PUNGGAWANEWS, Kisah rumah tangga Sayyidina Umar bin Khattab seringkali membuat kita terdiam lama. Sosok pemimpin yang tegas, penakluk negeri, dan ditakuti oleh setan, ternyata di rumahnya ia bisa diam, tunduk, dan bersabar menghadapi istrinya yang sedang marah. Tidak karena takut, tapi karena paham bahwa sabar dalam rumah tangga bukan tanda lemah, melainkan tanda kuatnya cinta dan akalnya.
Suatu hari, datang seorang lelaki ke rumah Umar bin Khattab untuk mengadukan keluh kesahnya tentang istrinya yang galak dan suka membentak. Namun sesampainya di depan rumah Umar, lelaki itu justru mendengar suara istri Umar, Ummu Kultsum, sedang meninggikan nada bicara kepada suaminya. Anehnya, Umar hanya diam, tidak membalas, tidak membentak, tidak meninggalkan rumah. Lelaki itu pun mengurungkan niatnya dan berbalik pulang.
Melihat hal itu, Umar memanggilnya dan bertanya, “Mengapa engkau datang lalu pergi tanpa bicara?” Lelaki itu menjawab, “Aku ingin mengadukan istriku padamu, tapi aku mendengar istrimu juga bersuara keras, maka aku pikir engkau pun sedang diuji seperti aku.” Umar tersenyum, lalu menjawab dengan kebijaksanaan yang meneduhkan, “Aku bersabar terhadapnya karena hak-haknya atas diriku. Ia adalah pelindung antara aku dan api neraka, dengan kehadirannya aku tenang dari yang haram. Ia menjaga hartaku saat aku pergi, mencuci pakaianku, memasak untukku, dan merawat anak-anakku.”
Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Laits As-Samarqandi dalam Tanbihul Ghafilin, dan juga disebutkan dalam kitab Ash-Shobru ‘Ala Al-Zaujat karya Yusuf Abjik As-Susiy (Darul Fath, Yordania, hlm. 43–44). Dari sini kita belajar bahwa kesabaran seorang suami tidak hanya mendatangkan kedamaian rumah tangga, tapi juga ganjaran besar di sisi Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana dinukil oleh Ibnu Habib,
“Barang siapa bersabar atas buruknya akhlak istrinya, maka setiap siang dan malam dia mendapat pahala seperti pahala seorang syahid.”
(Sumber: Ash-Shobru ‘Ala Al-Zaujat, Yusuf Abjik As-Susiy, hlm. 43; dikutip pula oleh Ibnu Habib dalam Al-Wadhihah).
Betapa tinggi derajat sabar di hadapan Allah. Dalam sabar ada cinta yang diam, dalam diam ada kekuatan yang lembut. Karena sejatinya, sabar bukan sekadar menahan amarah, tapi juga bentuk penghormatan pada peran yang Allah titipkan pada pasangan.
Sayyidina Umar menunjukkan kepada kita bahwa menjadi pemimpin di luar rumah tidak berarti harus berkuasa di dalamnya. Ada saatnya seorang lelaki menundukkan ego bukan karena kalah, tapi karena ingin menjaga apa yang lebih berharga dari harga diri ketenangan rumah tangga.
Mungkin hari ini banyak suami yang lupa bahwa istri bukan musuh yang harus ditundukkan, melainkan amanah yang harus dijaga dengan kasih. Dan banyak istri yang lupa bahwa suami bukan batu yang harus dilawan dengan keras, tapi hati yang bisa diluluhkan dengan kelembutan.
Rumah tangga bukan tentang siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling mampu mengalah demi kebaikan bersama. Umar mengajarkan, surga bisa dimulai dari ruang sederhana — dari sabar, dari diam, dan dari cinta yang memilih menahan diri. Karena seperti kata para ulama, “Kadang diam suami yang sabar lebih nyaring daripada seribu kata yang diucapkan dengan marah.”
Sumber Rujukan:
Tanbihul Ghafilin karya Abu Laits As-Samarqandi (Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah).
Ash-Shobru ‘Ala Al-Zaujat karya Yusuf Abjik As-Susiy, Darul Fath, Yordania, hlm. 43–44.
Al-Wadhihah karya Ibnu Habib, dalam bab akhlak suami istri.
Hadis tentang kesabaran suami atas perilaku istri yang buruk, dinukil oleh Al-Muttaqi Al-Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 44726.


Tinggalkan Balasan