1. Berhenti Berpikir Salah (Wrong Thinking)
Islam mengajarkan kita untuk memiliki pola pikir yang benar (Right Thinking). Berhijrah dan beribadah bukan berarti “tiket gratis” untuk lepas dari ujian dunia. Jangan sampai amal ibadah kita berhenti hanya karena kita merasa Allah tidak adil.
Ingatlah, ujian bukan berarti Allah benci, dan kemudahan bukan berarti Allah sayang. Justru mereka yang paling dicintai Allah adalah yang paling berat ujiannya.
2. Belajar dari Kisah Para Nabi
Allah SWT berfirman, “Faaksusil qasasah”—ceritakanlah kisah-kisah itu. Jika kita merasa beban hidup kita berat, lihatlah para nabi:
- Nabi Ayyub AS: Diuji dengan penyakit kulit yang dahsyat, kehilangan seluruh anak, dan harta yang ludes. Namun, ia malu meminta kesembuhan karena merasa nikmat yang Allah beri sebelumnya jauh lebih lama.
- Nabi Yunus AS: Diuji dalam tiga kegelapan: gelapnya malam, gelapnya dasar laut, dan gelapnya perut ikan. Ia tidak protes, melainkan mengaku dosa: “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzalimin.”
- Nabi Muhammad SAW: Dilempari batu di Thaif hingga berdarah, diusir dari tanah kelahiran, dan dimusuhi keluarga sendiri. Beliau adalah manusia paling mulia, namun ujiannya paling hebat.
3. Dunia Adalah Ruang Ujian
Ujian tidak selalu berbentuk kemiskinan atau penyakit. Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah menguji manusia dengan dua hal: keburukan dan kebaikan (wa nablukum bilsyarri wal khairi fitnah).
Halaman


Tinggalkan Balasan