Tiga Nasihat Utama

Dari kajian tersebut, ustaz menyampaikan tiga pelajaran penting:

Pertama, bandingkan ujian kita dengan cobaan para nabi. Dengan membandingkan kesulitan hidup kita dengan ujian Nabi Ibrahim, kita akan merasa lebih ringan dan bersyukur. “Ujian kita belum ada apa-apanya dibanding ujian Ibrahim,” tegasnya.

Kedua, gantungkan harapan hanya kepada Allah. Jangan bergantung pada manusia, harta, atau kekuasaan yang sifatnya sementara. Allah adalah Al-Hayyu (Maha Hidup) dan Al-Qayyum (Maha Mengatur) yang mengetahui setiap detak jantung dan langkah kaki kita.

“Mengapa harus cemas jika ada Allah yang mengatur segala kehidupan kita?” tanyanya retoris.

Ketiga, puncak cinta adalah kesediaan berbagi, terutama kepada Allah. Ini tercermin dalam kesediaan Ibrahim menyembelih putranya, Ismail, sebagai wujud ketaatan mutlak. Sang putra pun menjawab dengan penuh keikhlasan, “Ya abati, laksanakan perintah Allah, insya Allah aku akan sabar.”

Jaga Kehalalan Rezeki

Ustaz juga mengingatkan pentingnya menjaga kehalalan makanan dan rezeki. Ia mengutip hadis tentang seseorang yang berdoa dengan khusyuk namun tidak dikabulkan karena makanan, minuman, dan pakaiannya dari sumber yang haram.