Di tengah gemerlapnya kota Madinah, hiduplah seorang sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang kisahnya mengajarkan kita makna sejati kemuliaan dan cinta. Beliau adalah Julaibib, seorang pemuda yang mungkin luput dari pandangan mata manusia, namun menjadi kekasih Allah di surga. Julaibib memiliki penampilan yang sederhana, tubuh yang pendek, dan hidup dalam kemiskinan, bahkan seringkali orang-orang cenderung menjauhinya.
Namun, yang membedakan Julaibib adalah hatinya. Ia adalah sosok yang selalu berada di barisan depan—baik dalam salat berjemaah, maupun dalam medan jihad. Ini menunjukkan prioritas hidupnya: selalu dekat dengan Allah dan Rasul-Nya.
Sentuhan Kasih Sayang Rasulullah ﷺ
Suatu hari, dengan penuh kelembutan, Rasulullah ﷺ menatap Julaibib dan bertanya, “Wahai Julaibib, tidakkah engkau ingin menikah?”
Pertanyaan ini disambut Julaibib dengan senyum lirih dan jawaban yang mencerminkan realitas sosialnya: “Siapa yang mau menikahkan putrinya denganku, ya Rasulullah?”
Menanggapi keraguan itu, Rasulullah ﷺ mengambil tindakan mulia. Beliau menggandeng tangan Julaibib dan mendatangi seorang pemuka Ansar untuk meminang putrinya bagi Julaibib. Awalnya, ayah dan ibunya terkejut. Namun, sang gadis menunjukkan keimanan yang luar biasa. Ia berkata pelan, “Jika Rasulullah yang memilih, maka aku rida.”
Keputusan iman ini membawa keberkahan yang tak terhingga ke dalam rumah tangga mereka. Kisah ini mengajarkan bahwa pilihan Allah dan Rasul-Nya selalu membawa kebaikan, jauh melampaui pertimbangan duniawi.
Pengorbanan di Medan Jihad dan Tangisan Nabi ﷺ
Tak lama kemudian, panggilan suci jihad tiba. Julaibib dengan gagah berani berangkat ke medan perang, berdiri tegak membela Islam.
Setelah pertempuran usai, Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian kehilangan seseorang?”
Mereka menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.”
Mendengar itu, hati Rasulullah ﷺ terasa berat. Beliau menunduk dan berkata lirih, “Tapi aku kehilangan Julaibib.”
Para sahabat kemudian mencari Julaibib. Mereka menemukannya gugur sebagai syahid, tergeletak di sisi tujuh musuh yang berhasil ia kalahkan sebelum wafatnya.
Pemandangan ini menyentuh hati Baginda Nabi ﷺ. Rasulullah ﷺ turun sendiri, mengangkat tubuh Julaibib ke pangkuannya, sambil berkata dengan air mata mengalir, “Dia milikku dan aku miliknya.”
Beliau tidak menyerahkan tugas pemandian dan penguburan kepada orang lain. Rasulullah ﷺ memandikan dan menguburkan Julaibib dengan tangan beliau sendiri. Sebuah penghormatan yang luar biasa, tangisan haru dari manusia termulia di sisi seorang yang dianggap remeh oleh sebagian orang.
Penutup: Kemuliaan yang Kekal
Kisah Julaibib adalah pengingat yang menyentuh hati. Pemuda yang dulu tak dipandang dan dicampakkan oleh sebagian manusia, di sisi Allah dan Rasul-Nya, justru dimuliakan dengan kemuliaan yang tak terhingga.
Ini membuktikan bahwa nilai seorang hamba tidak diukur dari ketampanan, kekayaan, atau kedudukan sosial, melainkan dari keimanan, ketakwaan, dan kesungguhan hatinya dalam beribadah dan berjihad di jalan Allah.
Semoga kita dapat meneladani keikhlasan dan keberanian Julaibib, sehingga kita pun dapat menjadi hamba yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.
Kisah Julaibib ini setidaknya memberikan tiga ibrah untuk kita:
1. Allah tidak memandang fisik dan harta, namun amal dan hati
Julaibib tidak tampan juga tidak kaya. Namun, ia mulia dalam penilaian Allah dan RasulNya. Karena apa? Karena amal dan hatinya. Ia sahabat yang selalu berusaha membersamai Rasulullah dan membaktikan dirinya untuk Islam.
Ketika seruan jihad datang, ia segera bergegas untuk menyambutnya. Tanpa menunda, tanpa banyak alasan. Bahkan saat malam pertama, yang umumnya akan menjadi alasan udzur dari jihad, ia tetap bersegera berangkat ke medan jihad. Ia tinggalkan kesenangan duniawi menuju perintah Allah yang hakikatnya adalah jalan menuju kebahagiaan sejati.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa dan harta kalian, namun Allah memandang hati dan amal-amal kalian” (HR. Muslim)
2. Julaibib dan istrinya bergegas memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya
Kisah ini mengajarkan kita untuk bergegas memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Tidak menunda-nunda dan juga tidak mencari-cari pilihan lain ketika ada ketetapannya.
Istri Julaibib mencontohkan itu. Meskipun calon suaminya tidak tampan dan tidak kaya, yang bahkan orangtuanya ragu apakah ia akan bahagia hidup bersama suami seperti itu, ia langsung menerima karena yang melamarkannya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ia benar-benar mengamalkan firman Allah dalam surat Al Ahzab ayat 36 yang menyebutkan karakter orang beriman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
“Tidak tidaklah patu bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 36)
Demikian pula Julaibib, begitu ada seruan jihad, ia langsung berangkat. Tidak ada pilihan lain baginya.
3. Lebih baik terkenal di langit daripada terkenal di bumi
Julaibib bukanlah sahabat ternama. Namanya tidak begitu populer bagi kita. Dan memang banyak sahabat yang tidak kita kenal, namun mereka terkenal di langit.
Saat Rasulullah wafat, ada sekitar 110.000 sahabat. Berapa di antara mereka yang kita kenal namanya?
Nama Julaibib tidak begitu populer. Dalam sejumlah kitab sirah sahabat, biografinya tidak dibahas. Misalnya dalam Rijal Haula Rasul yang ditulis oleh Syaikh Khalid Muhammad Khalid, tidak ada namanya di antara 60 sahabat yang beliau tulis. Pun dalam Shuwar Min Hayati Shahabat karya Syaikh Abdurrahman Raf’at Al Basya yang berisi 60 sirah shahabat, tidak ada nama Julaibib. Namanya baru kita dapati saat kita membaca sirah shahabat yang ditulis oleh Syaikh Mahmud Al Mishri berjudul Ashabur Rasul. Pada jilid terakhir dari 104 nama sahabat, ada kisah Julaibib.
Para sahabat yang tidak merasa kehilangan Julaibib usai perang di atas juga menunjukkan bahwa ia tidak terlalu dikenal di kalangan mereka. Namun, ia terkenal di langit, populer di hadapan Allah hingga Rasulullah mempersaksikan, “Julaibib adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian dari Julaibib.”

Tinggalkan Balasan