BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

PUNGGAWA JAZIRAH – Momentum halal bihalal merupakan tradisi yang sarat makna dalam kehidupan umat Islam di Indonesia. Ia bukan sekadar kegiatan seremonial pasca-Idulfitri, melainkan ruang spiritual untuk memperbaiki hubungan antarsesama manusia (hablum minannas), sekaligus memperkuat hubungan dengan Allah SWT (hablum minallah). Dalam sebuah kajian Islam yang disampaikan oleh Das’ad Latif, ditekankan bahwa inti dari halal bihalal adalah penyucian hati, penguatan ukhuwah, serta upaya menghindari kerugian di akhirat.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman agar orang-orang beriman masuk ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh) dan tidak mengikuti langkah-langkah setan. Pesan ini menegaskan bahwa keislaman tidak hanya terbatas pada ibadah ritual, tetapi juga mencakup akhlak sosial, termasuk menjaga hubungan baik dengan sesama.

Salah satu poin penting dalam kajian ini adalah penjelasan tentang “orang yang bangkrut” menurut Rasulullah SAW. Kebangkrutan sejati bukanlah kehilangan harta, melainkan kehilangan pahala di akhirat. Seseorang bisa saja datang dengan amal ibadah yang banyak seperti salat, puasa, dan haji, namun karena menyakiti orang lain—melalui fitnah, ghibah, atau kezaliman—maka pahala tersebut habis diberikan kepada orang yang dizalimi. Bahkan, jika pahala telah habis, dosa orang lain akan dipindahkan kepadanya. Inilah gambaran betapa pentingnya menjaga hubungan antarmanusia.

Halal bihalal menjadi solusi untuk menghindari kondisi tersebut. Namun, memohon maaf tidak cukup hanya melalui pesan singkat atau simbolis. Islam mengajarkan agar permintaan maaf dilakukan dengan sungguh-sungguh: bertemu langsung, berjabat tangan, menatap dengan tulus, serta menyebutkan kesalahan yang diperbuat. Hal ini menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki hubungan.