Buya Yahya mengingatkan kita akan dahsyatnya keutamaan orang-orang yang tulus.

Apabila kita berbuat zalim atau semena-mena terhadap orang yang tulus, kita harus berhati-hati, sebab kita tidak berurusan dengannya, melainkan langsung berurusan dengan Allah SWT.

Seseorang yang tulus adalah “orang hebat” yang saking ikhlasnya, ia bahkan tidak merasa terzalimi dan tidak peduli dengan perbuatan buruk yang menimpanya. Ia mungkin dengan mudah memaafkan, seperti seorang saudara yang berkata, “Oh, tidak apa-apa, itu kan Abangku sendiri.”

Namun, di sinilah letak bahayanya. Meskipun orang tulus itu memaafkan, Allah langsung bertindak sebagai penolongnya. Buya Yahya menekankan bahwa menzalimi orang yang sangat baik dan dekat kepada Allah — bahkan itu adalah suami atau istri kita sendiri jika mereka tulus — adalah perkara yang sangat seram dan lebih membahayakan bagi si pelaku kezaliman. Ketulusan adalah perisai yang dipegang langsung oleh Allah.

Ketulusan hati adalah perkara yang sangat agung dalam Islam. Orang yang benar-benar tulus dalam beramal dan berinteraksi, baik dengan Allah maupun dengan sesama, memiliki keistimewaan yang luar biasa.