4. Ketenangan di Hadapan Kematian Adalah Buah Keimanan
Perhatikan bagaimana Nabi Ibrahim menghadapi Malaikat Maut: dengan tenang, tanpa rasa takut, bahkan dengan senyuman.
Ini adalah buah dari keimanan yang sempurna. Orang yang yakin kepada Allah, yang yakin kepada janji-Nya, yang yakin bahwa kehidupan setelah mati jauh lebih baik daripada kehidupan dunia—ia tidak akan takut mati.
Rasulullah SAW bersabda:
“Kematian adalah hadiah bagi orang mukmin.” (HR. Ahmad)
5. Izin Malaikat Maut adalah Kehormatan Tertinggi
Allah memerintahkan Malaikat Izrail untuk meminta izin kepada Ibrahim sebelum mencabut nyawanya. Ini adalah kehormatan luar biasa yang tidak diberikan kepada semua orang.
Kehormatan ini diberikan karena Ibrahim telah menjalani hidupnya dengan penuh ketaatan dan cinta kepada Allah. Ia tidak pernah mengingkari janji. Ia tidak pernah ragu terhadap Allah. Ia adalah contoh sempurna dari seorang hamba yang mencintai Tuhannya dengan sepenuh hati.
Penutup: Pertanyaan untuk Diri Kita Sendiri
Setelah merenungkan kisah ini di pagi subuh yang sunyi, mari kita bertanya kepada diri sendiri:
- Apakah kita rindu bertemu dengan Allah?
- Apakah kita mencintai Allah lebih dari segala sesuatu di dunia ini?
- Apakah kita siap jika Malaikat Izrail datang hari ini?
- Apa yang telah kita persiapkan untuk perjumpaan dengan-Nya?
Nabi Ibrahim menghabiskan seluruh hidupnya membuktikan cintanya kepada Allah. Dan ketika saatnya tiba, ia menyambut kematian dengan senyuman—bukan karena ia lelah hidup, melainkan karena ia rindu bertemu dengan Sang Kekasih.
Semoga kita semua bisa meneladani kerinduan Ibrahim. Semoga kita semua bisa hidup dengan penuh cinta kepada Allah, sehingga ketika Malaikat Izrail datang, kita bisa tersenyum dan berkata:
“Akhirnya aku akan bertemu dengan-Nya. Akhirnya aku pulang ke rumah yang sesungguhnya.”
Wallahu a’lam bishawab.
Semoga artikel kajian subuh ini bermanfaat dan membuka hati kita untuk lebih mencintai Allah. Aamiin.
Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan kisah yang beredar dalam literatur Islam klasik dan disebarkan dalam berbagai media dakwah. Kisah ini mengandung pelajaran moral yang mendalam tentang kerinduan hamba kepada Allah, meskipun detailnya perlu dikaji lebih lanjut dalam literatur hadis dan tafsir yang sahih.


Tinggalkan Balasan