Di tengah hiruk-pikuk kota, deru kendaraan, dan riuh manusia, sering kali hati justru terasa sunyi. Kita berada di tengah keramaian, tetapi jiwa seakan berjalan sendiri. Saat itulah muncul pertanyaan paling jujur dalam hidup: siapa sebenarnya kawan bicara kita?
Dalam kesunyian itu, seorang mukmin menemukan jawabannya. Ia sedang berbicara dengan Allah.
Ketika berdiri dalam salat, kita mengucap, “At-tahiyyâtul mubârakâtush shalawâtuth thayyibâtul lillâh.”
Segala penghormatan, keberkahan, salat, dan kebaikan—bukan milik kita. Semua milik Allah. Kita tidak membawa apa-apa. Kita hanya menyerahkan diri sepenuhnya.
Dan ketika kita salat berjamaah di masjid, sering kali kita tidak sadar: bukan hanya kita yang berbicara kepada Allah, tetapi Allah juga sedang berbicara kepada kita—melalui ayat-ayat yang dibaca oleh imam.
“Alam yajidka yatîman fa âwâ.”
Bukankah engkau dahulu seorang yatim, lalu Allah melindungimu?


Tinggalkan Balasan