PUNGGAWANEWS – Dalam sebuah kajian fiqh yang mendalam, Ustadz Adi Hidayat memberikan penjelasan komprehensif mengenai bolehkah seorang muslim berdoa dengan kalimat apapun ketika berada dalam posisi sujud. Permasalahan ini sering menjadi pertanyaan umat Islam, terutama terkait dengan kebutuhan-kebutuhan duniawi yang ingin dipanjatkan kepada Allah SWT.

Landasan Hadis tentang Kedekatan dalam Sujud

Menurut penjelasan Ustadz Adi Hidayat, terdapat hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA yang menjadi dasar utama dalam pembahasan ini. Rasulullah SAW bersabda: “Inna aqraba ma yakunu al-abdu ila rabbihi wa huwa sajid”, yang artinya “Sesungguhnya kedudukan terdekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia bersujud.”

Hadis ini menunjukkan bahwa momen sujud merupakan waktu yang paling istimewa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sehingga sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa dalam kondisi tersebut.

Dalil Al-Quran tentang Doa dalam Sujud

Ustadz Adi Hidayat juga mengutip ayat Al-Quran Surah Al-Fath ayat 29: “Muhammadur rasulullahi walladhina ma’ahu ashiddau ‘ala al-kuffari ruhama’u bainahum… rukkaan sujjadan yabtaghuna fadlan minallahi wa ridwanan”

Ayat ini menggambarkan karakteristik umat Nabi Muhammad SAW yang dalam posisi rukuk dan sujud mereka memohon karunia dan keridhaan dari Allah SWT. Hal ini menunjukkan bahwa berdoa dalam sujud merupakan tradisi yang telah dipraktikkan sejak zaman Rasulullah.

“Jika seseorang mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad namun enggan melaksanakan shalat, maka tanyakan kepadanya apakah dia benar-benar pengikut Nabi Muhammad. Karena ciri khas umat Muhammad adalah terlihat dari jejak-jejak rukuk dan sujudnya,” jelas Ustadz Adi Hidayat.

Tiga Kategori Doa dalam Sujud

Dalam penjelasannya, Ustadz Adi Hidayat mengklasifikasikan doa dalam sujud menjadi tiga kategori:

1. Doa yang Diajarkan Rasulullah

Kategori pertama adalah doa-doa yang secara langsung diajarkan oleh Rasulullah SAW dengan lafaz tertentu. Doa-doa ini dapat dibaca langsung sesuai dengan pengucapan yang telah ditetapkan.

2. Ayat Al-Quran sebagai Doa

Kategori kedua adalah ayat-ayat Al-Quran yang dibaca dengan niat sebagai doa, bukan sebagai bacaan ayat. Namun ada ketentuan khusus untuk kategori ini:

Boleh dibaca jika ayat tersebut diniatkan sebagai doa, seperti:

  • “Rabbana atina fi’d-dunya hasanatan wa fi’l-akhirati hasanatan wa qina ‘adhab an-nar” (QS. Al-Baqarah: 201)
  • “Rabbana zhalamna anfusana wa illam taghfirlana wa tarhamna lanakunnanna minal khasirina” (QS. Al-A’raf: 23)

Tidak boleh jika dibaca sebagai tilawah Al-Quran biasa dalam sujud.

3. Doa Spontan Sesuai Kebutuhan

Kategori ketiga adalah doa-doa spontan yang sesuai dengan kebutuhan zaman dan kondisi masing-masing individu. Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa boleh memohon hal-hal yang tidak ada di zaman Rasulullah.

“Misalnya di zaman Rasulullah tidak ada ujian sekolah, tidak ada wawancara kerja, tidak ada bisnis modern. Maka kita boleh berdoa untuk kelancaran ujian, kesuksesan wawancara, atau kemajuan bisnis kita, asalkan diniatkan di dalam hati,” ungkapnya.

Adab Berdoa dalam Hati

Salah satu poin penting yang ditekankan adalah bahwa doa-doa spontan ini cukup dibaca dalam hati, tidak perlu diucapkan secara lisan. Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam QS. Al-A’raf ayat 205:

“Wadhkur rabbaka fi nafsika tadarru’an wa khifatan wa duna al-jahri minal qawli”

Artinya: “Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam jiwamu dengan merendahkan diri dan rasa takut, serta dengan tidak mengeraskan suara.”

Konsep Hadis Qudsi tentang Doa

Ustadz Adi Hidayat juga menjelaskan hadis qudsi yang diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, dimana Allah SWT berfirman: “Qassamtu ash-shalata baini wa baina ‘abdi nisfain” (Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian).

Dalam hadis ini dijelaskan bahwa ketika seorang hamba membaca “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” dalam Al-Fatihah, Allah SWT langsung merespons: “Hadha baini wa baina ‘abdi, wa li ‘abdi ma sa’al” (Ini adalah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta).

“Pada momen inilah, ketika hamba membaca kalimat tersebut dalam shalat, langsung saja di dalam hati memohon kepada Allah apa yang dibutuhkan. Allah telah berjanji akan mengabulkan permintaan hamba-Nya,” jelas Ustadz Adi Hidayat.

Kesimpulan Hukum

Berdasarkan kajian yang komprehensif ini, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Dianjurkan memperbanyak doa dalam sujud karena merupakan posisi terdekat dengan Allah SWT
  2. Boleh berdoa dengan ayat Al-Quran asalkan diniatkan sebagai doa
  3. Diperbolehkan memohon kebutuhan apapun, termasuk yang tidak ada di zaman Rasulullah
  4. Lebih utama jika doa spontan dibaca dalam hati, tidak perlu diucapkan
  5. Harus tetap menjaga adab dan tidak berlebih-lebihan dalam berdoa

Kajian ini memberikan panduan yang jelas bagi umat Islam dalam memahami tata cara berdoa yang benar dalam sujud, sehingga ibadah shalat dapat menjadi sarana yang lebih bermakna untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.


Sumber: Kajian Ustadz Adi Hidayat