BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

PUNGGAWANEWS, Abu Hurairah RA adalah salah seorang sahabat Nabi yang hidup dalam kondisi miskin. Ia termasuk golongan Ahlus Syuffah, yaitu para sahabat yang tidak memiliki tempat tinggal dan hidup menumpang di pelataran Masjid Nabawi. Kehidupan mereka penuh dengan ujian, salah satunya adalah rasa lapar yang sering mendera.

Suatu hari, Abu Hurairah duduk di tepi jalan. Perutnya terus meronta karena kelaparan hebat. Ia mencoba meredam rasa lapar yang menyiksa tersebut dengan cara melilitkan batu di perutnya. Inilah gambaran perjuangan hidupnya dan kesabarannya dalam menghadapi kekurangan.

Panggilan Nabi dan Keajaiban Susu

Di tengah kondisi laparnya, tiba-tiba terdengar suara memanggilnya, yaitu suara Rasulullah SAW

“Wahai Abu Hurairah! Ayo ikut aku ke rumah.”

Dengan penuh semangat, Abu Hurairah segera mengikuti ajakan mulia dari Rasulullah. Setibanya di rumah, ternyata Rasulullah SAW baru saja mendapatkan semangkuk susu sebagai hadiah dari seorang sahabat.

Alih-alih langsung meminumnya, Rasulullah SAW justru meminta Abu Hurairah untuk melakukan sesuatu: memanggil Ahlus Syuffah agar mereka juga datang ke rumah.

Melayani Tamu dan Kekhawatiran Abu Hurairah

Meskipun perutnya keroncongan, dorongan untuk menaati perintah Nabi jauh lebih besar. Abu Hurairah segera bergegas menuju masjid untuk mengundang seluruh Ahlus Syuffah. Tak lama kemudian, semua Ahlus Syuffah yang berjumlah lebih dari 40 orang telah berkumpul di rumah Nabi.

Setelah semua berkumpul, Nabi SAW menyuruh Abu Hurairah untuk melayani dan membagikan susu tersebut kepada mereka. Ketika ia hendak memulai pembagian, rasa cemas menyelimutinya:

“Apakah semangkuk susu ini akan cukup? Bagaimana jika aku tak kebagian?”

Namun, ia tetap menjalankan perintah Rasulullah SAW

Berkah yang Tak Pernah Habis

Satu per satu, para anggota Ahlus Syuffah minum susu tersebut secara bergiliran. Anehnya, meskipun lebih dari 40 orang minum dari mangkuk yang sama, susu tersebut tidak pernah habis! Semuanya minum hingga kenyang. Ini adalah mukjizat dan berkah yang Allah SWT limpahkan melalui tangan Rasul-Nya.

Setelah semua anggota Ahlus Syuffah kenyang, Rasulullah SAW tersenyum dan berkata:

“Sekarang giliranmu, ya Abu Hurairah.”

Abu Hurairah pun minum hingga ia benar-benar merasa kenyang. Terakhir, Rasulullah SAW meminum sisa susu yang ada di mangkuk, setelah semua orang selesai dan terpuaskan.

Hikmah yang Bisa Dipetik

Kisah ini memberikan beberapa pelajaran berharga untuk kajian subuh kita:

  1. Kepedulian Pemimpin: Rasulullah SAW selalu mendahulukan orang lain, terutama mereka yang lemah dan miskin (Ahlus Syuffah), bahkan untuk urusan sesuap makanan.
  2. Berkah dalam Kedermawanan: Sedikit harta yang didasari keikhlasan dan niat baik untuk berbagi (terutama kepada mereka yang membutuhkan) dapat mendatangkan berkah yang melimpah dari Allah SWT.
  3. Keyakinan kepada Rasulullah: Abu Hurairah melaksanakan perintah Nabi meskipun ia cemas susu itu tidak cukup. Ini menunjukkan ketaatan yang membuahkan hasil luar biasa.

Semoga kita dapat meneladani akhlak mulia Rasulullah SAW dalam kepedulian dan kedermawanan.