Ujian pertama berasal dari ayahnya sendiri, Azar, yang menyembah berhala. Ketika Ibrahim mendakwahi ayahnya, ia justru mendapat ancaman akan dilempari batu hingga tewas. Namun, Ibrahim tetap menjawab dengan lemah lembut, “Astagfirulaka, aku akan memohonkan ampunan Allah untukmu, wahai ayahku.”
Cobaan berikutnya datang dari para penguasa yang memusuhi dakwah tauhidnya. Ibrahim bahkan dibakar hidup-hidup, namun Allah menyelamatkannya dengan mukjizat yang mengubah sifat api menjadi sejuk dan selamat.
“Api yang seharusnya membakar justru menjadi dingin karena kuasa Allah. Ini menunjukkan bahwa ujian tidak pernah berhenti, namun Allah selalu memberikan jalan keluar,” jelasnya.
Hijrah Bukan Berarti Bebas dari Ujian
Sang ustaz menegaskan bahwa hijrah atau bertobat bukan jaminan hidup akan berjalan mulus tanpa masalah. “Hijrah membuat kita lebih kuat menghadapi beban, bukan menghilangkan beban itu sendiri,” katanya.
Ia mencontohkan doa Nabi Ibrahim yang memohon dikaruniai anak saleh. Doa tersebut baru dikabulkan setelah 86 tahun, sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir. Ini mengajarkan kesabaran dan keteguhan dalam bermunajat kepada Allah.
“Allah ingin melihat kita merintih dalam doa di tengah malam. Allah ingin melihat tetesan air mata kita saat bermunajat. Penantian panjang itu untuk meningkatkan derajat dan menghapus dosa,” ujarnya mengingatkan.


Tinggalkan Balasan