Bagian IV: Senyum Terakhir Sang Kekasih
Ketika Malaikat Izrail menyampaikan jawaban Allah kepada Nabi Ibrahim, sesuatu yang indah terjadi.
Nabi Ibrahim tersenyum.
Bukan senyum kepahitan. Bukan senyum kepasrahan yang terpaksa. Melainkan senyum kerinduan yang tak terbendung.
Hatinya dipenuhi oleh kerinduan yang mendalam—kerinduan yang telah ia rasakan sejak ia pertama kali mengenal Tuhannya. Kerinduan yang membuatnya rela dibakar hidup-hidup demi Allah. Kerinduan yang membuatnya rela meninggalkan keluarga di lembah tandus. Kerinduan yang membuatnya rela mengangkat pisau untuk menyembelih anaknya sendiri, Ismail, demi cinta kepada Allah.
Dan kini, kerinduan itu akan terpenuhi.
Dengan penuh kerelaan, Ibrahim pun menyerahkan jiwanya.
Tidak ada perlawanan. Tidak ada rasa takut. Tidak ada penyesalan.
Hanya ada kerinduan yang memuncak, dan cinta yang sempurna.
Bukan sebagai perpisahan yang menyakitkan, melainkan sebagai pertemuan seorang kekasih dengan kekasihnya yang paling dicintai.
Refleksi: Pelajaran dari Dialog Terakhir Nabi Ibrahim
Kisah ini mengajarkan kita banyak hal tentang hubungan antara hamba dan Tuhannya. Mari kita renungkan beberapa pelajaran mendalam dari dialog terakhir Nabi Ibrahim dengan Malaikat Maut:
1. Kematian Bukan Akhir, Melainkan Awal Perjumpaan
Bagi kebanyakan manusia, kematian adalah momok yang menakutkan. Namun bagi orang-orang yang mencintai Allah, kematian adalah pintu gerbang menuju perjumpaan yang paling ditunggu-tunggu.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang senang bertemu dengan Allah, maka Allah pun senang bertemu dengannya. Dan barangsiapa yang tidak suka bertemu dengan Allah, maka Allah pun tidak suka bertemu dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pertanyaannya: Apakah kita rindu bertemu dengan Allah?
Jika jawabannya ya, maka kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Ia adalah hadiah, bukan hukuman.
2. Cinta Sejati Dibuktikan dengan Kerinduan
Nabi Ibrahim mempertanyakan: “Apakah kekasih tega memisahkan diri dari yang dicintainya?”
Allah menjawab: “Apakah kekasih tidak rindu bertemu dengan yang dicintainya?”
Ini adalah ujian cinta sejati. Jika kita mengaku mencintai Allah, apakah kita benar-benar rindu untuk bertemu dengan-Nya? Atau kita malah lebih rindu kepada dunia ini—harta, tahta, dan kesenangan sementara?
3. Gelar “Kekasih Allah” Bukan Tanpa Ujian
Nabi Ibrahim mendapat gelar Khalilullah (kekasih Allah) bukan karena hidupnya mudah. Ia mendapatkan gelar itu karena ia lulus dari ujian demi ujian yang luar biasa berat:
- Dibakar hidup-hidup oleh kaumnya karena menyeru tauhid
- Diperintahkan meninggalkan istri dan anaknya di lembah tandus tanpa bekal
- Diperintahkan menyembelih anaknya sendiri sebagai bukti cinta kepada Allah
Setiap ujian itu adalah bukti cinta yang diminta Allah dari hamba-Nya. Dan Ibrahim lulus dengan sempurna.
Pertanyaannya: Apakah kita siap diuji seperti Ibrahim jika kita ingin dicintai Allah seperti Ibrahim?


Tinggalkan Balasan