Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana dinukil oleh Ibnu Habib,
“Barang siapa bersabar atas buruknya akhlak istrinya, maka setiap siang dan malam dia mendapat pahala seperti pahala seorang syahid.”
(Sumber: Ash-Shobru ‘Ala Al-Zaujat, Yusuf Abjik As-Susiy, hlm. 43; dikutip pula oleh Ibnu Habib dalam Al-Wadhihah).
Betapa tinggi derajat sabar di hadapan Allah. Dalam sabar ada cinta yang diam, dalam diam ada kekuatan yang lembut. Karena sejatinya, sabar bukan sekadar menahan amarah, tapi juga bentuk penghormatan pada peran yang Allah titipkan pada pasangan.
Sayyidina Umar menunjukkan kepada kita bahwa menjadi pemimpin di luar rumah tidak berarti harus berkuasa di dalamnya. Ada saatnya seorang lelaki menundukkan ego bukan karena kalah, tapi karena ingin menjaga apa yang lebih berharga dari harga diri ketenangan rumah tangga.
Mungkin hari ini banyak suami yang lupa bahwa istri bukan musuh yang harus ditundukkan, melainkan amanah yang harus dijaga dengan kasih. Dan banyak istri yang lupa bahwa suami bukan batu yang harus dilawan dengan keras, tapi hati yang bisa diluluhkan dengan kelembutan.
Rumah tangga bukan tentang siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling mampu mengalah demi kebaikan bersama. Umar mengajarkan, surga bisa dimulai dari ruang sederhana — dari sabar, dari diam, dan dari cinta yang memilih menahan diri. Karena seperti kata para ulama, “Kadang diam suami yang sabar lebih nyaring daripada seribu kata yang diucapkan dengan marah.”
Sumber Rujukan:
Tanbihul Ghafilin karya Abu Laits As-Samarqandi (Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah).
Ash-Shobru ‘Ala Al-Zaujat karya Yusuf Abjik As-Susiy, Darul Fath, Yordania, hlm. 43–44.
Al-Wadhihah karya Ibnu Habib, dalam bab akhlak suami istri.
Hadis tentang kesabaran suami atas perilaku istri yang buruk, dinukil oleh Al-Muttaqi Al-Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 44726.


Tinggalkan Balasan