Bapak Ibu sekalian yang dirahmati Allah,
Pada suatu pagi yang masih sangat dini, setelah peristiwa besar Isra dan Mikraj, Nabi Muhammad ﷺ telah kembali ke Makkah. Matahari baru mulai menampakkan cahayanya. Rasulullah ﷺ duduk di depan Ka’bah, merenungi kejadian luar biasa yang baru saja beliau alami—perjalanan yang tidak pernah terjadi pada manusia mana pun sebelumnya.

Perjalanan yang penuh mukjizat, penuh rahasia Ilahi, dan sekaligus menjadi ujian keimanan terbesar bagi umat manusia.

Abu Jahal: Mengetahui Kebenaran, Menolak dengan Kesombongan

Pada saat itulah lewat seorang tokoh Quraisy bernama Abu Jahal. Nama aslinya di kalangan Quraisy adalah Abul Hakam, orang yang dianggap bijaksana. Namun Rasulullah ﷺ justru menamakannya Abu Jahal, bapaknya kebodohan—bukan karena ia tidak tahu kebenaran, tetapi karena menolak kebenaran dengan kesombongan.

Abu Jahal bersama Abu Sufyan pernah mengalami kejadian luar biasa:
mereka diam-diam mendengarkan Al-Qur’an yang dibaca Nabi ﷺ pada malam hari. Tiga malam berturut-turut mereka datang, terpesona, lalu berjanji tidak akan mengulanginya—namun selalu kembali karena hati mereka tidak bisa lepas dari keindahan dan kebenaran Al-Qur’an.

Ketika ditanya pendapatnya, Abu Jahal mengakui:

“Demi Allah, aku tahu Muhammad benar.”

Namun ketika ditanya mengapa tidak beriman, jawabannya sungguh menyedihkan:

“Karena fanatisme suku. Jika aku beriman, berarti suku Muhammad menang dan sukuku kalah.”

Inilah kebodohan sejati: mengetahui kebenaran, tetapi menolaknya demi gengsi dan kekuasaan.


Isra dan Mikraj Diceritakan, Kekufuran Bertambah

Abu Jahal mendatangi Nabi ﷺ yang sedang duduk merenung, lalu mengejek:

“Wahai Muhammad, mengapa engkau terlihat bingung?”

Dengan penuh kejujuran, Rasulullah ﷺ menceritakan apa yang terjadi:

  • Didatangi Malaikat Jibril
  • Dinaikkan ke atas Buraq
  • Melakukan Isra ke Masjid Al-Aqsa
  • Menjadi imam para nabi
  • Melakukan Mikraj ke langit, bertemu para nabi
  • Menerima perintah shalat 50 waktu, lalu diringankan menjadi 5 waktu dengan pahala 50

Abu Jahal melihat ini sebagai peluang untuk menghancurkan dakwah Nabi ﷺ. Ia mengajak Rasulullah ﷺ naik ke Bukit Abi Qubais, tempat pengumuman paling penting di Makkah, lalu mengumpulkan seluruh penduduk.

Ketika Nabi ﷺ menceritakan Isra dan Mikraj di hadapan mereka, orang-orang kafir menertawakan, bahkan sebagian sahabat sempat bimbang—bukan karena ragu pada Nabi, tetapi karena beratnya ujian iman.


Abu Bakar Ash-Shiddiq: Pilar Keimanan Umat

Abu Jahal kemudian berkata:

“Jika kalian bisa menggoyahkan iman satu orang ini, maka hancurlah agama Muhammad.”

Orang itu adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Ketika mendengar cerita Isra dan Mikraj dari Abu Jahal—bukan dari Nabi ﷺ—Abu Bakar menjawab dengan kalimat yang menggetarkan langit dan bumi:

“Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu benar.”

Inilah iman sejati.
Abu Bakar tidak meminta bukti, tidak menawar logika, tidak menimbang kemungkinan.

Karena itulah Nabi ﷺ bersabda:

“Jika iman Abu Bakar ditimbang dengan iman seluruh umat ini, maka iman Abu Bakar lebih berat.”


Pembuktian di Bukit Abi Qubais

Abu Bakar mendatangi Rasulullah ﷺ dan dengan lantang bertanya:

“Benarkah wahai Rasulullah?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

“Benar.”

Abu Bakar langsung berkata keras:

“Engkau pasti benar.”

Ucapan ini menguatkan kembali iman para sahabat.

Kemudian Abu Bakar meminta Rasulullah ﷺ menjelaskan detail Masjid Al-Aqsa dan Palestina, di hadapan tokoh-tokoh Quraisy yang sering bepergian ke sana. Dengan izin Allah, seluruh Palestina diperlihatkan jelas di hadapan Nabi ﷺ.

Setiap penjelasan Nabi ﷺ dijawab oleh mereka:

“Benar… benar… benar…”


Bukti Terakhir: Kafilah dari Palestina

Sebagai penutup, Rasulullah ﷺ menyebutkan:

  • Ada kafilah Quraisy dari Palestina
  • Jumlah unta sekian
  • Unta terdepan berwarna putih dengan kain merah di lehernya
  • Mereka sempat kehilangan unta di lembah tertentu
  • Mereka akan tiba di Makkah dua hari lagi

Dua hari kemudian, kafilah itu benar-benar datang persis seperti yang disebutkan Nabi ﷺ. Mereka sendiri mengakui:

“Kami menemukan unta kami karena mendengar suara yang tidak kami kenal.”

Dan ketika ditanya dari mana mereka tahu, jawabannya serempak:

“Dari Muhammad.”

Penutup

Bapak Ibu sekalian,
Peristiwa Isra dan Mikraj bukan sekadar kisah perjalanan, tetapi ujian iman. Allah ingin memisahkan:

  • Siapa yang beriman dengan yakin
  • Siapa yang tahu kebenaran tetapi menolaknya

Karena itulah Allah menurunkan Surah Al-Isra sebagai pengabadinya.

Semoga kita termasuk umat yang memiliki iman seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq—iman yang kokoh, tidak goyah oleh logika, tidak runtuh oleh ejekan, dan tidak tunduk pada hawa nafsu.

Wallahu a‘lam bish-shawab.
Semoga bermanfaat untuk kajian subuh kita.

Sumber