PUNGGAWANEWS, Kisah Nabi Ibrahim ** عليه السلام** dan Raja Namrud adalah salah satu cerita paling fenomenal dalam sejarah kenabian yang sarat akan pesan tauhid. Meskipun sering diceritakan, ada beberapa detail menarik dari kisah ini yang jarang diketahui publik. Narasi ini akan mengulas kembali kisah epik tersebut, dimulai dari awal mula Namrud mengklaim dirinya sebagai Tuhan hingga akhir hidupnya yang tragis.


Raja Namrud dan Mimpi yang Mengguncang Iman

Namrud menjadi raja setelah ayahnya meninggal dan segera mengikrarkan dirinya sebagai Tuhan. Ia menjanjikan kekayaan dan kemudahan bagi siapa pun yang mau mengakuinya sebagai Tuhan. Akibatnya, sebagian besar rakyatnya, yang tinggal di ibu kota Babilonia (sekarang Irak), tunduk kepadanya, termasuk Azar, ayah Nabi Ibrahim عليه السلام, yang merupakan orang kepercayaan dan pembuat patung-patung sesembahan Namrud. Patung-patung ini disebar ke seluruh wilayah kekuasaan Namrud agar masyarakat bisa menyembahnya tanpa harus datang ke istana.

Suatu malam, Namrud bermimpi kerajaannya hancur dan terbakar. Panik, ia mengumpulkan para penasihatnya, termasuk Azar. Salah satu penasihatnya menafsirkan mimpi itu sebagai pertanda bahwa akan ada bayi laki-laki yang lahir di Babilonia pada malam itu dan akan menghancurkan kerajaannya. Mendengar hal itu, Namrud segera mengeluarkan perintah aneh: seluruh bayi laki-laki yang lahir pada malam itu harus dibunuh.

Takdir berkata lain, pada malam yang sama, istri Azar melahirkan seorang bayi laki-laki. Anak itu adalah Ibrahim. Azar yang menyaksikan perintah Namrud, segera melarikan Ibrahim ke hutan untuk menyelamatkannya. Di sanalah Ibrahim tumbuh dan dibesarkan hingga berusia 40 tahun.


Dakwah Nabi Ibrahim dan Ujian Logika

Pada usia 40 tahun, Ibrahim diangkat menjadi nabi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ia kembali ke Babilonia, tempat yang telah didoktrinasi oleh Namrud selama 70 tahun. Namrud sendiri, yang saat itu sudah berusia 70 tahun, masih dihormati sebagai Tuhan.

Ibrahim ** عليه السلام** tidak menunda dakwahnya. Ia langsung mendatangi kuil besar yang dipenuhi patung-patung. Di hadapan ribuan orang yang sedang menyembah, Ibrahim mendatangi patung-patung itu. Ia mengambil sesajen berupa buah, menggigitnya, lalu melemparkannya ke wajah patung. Ia bertanya, “Wahai yang dianggap Tuhan, apa kau tidak marah?” Tentu saja, tidak ada jawaban. Setelah mengulanginya tiga kali, Ibrahim bertanya lagi, “Apakah kalian tidak punya akal, menyembah patung yang tidak bisa berbuat apa-apa?”

Melihat orang-orang masih diam, Ibrahim Alaih Salam bersumpah akan melakukan tipu daya terhadap tuhan-tuhan mereka. Saat semua orang sudah meninggalkan kuil, Ibrahim kembali dengan kapak dan menghancurkan semua patung kecuali patung Namrud yang paling besar. Ia meletakkan kapak itu di tangan patung Namrud sebagai “tersangka”.


Pertarungan Akal antara Nabi Ibrahim dan Raja Namrud

Keesokan harinya, para penjaga kuil terkejut melihat kehancuran itu. Mereka segera memanggil Ibrahim ** عليه السلام** dan bertanya, “Apakah kamu yang melakukan ini, wahai Ibrahim?”

Ibrahim dengan cerdik menjawab, “Justru patung yang besar itu yang melakukannya. Tanyalah dia jika dia bisa bicara.”

Jawaban itu membuat semua orang terdiam. Mereka sadar bahwa patung-patung mereka memang tidak berdaya. Akhirnya, mereka melaporkan kejadian ini kepada Namrud. Ibrahim عليه السلام lalu menemui Namrud di istananya. Ketika semua orang bersujud, hanya Ibrahim yang berdiri tegak. Namrud terkejut dan bertanya, “Siapa kamu yang berani tidak bersujud kepadaku?”

Ibrahim dengan tegas menjawab, “Wahai Namrud, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah yang menghidupkan dan mematikan.”

Namrud dengan sombong menjawab, “Aku juga bisa menghidupkan dan mematikan.” Ia lalu memanggil dua orang, memerintahkan satu untuk dibunuh dan yang lain dibebaskan. Ia mengklaim, “Lihat, aku mematikan dan menghidupkan.”

Ibrahim عليه السلام yang dibisiki oleh Jibril ** عليه السلام**, segera mengajukan tantangan lain yang lebih sulit dibantah, “Kalau begitu, Tuhanku setiap pagi menerbitkan matahari dari timur. Bisakah kau menerbitkannya dari barat?”

Namrud terdiam, tidak mampu menjawab. Ia marah dan segera memerintahkan Ibrahim ditangkap dan dipenjara.


Puncak Konfrontasi dan Akhir Tragis Raja Namrud

Setelah bermusyawarah, Namrud memutuskan hukuman mati yang paling menyakitkan bagi Ibrahim ** عليه السلام**, yaitu dibakar hidup-hidup. Mereka membangun tumpukan kayu bakar yang sangat besar, setinggi sekitar 17,5 meter, agar seluruh masyarakat dapat menyaksikan.

Saat Ibrahim akan dilempar ke dalam kobaran api, Malaikat Jibril ** عليه السلام** menawarinya bantuan. Namun, Ibrahim menolak dan berkata, “Cukuplah Allah bagiku, Dialah sebaik-baik pelindung.”

Ia hanya memohon kepada Allah, “Ya Allah, jadikanlah api ini dingin dan keselamatan bagiku.”

Atas izin Allah, api yang berkobar dahsyat itu tidak membakar Ibrahim ** عليه السلام**. Masyarakat yang menyaksikan terkejut melihat Ibrahim duduk santai di tengah api yang membara. Setelah tiga hari, Namrud memerintahkan api dipadamkan dan menemukan Ibrahim masih hidup.

Kisah ini berakhir dengan tragis bagi Namrud. Setelah kegagalannya membunuh Ibrahim, Namrud tidak bisa tidur. Allah mengirimkan seekor lalat yang masuk ke lubang hidungnya dan terus menggerogoti otaknya selama tiga hari. Lalat kecil yang tak berdaya itu berhasil membunuh raja tiran yang sombong, menjatuhkannya di hadapan rakyatnya. Kematian Namrud oleh seekor lalat menjadi bukti nyata akan kelemahan manusia dan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sumber