Inilah kisah sahabat yang menjadikan tubuhnya sebagai perisai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) saat kekacauan Perang Uhud terjadi.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah, mari kita renungi sebuah kisah yang sarat makna dari lembaran sejarah Islam, yaitu peristiwa heroik yang terjadi di tengah kancah Perang Uhud pada tahun ke-3 Hijriah. Perang ini menjadi saksi betapa tulus dan gigihnya kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW, sampai-sampai mereka rela mempertaruhkan nyawa dan menjadikan tubuh mereka sebagai perisai hidup.
Kekacauan di Lembah Uhud
Perang Uhud awalnya diwarnai dengan kemenangan di pihak kaum Muslimin. Namun, karena sebagian pasukan pemanah melanggar perintah Rasulullah SAW untuk tetap berada di atas bukit, situasi berbalik drastis. Pasukan kafir Quraisy, yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, melakukan serangan balik yang mematikan. Barisan Muslimin menjadi porak-poranda, dan yang paling kritis, posisi Rasulullah SAW menjadi terbuka dan terancam langsung oleh serangan musuh.
Di tengah situasi genting inilah, muncullah pemandangan keteguhan iman dan pengorbanan yang tak tertandingi.
1. Nusaibah binti Ka’ab (Ummu Umarah): Srikandi Sang Perisai
Salah satu sosok paling legendaris dalam peristiwa ini adalah seorang Muslimah tangguh dari kaum Anshar, Nusaibah binti Ka’ab, yang juga dikenal sebagai Ummu Umarah.
- Peran Awal: Awalnya, Nusaibah bertugas di bagian logistik dan medis, membawa kantung air dan merawat prajurit yang terluka.
- Titik Balik: Ketika beliau melihat Rasulullah SAW terkepung dan terancam, seketika semangat jihadnya menyala. Beliau segera mengambil pedang dan perisai, maju ke barisan terdepan, dan bertempur membela Nabi.
- Pengorbanan: Nusaibah berdiri tegak di sisi Rasulullah, menangkis serangan musuh. Tercatat, beliau menderita dua belas luka di tubuhnya, termasuk luka parah di leher. Namun, hal itu tidak sedikit pun menggoyahkan tekadnya. Ketika Rasulullah SAW melihatnya terluka, beliau berseru, “Balutlah lukamu, wahai Ummu Umarah!”
- Doa Rasulullah: Atas pengorbanan luar biasa ini, Rasulullah SAW berdoa khusus untuknya dan keluarganya: “Ya Allah, jadikanlah Nusaibah dan anaknya sebagai sahabatku di dalam surga.” Doa mulia ini membuat Nusaibah merasa bahagia dan melupakan semua rasa sakit.
2. Abu Thalhah al-Anshari: Ksatria Pelindung Panah
Selain Nusaibah, sahabat mulia lainnya yang juga menjadi benteng pertahanan bagi Nabi adalah Abu Thalhah al-Anshari.
- Benteng Manusia: Ketika panah musuh menghujani posisi Rasulullah SAW, Abu Thalhah berdiri di hadapan beliau, menjadikan punggung dan dadanya sebagai tameng.
- Gigi Mencabut Panah: Beliau bahkan meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW sempat mengintip musuh dari balik punggungnya, lalu Abu Thalhah berkata, “Ayah dan Ibuku menjadi tebusanmu, Ya Rasulullah! Janganlah engkau menengok, nanti panah musuh akan mengenai Anda. Biarlah dadaku yang menjadi sasaran panah musuh!” Abu Thalhah dikenal sebagai pemanah ulung, namun pada saat genting itu, beliau memilih untuk fokus melindungi Nabi dengan tubuhnya sendiri.
Hikmah dan Penutup
Kisah Nusaibah binti Ka’ab dan Abu Thalhah al-Anshari mengajarkan kita tentang puncak dari kecintaan sejati (hubb) kepada Rasulullah SAW. Cinta itu diwujudkan bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata, pengorbanan jiwa, dan raga.
Mereka mengajarkan kita bahwa:
- Iman Sejati Menghasilkan Keberanian: Keberanian sejati muncul dari keteguhan iman, yang membuat seorang Muslim/Muslimah tidak gentar menghadapi bahaya demi membela kebenaran.
- Wanita Juga Pahlawan: Nusaibah membuktikan bahwa seorang wanita memiliki kedudukan yang sama agungnya dalam berjihad dan berkorban di jalan Allah.
- Pengorbanan demi Agama adalah Jalan Surga: Para sahabat ini berlomba-lomba mencari keridhaan Allah dengan melindungi Rasul-Nya, meyakini bahwa pengorbanan ini adalah bekal terbaik menuju surga.
Semoga kita dapat meneladani semangat pengorbanan dan kecintaan para sahabat yang mulia ini dalam kehidupan kita sehari-hari.
Wallahu a’lam bish-shawab.


Tinggalkan Balasan