PUNGGAWANEWS — Dalam sebuah kajian keagamaan, UAS menyampaikan pesan spiritual tentang cara menghadapi berbagai kecemasan dan ujian kehidupan. Menurutnya, bisikan negatif yang muncul dalam hati manusia—berupa kekurangan, kesedihan, dan ketakutan—harus dihalau dengan takbir dan pengagungan kepada Allah SWT.

“Allahu Akbar harus menjadi benteng kita dalam mengusir rasa cemas,” ujarnya dalam ceramah yang disampaikan dengan penuh semangat.

Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim

Ustaz tersebut mengambil hikmah dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim AS yang dikenal sebagai Khalilullah (kekasih Allah). Meski memiliki kedekatan istimewa dengan Sang Pencipta, Ibrahim tetap menghadapi berbagai cobaan berat yang datang silih berganti.

Ujian pertama berasal dari ayahnya sendiri, Azar, yang menyembah berhala. Ketika Ibrahim mendakwahi ayahnya, ia justru mendapat ancaman akan dilempari batu hingga tewas. Namun, Ibrahim tetap menjawab dengan lemah lembut, “Astagfirulaka, aku akan memohonkan ampunan Allah untukmu, wahai ayahku.”

Cobaan berikutnya datang dari para penguasa yang memusuhi dakwah tauhidnya. Ibrahim bahkan dibakar hidup-hidup, namun Allah menyelamatkannya dengan mukjizat yang mengubah sifat api menjadi sejuk dan selamat.

“Api yang seharusnya membakar justru menjadi dingin karena kuasa Allah. Ini menunjukkan bahwa ujian tidak pernah berhenti, namun Allah selalu memberikan jalan keluar,” jelasnya.

Hijrah Bukan Berarti Bebas dari Ujian

Sang ustaz menegaskan bahwa hijrah atau bertobat bukan jaminan hidup akan berjalan mulus tanpa masalah. “Hijrah membuat kita lebih kuat menghadapi beban, bukan menghilangkan beban itu sendiri,” katanya.

Ia mencontohkan doa Nabi Ibrahim yang memohon dikaruniai anak saleh. Doa tersebut baru dikabulkan setelah 86 tahun, sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir. Ini mengajarkan kesabaran dan keteguhan dalam bermunajat kepada Allah.

“Allah ingin melihat kita merintih dalam doa di tengah malam. Allah ingin melihat tetesan air mata kita saat bermunajat. Penantian panjang itu untuk meningkatkan derajat dan menghapus dosa,” ujarnya mengingatkan.

Tiga Nasihat Utama

Dari kajian tersebut, ustaz menyampaikan tiga pelajaran penting:

Pertama, bandingkan ujian kita dengan cobaan para nabi. Dengan membandingkan kesulitan hidup kita dengan ujian Nabi Ibrahim, kita akan merasa lebih ringan dan bersyukur. “Ujian kita belum ada apa-apanya dibanding ujian Ibrahim,” tegasnya.

Kedua, gantungkan harapan hanya kepada Allah. Jangan bergantung pada manusia, harta, atau kekuasaan yang sifatnya sementara. Allah adalah Al-Hayyu (Maha Hidup) dan Al-Qayyum (Maha Mengatur) yang mengetahui setiap detak jantung dan langkah kaki kita.

“Mengapa harus cemas jika ada Allah yang mengatur segala kehidupan kita?” tanyanya retoris.

Ketiga, puncak cinta adalah kesediaan berbagi, terutama kepada Allah. Ini tercermin dalam kesediaan Ibrahim menyembelih putranya, Ismail, sebagai wujud ketaatan mutlak. Sang putra pun menjawab dengan penuh keikhlasan, “Ya abati, laksanakan perintah Allah, insya Allah aku akan sabar.”

Jaga Kehalalan Rezeki

Ustaz juga mengingatkan pentingnya menjaga kehalalan makanan dan rezeki. Ia mengutip hadis tentang seseorang yang berdoa dengan khusyuk namun tidak dikabulkan karena makanan, minuman, dan pakaiannya dari sumber yang haram.

“Jaga makananmu agar doamu mustajab (dikabulkan). Jangan sampai kita korupsi atau menghalalkan segala cara hanya karena takut tidak makan,” pesannya.

Ia juga menyinggung fenomena nepotisme dan persaingan tidak sehat dalam mencari nafkah. “Orang yang hanya memikirkan perut, hakikatnya tidak lebih besar dari yang keluar dari perut itu sendiri,” kritiknya tajam.

Wakaf, Infak, dan Sedekah sebagai Investasi Akhirat

Di akhir ceramah, sang ustaz menekankan pentingnya berbagi harta melalui wakaf, infak, dan sedekah. “Yang kau habiskan untuk makan akan busuk, yang kau belikan pakaian akan lapuk. Hanya yang kau sedekahkan untuk Allah yang akan kekal abadi,” katanya.

Ia menambahkan, sedekah tidak harus berupa materi besar. Bahkan senyuman kepada sesama pun bernilai sedekah yang akan dikenang dan didoakan orang hingga kita meninggal dunia.

“Jangan remehkan perbuatan baik walau sekecil apapun. Senyummu ke wajah saudaramu adalah sedekah yang akan dikenang sepanjang zaman,” pungkasnya mengakhiri ceramah penuh hikmah tersebut.

Ceramah ini mengajak umat untuk menguatkan iman dengan takbir, bersabar dalam ujian, dan senantiasa berbagi kepada sesama sebagai bukti cinta kepada Allah SWT.