Kajian Subuh: Renungan tentang Kerinduan, Kematian, dan Perjumpaan dengan Allah
Kematian sering dipandang sebagai akhir yang menakutkan, perpisahan yang menyakitkan, atau penutup kisah yang kelam. Namun bagi orang-orang yang mencintai Allah dengan segenap jiwa, kematian bukanlah akhir—melainkan awal dari perjumpaan yang paling ditunggu-tunggu.
Salah satu kisah paling menyentuh tentang kerinduan seorang hamba kepada Tuhannya terekam dalam dialog terakhir antara Nabi Ibrahim Alaihissalam—yang digelari Khalilullah (kekasih Allah)—dengan Malaikat Izrail, sang pencabut nyawa. Kisah ini bukan sekadar narasi historis, melainkan pelajaran mendalam tentang makna cinta sejati kepada Allah, tentang bagaimana seorang hamba yang benar-benar mencintai Tuhannya memandang kematian bukan sebagai musibah, melainkan sebagai hadiah pertemuan.
Mari kita telusuri kisah ini dengan hati yang khusyuk, sebagaimana seharusnya kita merenungkan setiap pagi di waktu subuh—waktu di mana langit dan bumi masih sunyi, dan hati paling mudah terbuka untuk mendengar bisikan ilahi.
Bagian I: Kedatangan Malaikat Izrail di Penghujung Usia
Di penghujung usia Nabi Ibrahim Alaihissalam, ketika rambutnya telah memutih diterpa waktu dan wajahnya penuh dengan garis-garis pengabdian panjang kepada Allah, datanglah seorang makhluk mulia atas perintah Sang Pencipta—Malaikat Izrail, sang pencabut nyawa.
Tidak seperti kedatangannya yang biasa, kali ini Izrail datang dengan penuh kehormatan. Ia tahu bahwa Ibrahim bukan hamba biasa. Ia adalah Khalilullah—satu-satunya manusia yang mendapat gelar “kekasih Allah” sepanjang sejarah.
“Assalamualaikum, wahai Ibrahim, kekasih Allah.”
Malaikat Izrail memberi salam dengan penuh hormat dan kerendahan hati. Salam itu bukan sekadar formalitas, melainkan pengakuan atas kedudukan mulia seorang nabi yang telah menjalani hidup penuh ujian demi cinta kepada Tuhannya.
Nabi Ibrahim, yang sepanjang hidupnya selalu ramah kepada tamu, menjawab dengan tenang dan lembut:
“Wa’alaikumussalam. Siapakah engkau, wahai tamu yang bercahaya?”
Ibrahim tidak langsung mengenali sosok di hadapannya, meskipun ia merasakan aura yang berbeda—sebuah cahaya yang bukan dari dunia ini.
Malaikat Izrail menjawab dengan suara yang tenang namun tegas:
“Aku adalah Izrail, yang diutus untuk menjalankan perintah Rabbmu.”
Mendengar nama itu, Ibrahim paham. Ini bukan tamu biasa. Ini adalah utusan yang datang membawa misi besar—misi yang telah ditakdirkan sejak ia dilahirkan ke dunia ini.


Tinggalkan Balasan