Bagian Kedua: Air Mata Malaikat dan Tangisan Bayi
Jamaah yang berbahagia, mari kita renungkan momen ini. Malaikat Izrail—yang telah mencabut nyawa miliaran manusia sejak Nabi Adam ‘alaihissalam hingga hari ini—menangis. Bukan karena takut atau ragu terhadap perintah Allah, tetapi karena belas kasihan melihat bayi tak berdaya yang menangis sendirian di tengah gurun.
Tangisan bayi itu adalah tangisan ketidakberdayaan. Ia baru saja lahir, belum mengenal dunia, dan sudah kehilangan ibunya. Tidak ada yang menyusuinya. Tidak ada yang menggendongnya. Tidak ada yang melindunginya dari terik matahari padang pasir atau dinginnya malam gurun.
Dan di sinilah kita belajar pelajaran pertama: bahkan malaikat pun merasakan iba terhadap penderitaan manusia. Lantas, bagaimana seharusnya kita sebagai sesama manusia? Seharusnya hati kita jauh lebih lembut, jauh lebih mudah tersentuh oleh penderitaan saudara-saudara kita.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Orang yang tidak menyayangi manusia, tidak akan disayangi oleh Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bagian Ketiga: Cahaya yang Menyilaukan dari Seorang Ulama
Malaikat Izrail kemudian melanjutkan ceritanya kepada Allah:
“Aku juga pernah merasa heran saat mencabut nyawa seorang ulama besar. Saat aku mendatanginya, dari kamarnya terpancar cahaya yang amat terang hingga menyilaukan pandanganku—seakan ingin menghalangiku dari tugas yang telah Engkau perintahkan. Namun dengan izin-Mu, aku mencabut nyawanya bersama cahaya itu.”
Jamaah yang dimuliakan Allah, pernahkah kita membayangkan bagaimana kondisi kita saat malaikat Izrail datang menjemput kita? Apakah dari kamar kita akan terpancar cahaya keimanan dan amal shalih? Atau justru kegelapan dosa dan maksiat?
Cahaya yang dilihat oleh malaikat Izrail bukanlah cahaya fisik seperti lampu atau matahari. Itu adalah cahaya iman, cahaya ilmu, cahaya amal shalih yang terpancar dari hati seorang hamba yang dekat dengan Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
“Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seperti bintang (yang bercahaya) seperti mutiara…” (QS. An-Nur: 35)


Tinggalkan Balasan