PUNGGAWANEWS – Dalam sebuah kajian mendalam tentang ketahanan mental dan spiritual, Ustadz Adi Hidayat menghadirkan perspektif islami tentang bagaimana menghadapi ujian hidup dengan mengambil teladan dari perjalanan Rasulullah Muhammad SAW. Kajian ini memberikan pencerahan bagi umat Islam yang sedang mengalami berbagai kesulitan dalam kehidupan.
Miniatur Kehidupan dalam Perjalanan Rasulullah
Menurut Ustadz Adi Hidayat, seluruh spektrum emosi dan kondisi kehidupan manusia telah dicontohkan dalam perjalanan hidup Rasulullah SAW. Mulai dari kegelisahan, kebahagiaan, hingga kekhawatiran, semua telah dialami oleh beliau sebagai panduan bagi umatnya.
“Rasulullah SAW telah merasakan semua kondisi jiwa yang kita alami. Beliau pernah gelisah, bahagia, dan khawatir. Miniatur kehidupan kita sudah dicontohkan dalam perjalanan hidup beliau,” ungkap Ustadz Adi Hidayat.
Tanpa keteladanan Rasulullah, manusia tidak akan mengetahui cara menyelesaikan problematika kehidupan yang kompleks hingga saat ini.
Masa Sulit Rasulullah: Ketika Wahyu Tertunda
Salah satu periode paling berat dalam kehidupan Rasulullah adalah masa Fatrah al-Wahy (terputusnya wahyu). Setelah bertahun-tahun menerima wahyu secara rutin, tiba-tiba wahyu berhenti turun dalam jangka waktu yang cukup lama.
Kondisi ini membuat Rasulullah sangat gelisah. Beliau sering naik ke puncak bukit mencari wahyu, namun tidak kunjung datang. Keadaan ini dimanfaatkan oleh kaum kafir Quraisy untuk melontarkan tuduhan yang sangat menyakitkan.
Tuduhan yang Dilontarkan:
- Muhammad telah gila
- Muhammad ditinggalkan oleh Tuhannya
- Muhammad kehilangan pegangan
- Muhammad tidak memiliki orientasi yang jelas
Para musuh Islam bahkan mengatakan bahwa Rasulullah terlihat seperti orang frustasi yang bolak-balik naik turun bukit tanpa tujuan yang jelas.
Turunnya Surah Ad-Dhuha dan Al-Insyirah
Setelah menghadapi berbagai cacian dan tuduhan, Allah SWT menurunkan dua surah sekaligus sebagai jawaban dan penghiburan: Surah Ad-Dhuha (93) dan Surah Al-Insyirah (94).
Makna Mendalam Surah Ad-Dhuha
Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa kata “wadh-dhuha” bukan sekadar bersumpah dengan waktu dhuha, melainkan memiliki makna yang lebih dalam dalam ilmu balaghah (retorika Arab).
Tiga Cabang Ilmu Balaghah:
- Ilmu Ma’ani – Memilih kata-kata yang tepat sesuai konteks
- Ilmu Bayan – Mengemas kosakata agar jelas dan mudah dipahami
- Ilmu Badi’ – Menghiasi kalimat agar terasa nikmat dan indah
Kata “dhuha” melambangkan waktu kenyamanan, kehangatan, dan ketenangan. Allah bersumpah dengan segala kenikmatan yang pernah dirasakan Rasulullah dalam hidupnya.
Terjemahan yang lebih luas: “Demi segala kenikmatan yang pernah engkau rasakan dalam hidupmu, seperti engkau merasakan kehangatan waktu dhuha.”
Analogi Kegelapan Malam
Allah juga bersumpah dengan “wal-layli idza saja” (demi malam yang gelap gulita). Kegelapan malam yang pekat dianalogikan dengan masalah-masalah berat yang menyelimuti kehidupan seseorang.
Ustadz Adi Hidayat memberikan ilustrasi: “Ketika kegelapan sangat pekat, semua aktivitas menjadi sulit. Bahkan untuk menemukan sandal pun susah. Begitulah ketika masalah menyelimuti hidup seseorang, seolah-olah dia berada dalam kegelapan meski di siang hari.”
Janji Allah yang Tidak Pernah Ingkar
Dalam kondisi paling sulit sekalipun, Allah memberikan jaminan kepada Rasulullah dan seluruh umat beriman:
“Ma wadda’aka rabbuka wa ma qala” – “Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak membencimu”
Pesan Universal untuk Umat:
- Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya yang beriman
- Ujian saat ini adalah persiapan untuk menghadapi tantangan yang lebih besar
- Kehidupan akhirat akan memberikan kepuasan yang sempurna
Pelajaran dari Kisah Kelapangan Hati
Ustadz Adi Hidayat membandingkan dua nabi dalam menghadapi ujian:
Nabi Musa AS: Meminta Kelapangan Hati
Nabi Musa memohon kepada Allah: “Rabbi-syrahli shadri” (Ya Tuhanku, lapangkanlah hatiku) sebelum menghadapi Firaun yang terkenal keras dan kejam.
Nabi Muhammad SAW: Diberi Kelapangan Tanpa Meminta
Allah langsung memberikan kelapangan hati kepada Rasulullah melalui ayat: “Alam nasyrah laka shadraka” (Bukankah Kami telah melapangkan dadamu).
Keistimewaan ini membuat Rasulullah mampu menghadapi ujian yang sangat berat, bahkan ketika dilempari batu di Thaif hingga berdarah-darah, beliau tetap mendoakan kebaikan untuk musuh-musuhnya.
Hikmah di Balik Setiap Ujian
Menurut kajian ini, setiap ujian yang diberikan Allah memiliki hikmah tertentu:
1. Membangun Ketahanan Mental “Jika tidak tahan bantingan sekarang, bagaimana bisa mengatasi ujian yang akan datang?”
2. Membentuk Karakter Kuat
Dalam kehidupan, manusia tidak hanya mengalami “bantingan” tetapi juga berbagai bentuk ujian lainnya seperti penyingkiran, lipatan, dan guntingan.
3. Hukum Spiritual Pascal “Gaya selalu berbanding lurus dengan tekanan. Orang yang ingin tampil hebat dalam kehidupan harus siap menghadapi tantangan hidup yang berat.”
Nasihat Praktis Menghadapi Ujian
1. Ingat Masa-masa Indah
Ketika sedang menghadapi kesulitan, ingatlah kembali saat-saat bahagia dan nikmat yang pernah dirasakan. Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an tentang nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada Rasulullah:
- Dirawat dengan baik saat yatim
- Diberi petunjuk saat tersesat
- Diberi kekayaan saat miskin
2. Yakinkan Hati Bahwa Allah Tidak Meninggalkan
Bagi mereka yang menggantungkan hidup kepada Allah dan bersandar dengan baik kepada-Nya, ayat ini menjadi jaminan bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan dalam setiap kehidupan.
3. Tetap Berbuat Baik kepada Sesama
Meskipun sedang mengalami ujian, jangan pernah membentak atau merendahkan orang lain, karena Allah menjaga setiap hamba yang mendekat kepada-Nya.
Pesan Penutup: Ujian Sebagai Tangga Menuju Kemuliaan
Kajian ini menegaskan bahwa orang-orang hebat tidak akan pernah sepi dari ujian. Ujian diberikan untuk membuat seseorang lebih kuat menghadapi tantangan dalam kehidupan.
“Innallaha la yukhliful mi’ad” – Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Bagi umat Islam yang sedang mengalami kesulitan, kisah Rasulullah SAW dan turunnya Surah Ad-Dhuha memberikan harapan yang nyata. Ini bukan janji kosong manusia, tetapi janji Allah yang tidak akan pernah diingkari.
Sebagaimana Rasulullah akhirnya diangkat statusnya melalui peristiwa Isra Mi’raj setelah menghadapi ujian berat, demikian pula setiap mukmin yang sabar akan mendapatkan kemudahan setelah kesulitan.
Sumber: Kajian Ustadz Adi Hidayat


Tinggalkan Balasan