BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Kisah lain yang sangat menyentuh adalah ketika Umar menemukan seorang ibu yang memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya yang kelaparan. Tanpa memperkenalkan diri, Umar segera menuju Baitul Mal, memikul sendiri bahan makanan, lalu memasak hingga anak-anak itu kenyang. Setelah memastikan mereka tertawa bahagia, Umar berkata, “Segala puji bagi Allah yang menyelamatkanku dari tuntutan mereka di hari kiamat.” Ini adalah gambaran nyata rasa tanggung jawab seorang pemimpin di hadapan Allah.

Dalam aspek pemahaman takdir, Umar juga memberikan pelajaran penting. Ketika hendak memasuki wilayah yang terkena wabah, beliau memilih untuk kembali. Saat ditanya apakah ia lari dari takdir Allah, Umar menjawab, “Aku lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.” Jawaban ini menunjukkan keseimbangan antara tawakal dan ikhtiar dalam ajaran Islam.

Ketegasan Umar juga terlihat dalam kebijakan kepemimpinan, seperti saat beliau mencopot Khalid bin Walid dari jabatan, bukan karena kebencian, tetapi demi menjaga kemurnian tauhid umat agar tidak bergantung pada sosok manusia dalam meraih kemenangan. Bahkan Umar sendiri mengakui keutamaan Khalid dan tetap menghormatinya sebagai “pedang Allah”.

Menjelang akhir hayatnya, Umar menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa. Meskipun termasuk sahabat yang dijamin surga, beliau tetap merasa takut akan pertanggungjawaban di hadapan Allah. Ia berwasiat agar pemimpin setelahnya berbuat baik kepada kaum Muhajirin, Ansar, serta seluruh rakyat, termasuk non-Muslim yang berada dalam perlindungan negara Islam. Ini menegaskan bahwa keadilan Islam bersifat universal.