Ibunya adalah segalanya bagi Uwais. Ia merawatnya dengan penuh kasih dan ketaatan. Suatu hari, sang ibu menyampaikan keinginannya yang sangat besar: menunaikan ibadah haji ke Baitullah.

Keinginan itu membuat Uwais terdiam. Ia miskin, tak memiliki kendaraan, dan perjalanan dari Yaman ke Makkah sangat jauh dan berat. Orang-orang biasanya menempuhnya dengan unta dan perbekalan yang cukup. Tapi cinta Uwais kepada ibunya tak mengenal kata mustahil.

Latihan yang Mengundang Ejekan

Uwais membeli seekor anak sapi dengan harga murah. Setiap hari, ia menggendong anak sapi itu naik turun bukit di dekat rumahnya. Orang-orang menertawakannya dan menganggapnya gila.

Hari demi hari berlalu. Anak sapi itu semakin besar, dan kekuatan Uwais pun semakin terlatih. Delapan bulan kemudian, tibalah musim haji. Kini orang-orang baru menyadari maksud Uwais yang sebenarnya: ia melatih diri untuk menggendong ibunya menuju Makkah.

Dengan penuh keteguhan, Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman hingga ke Baitullah. Subhanallah, betapa besar baktinya kepada sang ibu.