BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

PUNGGAWANEWS, Ibadah haji merupakan ritual agung yang pertama kali diwajibkan pada masa Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Banyak peristiwa dari kehidupan keluarga Ibrahim yang kemudian menjadi bagian integral dari ibadah haji hingga kini.

Perjalanan Cinta Ibrahim dan Sarah

Ibrahim memiliki dua istri: Sarah dan Hajar. Sarah, istri pertamanya, adalah wanita yang memiliki kecantikan luar biasa dan akhlak mulia yang setara dengan kesempurnaan Ibrahim. Namun, hingga usia 60 tahun, mereka belum dikaruniai anak.

Suatu ketika, Ibrahim membawa Sarah ke tanah Mesir. Di sana berkuasa seorang raja yang terkenal zalim, yang memiliki kebiasaan buruk merebut istri orang lain jika ia tertarik pada kecantikan mereka. Mengetahui bahaya ini, Ibrahim berpesan kepada Sarah agar mengaku sebagai saudaranya jika ditanya.

Seperti yang dikhawatirkan, prajurit raja menemukan Sarah dan membawanya ke istana. Ketika raja berusaha menyentuhnya, Sarah berdoa memohon perlindungan Allah. Secara ajaib, tangan raja mendadak lumpuh seperti stroke. Ketakutan, raja memohon Sarah berdoa agar ia sembuh, berjanji tak akan mengganggunya lagi.

Namun raja itu ingkar janji. Ia mencoba lagi, dan kembali lumpuh. Bahkan pada percobaan ketiga, seluruh tubuhnya tak bisa bergerak kecuali mulutnya. Akhirnya, dengan disaksikan seluruh penghuni istana, raja bersumpah tak akan menyentuh Sarah. Ketakutan akan murka Tuhan, ia menghadiahkan seorang budak wanita bernama Hajar kepada Sarah sebagai tanda perdamaian.

Kelahiran Ismail dan Perintah yang Berat

Setelah kembali ke Palestina, kehidupan Ibrahim dan Sarah berlanjut tanpa kehadiran anak. Sarah, dengan keikhlasan hati, membebaskan Hajar dan menawarkannya sebagai istri bagi Ibrahim. Setahun kemudian, Hajar melahirkan seorang putra yang diberi nama Ismail.

Meskipun bahagia, Sarah merasa sedih karena belum dapat memberi keturunan. Namun Allah mengabulkan doanya—di usia 62 tahun, Sarah hamil dan melahirkan Ishak. Kedua putra Ibrahim inilah yang kelak menjadi nabi, menjadikan Ibrahim dijuluki “Bapak Para Nabi.”

Ketika Ismail masih bayi, turunlah perintah Allah yang mengejutkan: Ibrahim harus membawa Hajar dan Ismail ke sebuah lembah tandus di Makkah. Tempat itu benar-benar gersang—tanpa air, tanpa tumbuhan, tanpa kehidupan apapun. Hanya ada pondasi bangunan suci yang telah didirikan Nabi Adam dan anaknya Syits, yang kemudian hancur saat banjir besar di zaman Nuh.

Ibrahim mematuhi perintah itu dengan hati berat. Setibanya di lembah gersang tersebut, ia meninggalkan istri dan anaknya tanpa banyak bekal. Hajar kebingungan melihat Ibrahim berbalik pergi. Ia berlari mengejar, bertanya berkali-kali, namun Ibrahim terus berjalan sambil menangis.

Akhirnya Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkan ini?” Ibrahim hanya mengangguk. Jawaban Hajar sungguh mengagumkan: “Kalau begitu, Allah tidak akan membiarkan kami mati. Pergilah!”

Mukjizat Zamzam

Ibrahim meninggalkan mereka sambil berdoa, “Ya Allah, aku telah meninggalkan keluargaku di lembah tanpa kehidupan, di dekat Rumah-Mu yang mulia. Semoga Engkau kirimkan orang-orang yang dapat menemani mereka.”

Hajar kini sendirian dengan bayinya. Air bekal hampir habis, terik matahari menyengat. Sebelum malam tiba, ia memutuskan mencari tanda kehidupan. Ia melihat dua bukit terdekat—Safa dan Marwah.

Naik ke Safa, ia mengira melihat air di Marwah karena fatamorgana. Ia turun dan berlari melintasi lembah, lalu naik ke Marwah. Dari sana, ia melihat seolah ada air di Safa. Begitu seterusnya—bolak-balik tujuh kali antara kedua bukit itu, hingga akhirnya ia menyadari itu hanya khayalan.

Dengan lelah, ia kembali ke Ismail. Betapa kagetnya—di bawah kaki bayinya, muncul mata air! Allah mengirim Malaikat Jibril yang mengepakkan sayapnya, dan keluarlah air yang jernih.

Dengan penuh syukur dan khawatir air akan habis, Hajar membuat bendungan kecil sambil mengucap dalam bahasa Palestina, “Zam zam!”—yang artinya “Berkumpullah, berkumpullah!” Nabi Muhammad kelak bersabda, “Semoga Allah merahmati ibu Ismail. Seandainya ia tidak membendungnya, Zamzam akan menjadi lautan luas.”

Terbentuknya Kota Makkah

Pada waktu yang sama, jauh di Yaman, terjadi bencana besar. Bendungan Ma’rib hancur sebagai hukuman atas kekufuran penduduknya. Suku-suku Arab terpaksa bermigrasi ke utara menuju Syam. Dalam perjalanan melintasi Jazirah Arab, mereka melihat burung-burung berputar di atas lembah Makkah—pertanda ada air.

Suku Jurhum mengirim utusan dan menemukan Hajar dengan Ismail di dekat mata air Zamzam. Dengan sopan, mereka meminta izin tinggal. Hajar menyetujui dengan syarat mereka membayar upeti.

Inilah jawaban doa Ibrahim. Dalam sekejap, lembah kosong itu berubah menjadi komunitas hidup. Suku Jurhum membangun rumah, membawa ternak, dan mulai bercocok tanam. Makkah lahir sebagai kota.

Ujian Perceraian dan Penyembelihan

Ismail tumbuh besar di tengah Suku Jurhum dan menikah dengan putri kepala suku. Ia sangat gemar berburu, sering pergi berbulan-bulan.

Suatu hari, Ibrahim datang berkunjung saat Ismail sedang berburu. Ia bertanya pada menantu pertamanya tentang kehidupan mereka. Sang istri mengeluh tanpa henti, tak pernah bersyukur. Ibrahim berpesan, “Sampaikan pada suamimu: gantilah tiang pintu rumahnya.”

Ketika Ismail pulang dan mendengar pesan itu, ia langsung paham—ayahnya menyuruhnya mengganti istri. Ia pun menceraikan istrinya dengan sopan.

Beberapa bulan kemudian, Ibrahim datang lagi. Kali ini Ismail telah menikah lagi dengan wanita lain dari suku yang sama. Sang istri menyambut dengan penuh syukur dan pujian kepada Allah. Ibrahim berpesan, “Katakan padanya: pertahankan tiang pintu rumahmu.” Ismail memahami—ayahnya menyetujui pernikahannya.

Akhirnya ayah dan anak bertemu. Tak lama kemudian, datang ujian paling berat: Ibrahim bermimpi disuruh menyembelih Ismail. Bagi para nabi, mimpi adalah wahyu. Dengan berat hati, Ibrahim menyampaikan mimpinya.

Jawaban Ismail mencerminkan keimanan sempurna: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan. Engkau akan mendapatiku, insya Allah, termasuk orang yang sabar.”

Ritual yang Abadi

Mereka berdua berjalan menuju Mina. Di tiga titik berbeda, setan mencoba mengganggu Ibrahim. Setiap kali, Ibrahim melemparnya dengan tujuh kerikil sambil bertakbir—inilah asal ritual lempar jumrah.

Di tempat penyembelihan, Ibrahim telah meletakkan pedang di leher Ismail. Keduanya telah menyerah total pada kehendak Allah. Tepat saat pedang diayunkan, Jibril turun membawa domba besar sebagai pengganti. “Wahai Ibrahim, sungguh kamu telah membenarkan mimpi itu!”

Setelah ujian berat itu, Ibrahim dan Ismail diperintahkan membangun kembali Ka’bah di atas pondasinya yang lama. Saat memeriksa bangunan dari tempat tinggi, jejak kaki Ibrahim tertinggal di batu—kini dikenal sebagai Maqam Ibrahim.

Ismail mencari batu yang kokoh untuk sudut bangunan. Ia membawa Hajar Aswad, batu yang semula berwarna putih terang namun menghitam karena dosa anak Adam. “Dari mana kau dapat ini?” tanya Ibrahim. “Allah mengirimnya melalui malaikat,” jawab Ismail.

Setelah Ka’bah selesai, Allah memerintahkan Ibrahim menyerukan kepada seluruh manusia untuk berziarah. Ibrahim naik ke tempat tertinggi dan berseru mengajak manusia datang berhaji. Suaranya dibawa angin ke seluruh penjuru bumi, dan jiwa-jiwa yang beriman menjawab panggilan itu.

Demikianlah, dari serangkaian ujian dan ketaatan yang luar biasa, lahirlah ritual suci yang terus dilaksanakan hingga hari ini—sebuah warisan iman dari keluarga mulia Nabi Ibrahim.

Sumber