“Wa wajadaka dhâllan fahadâ.”
Engkau pernah bingung arah hidup, lalu Allah menunjukkan jalan.

“Wa wajadaka ‘âilan fa aghnâ.”
Engkau pernah sempit, fakir, merasa tidak cukup—lalu Allah mencukupkanmu.

Ayat-ayat itu seolah mengetuk hati kita satu per satu. Mengingatkan bahwa hidup kita penuh pertolongan Allah, meski sering kita lupakan.

Hati yang Sempit dan Janji Kelapangan

Mengapa hati terasa sempit?
Karena dendam, marah, kecewa, dan luka yang disimpan terlalu lama.

Namun ketika imam membaca, “Alam nasyrah laka shadrak,”
Allah seakan berbisik: “Bukankah sudah Aku lapangkan dadamu?”