PUNGGAWANEWS, Dalam perjalanan hidup seorang mukmin, doa adalah senjata utama, dan shalat adalah waktu terbaik untuk menggunakan senjata itu. Kisah Nabi Zakaria Alaihissalam menjadi pelajaran abadi tentang bagaimana adab seorang hamba yang benar-benar berserah diri dapat mengubah yang mustahil menjadi mungkin.
1. Membaca Tanda Ilahi di Balik Vonis Manusia
Nabi Zakaria memiliki tantangan besar dalam hidupnya: beliau dan istrinya divonis secara medis tidak akan mampu memiliki keturunan, bahkan sang istri telah divonis mandul dan mengalami menopause. Opini manusia (makhluk) menegaskan, “Itu tidak mungkin.”
Namun, di sinilah letak adab agung dalam Al-Qur’an. Ketika manusia memvonis sesuatu sebagai “tidak mungkin” atau “tidak bisa”, itu adalah tanda dari Allah SWT. Ini adalah sinyal untuk segera meninggalkan opini manusia dan langsung berserah diri kepada-Nya, karena Allah adalah Al-Wahhab (Maha Pemberi Tanpa Batas).
Nabi Zakaria tidak larut dalam keputusasaan vonis medis. Beliau justru menyerahkan segala ketidakmungkinan kepada Pemilik segala kemungkinannya.
2. Doa di Tengah Shalat: Momentum Istajaba Tanpa Jeda
Nabi Zakaria memanjatkan doanya dalam keadaan terbaik seorang hamba: saat sedang berdiri dalam shalat. Doa beliau tercantum dalam Surah Ali Imran ayat 38:
“Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.'”
Yang menakjubkan adalah kecepatan respons Ilahi. Begitu doa selesai diucapkan, Allah mengabadikan jawaban-Nya dalam ayat selanjutnya (QS. Ali Imran: 39) dengan menggunakan huruf Fa (ف), yang dalam bahasa Arab menunjukkan urutan waktu yang cepat, tanpa jeda, atau seketika (ta’qib).
Fanaadat-hul malaaikatu… (Maka Malaikat pun memanggilnya…)
Malaikat turun seketika, mengabarkan berita gembira bahwa doanya dijawab. Beliau akan memiliki anak. Bahkan, Allah langsung memberikan nama untuk anak tersebut: Yahya, yang berarti ‘hidup’.
3. Bukti Kekuasaan Al-Wahhab
Kisah ini adalah bukti nyata dari Kekuasaan Al-Wahhab. Kata manusia mustahil dari rahim perempuan yang divonis menopause dan mandul, lahir bayi yang hidup. Namun, Allah menegaskan, “Tidak ada yang mustahil bagi-Ku.”
Pelajaran terpenting dari kisah Nabi Zakaria ini adalah:
- Jangan Batasi Kuasa Allah: Jangan biarkan vonis atau opini manusia membatasi harapan Anda kepada Allah. Gunakan ketidakmungkinan itu sebagai momentum untuk langsung meminta kepada-Nya.
- Manfaatkan Shalat: Waktu terbaik untuk memohon hajat yang besar adalah saat Anda sedang shalat. Lakukan adab berdoa ini; mintalah saat berdiri, saat sujud, dan sebelum salam. Doa yang dipanjatkan di tengah shalat memiliki potensi dikabulkan seketika.
Terapkan pemahaman ini dalam setiap masalah hidup. Serahkan segala ketidakmungkinan kepada Allah, bersimpuh di tengah shalat, dan bersiaplah menerima jawaban yang datang tanpa jeda. Semoga Allah menganugerahkan keturunan yang saleh bagi setiap pasangan yang mendambakannya. Aamiin.


Tinggalkan Balasan