Hijrah Kedua: Ke Madinah
Setelah beberapa tahun di Habasyah, mereka kembali ke Mekah dengan harapan situasi telah membaik. Namun, penyiksaan terhadap kaum Muslimin belum juga berhenti.
Ketika Allah mengizinkan hijrah ke Madinah, pasangan ini sekali lagi membuktikan keteguhan iman mereka. Mereka berhijrah bersama Rasulullah SAW menuju Madinah, kota yang akan menjadi tempat lahirnya peradaban Islam.
Di Madinah, Sayyidah Ruqayyah melahirkan putra yang diberi nama Abdullah. Kehadiran Abdullah menjadi penghibur atas segala kesulitan dan kehilangan yang mereka alami selama dua kali hijrah.
Madinah yang membawa ketenangan, ternyata juga menjadi tempat ujian terberat bagi Sayyidah Ruqayyah radhiyallahu anha.
Kehilangan Anak: Putra beliau yang sangat dicintai, Abdullah, meninggal dunia di usia belia akibat penyakit. Ujian kehilangan buah hati ini sangat memukul Ruqayyah, membuat tubuhnya semakin lemah dan rapuh.
Perang Badar: Ketika persiapan Perang Badar—pertempuran paling penting dalam sejarah Islam—dimulai, Sayyidah Ruqayyah jatuh sakit parah. Rasulullah SAW memerintahkan Sayyidina Utsman RA untuk tidak ikut berperang dan tetap tinggal di Madinah merawat istrinya yang sedang sakit keras.
Ini adalah keputusan yang sangat berat. Di satu sisi, Perang Badar adalah panggilan jihad yang paling mulia. Di sisi lain, istri tercinta sedang dalam keadaan kritis. Namun Utsman radhiyallahu anhu memilih ketaatan kepada Rasulullah dan menunjukkan kesetiaan luar biasa kepada istrinya.
Wafat yang Mengharukan: Sayyidah Ruqayyah radhiyallahu anha berpulang ke rahmatullah tepat saat kabar kemenangan Perang Badar baru saja tiba di Madinah. Beliau adalah putri pertama Rasulullah SAW yang wafat, di usia yang masih sangat muda, sekitar 22-23 tahun.
Setelah wafatnya Ruqayyah radhiyallahu anha, Rasulullah SAW menikahkan Utsman RA dengan adik Ruqayyah, yaitu Sayyidah Ummu Kultsum radhiyallahu anha.
Inilah sebabnya Sayyidina Utsman radhiyallahu anhu digelari Dzu Nurain (Pemilik Dua Cahaya), karena mendapat kehormatan luar biasa menikahi dua putri Rasulullah SAW. Tidak ada seorang pun dalam sejarah Islam yang mendapat kehormatan seperti ini kecuali Utsman bin Affan.


Tinggalkan Balasan