PUNGGAWANEWS, Kerap kali dalam hidup, kita merasa sendirian, ditinggalkan, dan dilingkupi kegelapan masalah. Namun, Ustaz Adi Hidayat (UAH) mengingatkan, Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Justru, ujian yang datang adalah cetakan yang akan membuat kita menjadi pribadi yang jauh lebih hebat dan tangguh di masa depan.

Miniatur kehidupan kita, lengkap dengan segala kegelisahan, kekhawatiran, dan kebahagiaannya, telah lebih dulu dirasakan dan dicontohkan dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Dengan mempelajari kisahnya, kita belajar bagaimana mengatasi problematika hidup.

1. Surah Ad-Duha: Jaminan Tuhan Tak Pernah Meninggalkan

Terdapat masa di awal dakwah Nabi Muhammad SAW, wahyu dari Allah sempat terhenti (jedda) dalam waktu yang lama. Situasi ini memicu kalangan kafir Quraisy melontarkan cemoohan dan tuduhan keji: “Lihatlah Muhammad sudah gila! Muhammad sudah ditinggalkan oleh Tuhannya! Muhammad sudah kehilangan pegangannya!”

Di tengah tuduhan, cacian, dan makian yang memuncak, turunlah dua surah secara beriringan: Surah Ad-Duha (93) dan Surah Al-Insyirah (94).

Analisis Makna Wad-Duha dan Wal-Lail

Dalam ilmu Balaghah, sumpah Allah dalam Surah Ad-Duha bukan sekadar menyebut waktu, melainkan sebuah ilustrasi:

  • وَالضُّحَىٰ (Wad-Duha): Demi Waktu Dhuha.
    • Mengilustrasikan waktu kenyamanan, ketenangan, dan kebahagiaan yang pernah dirasakan Nabi.
    • Artinya: “Saya bersumpah, Muhammad, demi segala kenikmatan yang pernah Engkau rasakan dalam hidupmu, seperti Engkau merasakan cahaya Duha itu.”
  • وَالَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ (Wal-laili idza saja): Demi Malam Apabila Telah Sunyi.
    • Mengilustrasikan kesulitan yang pekat, kondisi seakan-akan gelap gulita. Masalah yang sedemikian pekat membuat seseorang limbung, seolah-olah gelap, padahal siang.
    • Artinya: “Dan Aku pun bersumpah demi gelapnya malam yang pekat, ketika Engkau mengalami masalah yang sangat pekat dalam kehidupan.”