PUNGGAWANEWS, Kisah Urwah bin Zubair RA adalah salah satu yang paling menggetarkan dalam sejarah Islam, menunjukkan puncak kesabaran, keimanan, dan syukur seorang mukmin di tengah ujian yang sangat berat. Beliau adalah sosok yang sangat luar biasa dan terkenal dengan kesalehannya, putra dari Zubair bin Awwam, salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga.
Cita-cita yang Berbeda dan Terkabul
Urwah bin Zubair pernah duduk bersama teman-teman seperjuangannya di depan Ka’bah, termasuk saudaranya Abdullah bin Zubair, Abdul Malik ibn Marwan, dan adik Abdul Malik. Mereka sepakat untuk saling mengungkapkan harapan yang paling mereka dambakan, seraya memohon kepada Allah SWT.
Abdullah bin Zubair berharap menjadi khalifah, menguasai Hijaz (Makkah dan Madinah). Adiknya berharap menjadi penguasa wilayah Persia (Khurasan). Sementara Abdul Malik ibn Marwan berangan-angan menjadi khalifah muslimin secara umum, menguasai semua wilayah Islam.
Saat giliran Urwah, ia berkata, “Semua yang kalian harapkan adalah duniawi, berharap menjadi khalifah dan menguasai wilayah. Kalau saya, saya berharap menjadi seorang alim ulama muslimin, mengajarkan mereka tentang halal dan haramnya Sang Pencipta Allah, dan saya berharap balasan darinya.“
Subhanallah, angan-angan mereka terkabul. Abdullah bin Zubair sempat menjadi khalifah, adiknya menjadi gubernur di Khurasan, dan Abdul Malik menjadi khalifah muslimin yang besar. Urwah bin Zubair RA pun diangkat derajatnya oleh Allah dan diterima menjadi alim ulama, bahkan menjadi salah satu dari tujuh ulama Madinah pada masanya.
Ujian Berat yang Menggugah Keimanan
Ringkas cerita, Urwah bin Zubair pernah diuji oleh Allah SWT dengan ujian yang sangat berat. Ujian bagi orang beriman memang berat, namun sejatinya cobaan adalah tanda cinta dari Allah. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadis qudsi riwayat Bukhari, Allah berfirman: “Aku sesuai dengan prasangkaan hamba-Ku.”
Urwah datang mengunjungi khalifah Al-Walid bin Abdul Malik di Damaskus, yang merupakan teman dekatnya. Ia membawa putra laki-lakinya satu-satunya, seorang penghafal Al-Qur’an berusia sekitar 20 tahun, yang sedang dipersiapkan menjadi kadernya.
Ketika Urwah sedang berbincang dengan Khalifah Al-Walid, tiba-tiba seorang pengawal masuk menyampaikan berita mengejutkan. Putra Urwah meninggal di kandang kuda kerajaan karena tertendang kuda saat menonton.
Mendengar kabar duka ini, Urwah bin Zubair justru tersenyum seraya berujar dengan tenang: “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.” Ia mengurus jenazah putranya sendiri, memandikannya, dan dikisahkan tidak setetes pun air mata jatuh dari matanya.
Sakit dan Amputasi Kaki
Setelah selesai mengurus jenazah, Urwah meminta izin kepada Khalifah Al-Walid untuk menurunkan sendiri jenazah putranya ke liang lahat.
Subhanallah, saat keluar dari kuburan, kaki Urwah menyentuh tanah dan tiba-tiba terserang penyakit Gargarina (gangren), yang pada zaman itu tidak ada obatnya selain harus diamputasi karena membusuk dengan cepat.
Dalam waktu yang sama, anaknya baru saja meninggal dan dikuburkan, kini ia sendiri harus kehilangan salah satu kakinya. Ketika ditanya bagaimana keadaannya, Urwah kembali tersenyum dan berkata: “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn. Potong saja.”
Saat pemotongan, tabib menyarankan agar Urwah dibuat mabuk dengan khamar (minuman keras) agar tidak sadar dari rasa sakit, karena pemotongan tulang dan daging adalah prosedur yang sangat menyakitkan. Urwah menolak dengan tegas, “Demi Allah, saya tidak pernah menyentuh setetes pun yang haram di tenggorokan saya. Masa sekarang saya mau begitu ketika cobaan datang?”
Akhirnya, disepakati bahwa Urwah akan berzikir. Ia meminta, “Saya akan bertasbih dan bertahlil, berzikir kepada Allah. Kalau kau lihat wajah saya sudah merah, potong kaki saya.”
Ketika wajahnya memerah karena menahan rasa sakit, tabib pun memotong kakinya. Urwah tetap berzikir: “Subhanallah, walhamdulillah, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar.” Begitu selesai dipotong, tabib memberitahunya, dan Urwah mengucapkan: “Alhamdulillah.”
Untuk menghentikan pendarahan, kaki Urwah harus direndam dalam minyak panas. Ketika direndam, ia sempat berteriak sebentar lalu pingsan.
Puncak Rasa Syukur
Setelah siuman, Urwah meminta telapak kakinya yang terpotong untuk didatangkan. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi dan berkata:
“Demi Allah, selama 40 tahun (usianya saat itu), belum pernah sekalipun saya gunakan kau ke tempat yang haram, dan saya bersyukur kepada Allah karena kau dikembalikan pada-Nya dalam kondisi kau suci, tidak pernah satu kali pun ke tempat yang haram.”
Ketika pulang ke Madinah, banyak orang datang menemuinya untuk memberikan ucapan belasungkawa dan kesabaran. Urwah menjawab:
“Jangan sampai kalian merasa sedih dengan apa yang kalian lihat atau kalian mungkin menganggap ini sesuatu yang berat. Faqad wahaballāhu ‘azza wa jalla arba’ minal banīn (Sesungguhnya Allah mengaruniakan saya empat anak). Fa-akhaza wāhidan (Dia mengambil satu), wa abqā lī tsalātsatan (dan masih memberikan saya tiga). Falahul hamd (Maka saya bersyukur dengan itu, dengan matinya anak saya).”
“Dia memberikan kepada saya empat anggota gerak (dua tangan, dua kaki), fa-akhadza minhu wāhidan (dan Dia cuma ambil satu saja), wa abqā lī tsalātsan (Dia meninggalkan tiga), falahul hamd (Saya bersyukur dengan itu).”
“Demi Allah, kalau seandainya Allah mengambil sedikit dari saya, Dia telah meninggalkan buat saya hal yang banyak. Kalau Dia coba saya dengan satu kali, Dia telah memaafkan saya dan menyelamatkan saya dalam banyak kejadian yang lain.”
Urwah bin Zubair RA memberikan teladan agung bagi umat Islam, bahwa syukur bukan hanya saat nikmat datang, melainkan juga saat musibah menghampiri. Ia mengingatkan kepada anak-anaknya: “Belajarlah ilmu agama yang benar, dan lowongkan waktu untuk itu… Hati-hati jangan pernah kalian melihat amal yang kalian kerjakan sebagai sesuatu yang remeh, tapi jadikanlah sedekah itu sebagai hadiah yang kalian berikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”
Urwah bin Zubair rahimahullah dikenal sebagai Khazinul Qur’an (sahabat Al-Qur’an) karena tidak pernah meninggalkan Rubu’ Al-Qur’an (sekitar 10 juz) setiap hari, bahkan dalam 3 hari ia selalu mengkhatamkan Al-Qur’an. Hari ia diuji dengan kematian putranya dan pemotongan kakinya adalah satu-satunya hari dalam hidupnya ia tidak sempat membaca 10 juz. Kisah ini adalah bukti nyata bahwa cinta Allah kepada hamba-Nya terkadang diwujudkan melalui ujian yang mengantarkan mereka pada derajat tertinggi di surga.


Tinggalkan Balasan