Saking pentingnya rencana yang baik, Al-Qur’an dan Sunnah meminta kita mempersiapkannya bahkan sebelum Subuh tiba.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas (Hadis Abu Daud 1367), Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan:
- Duduk dan Menghilangkan Kantuk: Bangun dari tidur, duduk sejenak, menghilangkan bekas ngantuk agar berdoa dalam keadaan sadar dan terjaga.
- Membaca 11 Ayat Terakhir Ali Imran: Beliau membiasakan membaca 11 ayat terakhir Surah Ali Imran (QS. Ali Imran [3]: 190-200). Ayat ini berisi tuntunan untuk merencanakan kegiatan dengan visi panjang, bukan hanya dunia, tetapi sampai akhirat.
- Filosofi Ulul Albab: Orang-orang yang memahami esensi kehidupan (Ulul Albab) adalah mereka yang selalu menyusun agenda, baik siang maupun malam, seraya mengingat Allah (zikir). Inilah yang menjadi ciri orang bertakwa (QS. Al-Hasyr [59]: 18): memiliki kesiapan rencana hidup sampai persiapan pulangnya kembali kepada Allah.
Subuh Adalah Janji Pulang
Setelah merencanakan kegiatan terbaik, kita membawanya dalam doa bangun tidur: “Wa Ilaihin Nusyur” (Dan kepada-Nya lah kita akan kembali). Nusyur artinya menyebar untuk kembali, kita berjanji untuk mencari bekal positif hari ini sebagai persiapan pulang menghadap Allah.
Rencana harian yang sudah disusun itulah yang kita bawa dalam salat Fajar (Wa Qur’aanal Fajr), memohon petunjuk, kemudahan, dan keberkahan dari Allah.
“Sesungguhnya bacaan pada waktu fajar itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Isra [17]: 78)
Nabi SAW bersabda, malaikat yang bertugas di malam hari dan bertugas di siang hari berkumpul di waktu Fajar untuk menyaksikan setiap permohonan yang kita sampaikan kepada Allah. Inilah keistimewaan yang melekat di waktu Subuh; jangan biarkan Subuh menyendiri dengan penunaian salat saja, tetapi sertakan agenda hidup terbaik Anda di dalamnya.
Semoga kita menjadi pribadi mukmin yang terencana, yang menjadikan Subuh sebagai fondasi awal untuk menebar manfaat terbaik dalam kehidupan kita hari ini.


Tinggalkan Balasan