PUNGGAWANEWS – Dalam sebuah kajian khusus yang disampaikan dalam peringatan milad ke-26 Serikat Karyawan Angkasapura, Ustadz Adi Hidayat menyampaikan panduan komprehensif tentang membangun karakter kepemimpinan yang berintegritas berdasarkan ajaran Islam. Kajian yang bertajuk “Integritas & Keteladanan: Jalan Dunia Menuju Akhirat” ini memberikan blueprint praktis bagi para calon pemimpin di era modern.
Filosofi Kehidupan: Dari Bumi hingga Akhirat
Ustadz Adi Hidayat mengawali kajiannya dengan membedakan konsep fundamental antara “bumi” (ard) dan “dunia” (dunya). Bumi dalam bahasa Arab berasal dari kata ard, yang merujuk pada setiap tempat yang dipijak manusia. Di setiap tempat tersebut, manusia diberi amanah sebagai khalifah dengan tiga makna esensial:
Pertama, sebagai pembawa manfaat bagi lingkungan sekitar. Kedua, sebagai agen kesuksesan yang mampu mencapai prestasi maksimal. Ketiga, sebagai makhluk yang memahami sifat sementara dari setiap posisi yang diemban.
Adapun dunia (dunya) memiliki dua karakteristik utama: sesuatu yang berlangsung dengan cepat dan sesuatu yang secara alamiah akan rusak jika tidak dirawat dengan baik. Pemahaman ini menjadi dasar bagaimana seorang pemimpin harus mengelola amanah yang diberikan kepadanya.
Empat Pilar Kepemimpinan Rasulullah
Berdasarkan penelitian mendalam terhadap Al-Quran dan hadis, Ustadz Adi mengidentifikasi empat sifat utama yang menjadi fondasi kepemimpinan Rasulullah SAW, yang relevan untuk diterapkan dalam konteks kepemimpinan modern:
1. Fatanah: Kecerdasan Holistik
Fatanah bukan sekadar kecerdasan intelektual, melainkan kecerdasan yang menyatukan tiga dimensi: spiritual, mental, dan intelektual. Konsep ini sejalan dengan penelitian neurolog Andrew Armour pada 1991 yang menemukan keberadaan 40.000 neuron di jantung manusia yang berfungsi sebagai “otak kedua.”
Dalam konteks kepemimpinan, fatanah berarti kemampuan untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya dengan bijaksana. Ketika dihadapkan pada situasi negatif, seorang pemimpin yang fatanah akan segera mencari “lawan” atau solusi positifnya. Misalnya, ketika menghadapi kemarahan, ia akan mengaktifkan kesabaran; ketika melihat kesombongan, ia akan menumbuhkan kerendahan hati.
2. Amanah: Pembawa Ketenangan
Amanah memiliki akar kata yang sama dengan “aman,” yang berarti tenang, nyaman, dan baik. Seorang pemimpin yang amanah adalah sosok yang mampu menghadirkan rasa aman, tenang, dan nyaman bagi semua orang yang berinteraksi dengannya.
Konsep amanah ini mencakup kemampuan untuk membuat bawahan merasa terlindungi, diayomi, dan dihargai. Sebagaimana Rasulullah SAW yang bahkan oleh musuh-musuhnya dipercaya untuk menyimpan barang berharga, karena karakter amanah yang telah teruji sejak sebelum beliau diangkat menjadi nabi.
3. Siddiq: Kejujuran yang Elegan
Siddiq adalah kemampuan untuk selalu menampilkan kebenaran, namun dengan cara yang elegan sehingga tidak menyakiti perasaan orang lain. Seorang pemimpin yang siddiq memiliki keterampilan untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang bijaksana, membuat orang yang salah tidak merasa dipermalukan, dan orang yang benar tidak merasa digurui.
Contoh klasik adalah respons Abu Bakar As-Siddiq terhadap peristiwa Isra Mi’raj. Ketika ditantang untuk membenarkan keajaiban tersebut, beliau menjawab dengan penuh keyakinan namun tetap menghormati keraguan orang lain, sehingga mendapat gelar “As-Siddiq” (yang selalu membenarkan).
4. Tabligh: Komunikasi yang Menyentuh Hati
Tabligh adalah kemampuan berkomunikasi yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi mampu menyentuh relung hati yang paling dalam dengan pemahaman yang benar. Seorang pemimpin dengan sifat tabligh mampu menyampaikan keputusan yang sulit sekalipun dengan cara yang membuat orang lain merasa tenang dan terlindungi.
Dalam era digital saat ini, kemampuan tabligh menjadi semakin penting mengingat banyak karier yang hancur hanya karena satu atau dua kalimat yang tidak tepat dalam komunikasi.
Implementasi dalam Kepemimpinan Modern
Kajian ini menekankan bahwa keempat sifat tersebut bukanlah sekadar teori, melainkan panduan praktis yang dapat diterapkan dalam berbagai konteks kepemimpinan modern. Khususnya bagi para pemimpin di lingkungan Angkasapura, implementasi nilai-nilai ini dapat menjadikan perusahaan sebagai rujukan kepemimpinan yang berintegritas di Indonesia.
Tantangan Era Digital
Ustadz Adi juga menyoroti tantangan kepemimpinan di era digital, mengutip hadis Rasulullah tentang tanda-tanda akhir zaman: berkurangnya para pakar sejati, maraknya manipulasi informasi, dan percepatan waktu yang membuat segala sesuatu terasa berlalu dengan cepat.
Dalam konteks ini, para pemimpin dituntut untuk lebih berhati-hati dalam setiap tindakan dan komunikasi, karena dampaknya dapat tersebar dengan sangat cepat dan luas.
Visi Kepemimpinan Indonesia
Kajian ini juga mengapresiasi keunikan Indonesia sebagai satu-satunya negara di dunia yang secara eksplisit mencantumkan kata “takwa” dalam undang-undang dasarnya. Hal ini menunjukkan komitmen bangsa Indonesia untuk membangun kepemimpinan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan spiritual yang kuat.
Sebagaimana disebutkan dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, pendidikan nasional bertujuan untuk “meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia” sebelum mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini menunjukkan bahwa karakter dan integritas harus dibangun terlebih dahulu sebelum kemampuan intelektual.
Penutup: Transformasi Menuju Kepemimpinan Ideal
Kajian ini diakhiri dengan ajakan kepada para calon pemimpin untuk mentransformasi diri menjadi sosok yang memiliki keempat sifat tersebut. Dengan menggabungkan Fatanah, Amanah, Siddiq, dan Tabligh – yang dalam bahasa Inggris dapat disingkat menjadi “FAST” – diharapkan dapat tercipta generasi pemimpin yang mampu mengantarkan bangsa menuju kemajuan yang berkelanjutan.
Sebagaimana doa penutup yang disampaikan, semoga kajian ini dapat menjadi bekal bagi setiap individu untuk menjalani “jalan dunia menuju akhirat” dengan penuh integritas dan keteladanan, sehingga dapat mempertanggungjawabkan amanah kepemimpinan di hadapan Allah SWT kelak.
Sumber: Kajian Khusus Ustadz Adi Hidayat dalam Peringatan Milad ke-26 Serikat Karyawan Angkasapura


Tinggalkan Balasan