika shalat belum menghadirkan ketenangan,
bukan shalatnya yang salah,
tetapi cara kita menunaikannya yang perlu dikoreksi.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang:
- Kokoh imannya
- Benar shalatnya
- Kuat tawakalnya
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Tinggalkan Balasan