Orang baik bukanlah orang yang tidak pernah berbuat salah, melainkan orang yang mau belajar dari kesalahan dan bertumbuh dalam ketakwaan. Allah bahkan mencintai hamba-Nya yang berdosa tetapi gemar bertaubat, lebih daripada orang yang merasa dirinya selalu benar dan tak pernah merasa bersalah.
Setiap manusia punya masa lalu. Kesalahan yang pernah terjadi bukan untuk disangkal, tetapi untuk disadari dan diperbaiki. Dalam banyak keadaan, Allah menghadirkan musibah atau ujian kecil sebagai bentuk kasih sayang-Nya, agar manusia terbangun dan memperbaiki jalan hidupnya. Jika setelah musibah kita berubah menjadi lebih baik, itulah tanda cinta Allah yang sesungguhnya.
Allah sendiri menegaskan dalam Al-Qur’an, Surah Az-Zumar ayat 53, bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni selama hamba-Nya mau kembali dan berharap kepada rahmat-Nya. Jangan pernah berputus asa dari kasih sayang Allah, sebesar apa pun dosa yang pernah dilakukan.
Muhasabah juga mengajarkan kita untuk tidak gemar menyalahkan orang lain. Ketika anak berbuat salah, jangan buru-buru menyalahkan anak atau guru. Orang tua perlu bercermin lebih dulu: sudahkah kita mendidik, hadir, dan bertanggung jawab sepenuhnya? Kesalahan sering kali adalah cermin dari kelalaian kita sendiri.
Ustadz Adi mengingatkan, istigfar seharusnya dilakukan sebelum musibah besar datang. Selagi masih hidup, kesalahan masih bisa diedit: ucapan diperbaiki, perilaku diubah, dan niat diluruskan. Karena ketika kematian datang, semua kesempatan itu tertutup. Apalagi ketika tiba hari kiamat, penyesalan tak lagi berguna.

Tinggalkan Balasan