Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jamaah rahimakumullah, pada kesempatan kajian subuh yang penuh berkah ini, marilah kita merenungkan kisah salah satu dari empat wanita terbaik di alam semesta, Sayyidah Fatimah Az-Zahra RA. Beliau adalah putri tercinta Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, istri Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, dan pemimpin seluruh wanita di surga.
Fatimah Az-Zahra lahir lima tahun sebelum Nabi Muhammad SAW diutus menjadi Rasul. Beliau tumbuh di bawah asuhan dua manusia termulia: Nabi Muhammad SAW dan Sayyidah Khadijah radhiyallahu anha.
Sayyidah Aisyah radhiyallahu anha pernah bersaksi bahwa beliau tidak pernah melihat seseorang yang tutur kata, gaya bicara, dan gerak-geriknya paling mirip dengan Rasulullah SAW selain Fatimah.
Saking besarnya cinta dan perhatian Fatimah kepada sang ayah, Rasulullah SAW menjulukinya dengan gelar kehormatan: “Ummu Abiha” (Ibu bagi Ayahnya). Ini adalah pengakuan langsung atas besarnya pengorbanan dan peran Fatimah yang menjadi sumber ketenangan dan perhatian bagi Nabi, terutama setelah wafatnya Sayyidah Khadijah.
Rasulullah SAW mengungkapkan rasa sayangnya:
“Fatimah adalah bagian dariku. Siapa yang membuatnya marah berarti membuatku marah. Aku merasa terganggu bila ia diganggu dan aku merasa sakit jika dia disakiti.”
Sejak kecil, Fatimah Az-Zahra telah menunjukkan keberanian luar biasa dalam membela sang ayah.
Insiden di Ka’bah
Suatu hari, saat Rasulullah SAW beribadah di depan Ka’bah, beberapa kafir Quraisy meletakkan kotoran unta di punggung beliau saat sujud. Fatimah kecil yang menyaksikannya, segera berlari. Sambil menangis, beliau membersihkan kotoran itu dari punggung ayahnya, kemudian dengan berani menghardik orang-orang kafir tersebut.


Tinggalkan Balasan