PUNGGAWANEWS – Dalam sejarah para nabi, kisah Nabi Yusuf AS tercatat sebagai salah satu narasi paling menyentuh tentang ujian keimanan, kesabaran, dan cinta yang suci. Putra kesayangan Nabi Yakub AS ini dianugerahi ketampanan luar biasa yang kelak mengubah takdirnya di tanah Mesir.
Awal Kehidupan: Anak Istimewa dari Keluarga Besar
Nabi Yakub AS dikaruniai banyak putra dari empat istrinya. Dari istri pertama, Laya, lahir Lewi, Syamun, Yahuda, Raubin, Zabulan, dan Yazakir. Namun dari Rahil, istri kedua yang sangat dicintainya, lahir dua putra yang istimewa: Yusuf dan Bunyamin.
Di antara semua putranya, Yusuf menunjukkan ketaatan luar biasa terhadap ajaran ayahnya. Ketampanan dan budi pekerti luhurnya terpancar sejak kecil, membuat Nabi Yakub memberikan perhatian khusus padanya.
Mimpi yang Mengubah Segalanya
Suatu hari, Yusuf muda datang kepada ayahnya dengan wajah berseri. “Wahai ayah, aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadaku,” ungkapnya. Nabi Yakub menyadari ini adalah isyarat Allah bahwa Yusuf akan menjadi pemimpin besar. Namun beliau menasihati, “Jangan ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, agar tidak timbul kedengkian.”
Konspirasi Saudara Kandung
Perhatian khusus ayah mereka kepada Yusuf memicu kecemburuan di kalangan saudara-saudaranya. Mereka merencanakan untuk menyingkirkan Yusuf. Dengan dalih mengajak bermain, mereka membawa Yusuf ke padang gurun dan membuangnya ke dalam sumur.
Pulang dengan membawa baju Yusuf yang dilumuri darah kambing, mereka mengadu kepada ayah mereka dengan air mata palsu. “Ayah, serigala telah memangsa Yusuf,” kata mereka. Namun Nabi Yakub, dengan hati yang hancur, menyadari ada yang tidak beres. Ia hanya bisa bersabar dan berdoa kepada Allah.
Perjalanan ke Mesir: Dari Budak Menjadi Pembesar
Kafilah dagang menemukan Yusuf di sumur dan membawanya ke pasar budak Mesir. Di sana, seorang pembesar istana bernama Wazir Agung membelinya dan memerintahkan istrinya, Zulaikha, untuk merawatnya dengan baik.
Seiring waktu, ketampanan Yusuf yang luar biasa membuat Zulaikha jatuh cinta. Namun Yusuf, yang selalu menjaga kesuciannya, menolak rayuan tersebut. “Aku berlindung kepada Allah. Tuanmu telah memperlakukanku dengan baik,” kata Yusuf menolak.
Penolakan ini menyebabkan Yusuf difitnah dan dimasukkan ke penjara, meski kebenaran akhirnya terungkap melalui kesaksian keluarga Wazir Agung sendiri.
Mimpi Raja dan Kebijaksanaan Yusuf
Di penjara, Yusuf dikenal karena kemampuannya menafsirkan mimpi. Ketika Raja Mesir bermimpi tentang tujuh sapi gemuk yang dimakan tujuh sapi kurus, tak seorang pun bisa menafsirkannya. Yusuf dipanggil dan menjelaskan: “Tujuh tahun masa subur akan diikuti tujuh tahun kekeringan. Simpanlah hasil panen dengan baik.”
Takjub dengan kebijaksanaannya, Raja mengangkat Yusuf sebagai bendahara kerajaan. Pada usia 30 tahun, Yusuf menjadi salah satu orang paling berkuasa di Mesir.
Pertemuan Kembali dengan Saudara
Ketika kekeringan melanda, saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir mencari bantuan. Yusuf mengenali mereka, namun mereka tidak mengenalinya. Setelah serangkaian ujian untuk mengetahui apakah mereka telah berubah, Yusuf akhirnya membuka identitasnya.
“Akulah Yusuf, saudaramu yang dulu kalian buang,” katanya. Saudara-saudaranya terkejut dan penuh penyesalan. Yusuf memaafkan mereka dengan lapang dada.
Kisah Cinta Zulaikha yang Tulus
Bertahun-tahun kemudian, Yusuf mendengar doa seorang wanita tua di pinggir jalan. Ternyata itu adalah Zulaikha, yang kini hidup dalam kemiskinan dan kebutaan. Ia telah bertobat dan meninggalkan kehidupan lamanya.
“Aku mencintaimu bahkan sebelum kita bertemu, melalui mimpiku,” kata Zulaikha dengan suara bergetar. Terharu dengan ketulusannya, Yusuf berdoa kepada Allah, dan penglihatan Zulaikha dipulihkan. Mereka pun menikah dalam ikatan yang diberkahi Allah.
Warisan Keimanan
Dari pernikahan Yusuf dan Zulaikha, lahir dua putra: Afraim dan Manasya, yang menjadi penerus keluarga yang saleh. Nabi Yakub yang sempat kehilangan penglihatan karena kesedihan, akhirnya dapat berkumpul kembali dengan seluruh keluarganya di Mesir.
Kisah Nabi Yusuf mengajarkan tentang kesabaran menghadapi ujian, kekuatan iman dalam godaan, dan kuasa pengampunan. Mimpi yang pernah dilihatnya di masa kecil akhirnya terwujud—keluarganya bersujud menghormatinya, bukan karena kedudukannya, tetapi karena Allah telah meninggikan derajatnya melalui keimanan dan kesabaran yang tak pernah goyah.
Kisah ini diabadikan dalam Al-Quran Surah Yusuf sebagai salah satu kisah paling indah (Ahsanul Qasas), mengajarkan nilai-nilai kesabaran, keikhlasan, dan cinta yang suci kepada umat manusia hingga akhir zaman.


Tinggalkan Balasan