Bapak Ibu sekalian yang dirahmati Allah,
Pada suatu pagi yang masih sangat dini, setelah peristiwa besar Isra dan Mikraj, Nabi Muhammad ﷺ telah kembali ke Makkah. Matahari baru mulai menampakkan cahayanya. Rasulullah ﷺ duduk di depan Ka’bah, merenungi kejadian luar biasa yang baru saja beliau alami—perjalanan yang tidak pernah terjadi pada manusia mana pun sebelumnya.
Perjalanan yang penuh mukjizat, penuh rahasia Ilahi, dan sekaligus menjadi ujian keimanan terbesar bagi umat manusia.
Abu Jahal: Mengetahui Kebenaran, Menolak dengan Kesombongan
Pada saat itulah lewat seorang tokoh Quraisy bernama Abu Jahal. Nama aslinya di kalangan Quraisy adalah Abul Hakam, orang yang dianggap bijaksana. Namun Rasulullah ﷺ justru menamakannya Abu Jahal, bapaknya kebodohan—bukan karena ia tidak tahu kebenaran, tetapi karena menolak kebenaran dengan kesombongan.
Abu Jahal bersama Abu Sufyan pernah mengalami kejadian luar biasa:
mereka diam-diam mendengarkan Al-Qur’an yang dibaca Nabi ﷺ pada malam hari. Tiga malam berturut-turut mereka datang, terpesona, lalu berjanji tidak akan mengulanginya—namun selalu kembali karena hati mereka tidak bisa lepas dari keindahan dan kebenaran Al-Qur’an.


Tinggalkan Balasan