PUNGGAWANEWS, Ada sebuah kisah menarik tentang kualitas amal manusia yang diceritakan langsung oleh Rasulullah. Kisah ini berpusat pada seorang pemuda sederhana yang tidak dikenal luas, sebut saja Zayn. Para sahabat terdekat Rasulullah terkejut ketika mereka mendengar Rasulullah menyebut Zayn, hingga tiga kali, sebagai calon penghuni surga.

Rasa penasaran pun muncul, terutama pada sahabat Ibnu Amr yang akhirnya memutuskan untuk menyelidiki amalan harian Zayn. Selama tiga malam, Ibnu Amr menginap di rumah Zayn, mengamati setiap aktivitasnya. Namun, ia tidak menemukan sesuatu yang istimewa. Zayn tidur nyenyak sepanjang malam, tidak bangun untuk shalat tahajud, dan tidak terlihat berpuasa di siang hari. Ini membuat Ibnu Amr ragu dengan penilaian Rasulullah.

Akhirnya, Ibnu Amr tidak bisa menahan rasa penasarannya dan bertanya langsung pada Zayn. “Amalan apa yang membuat Rasulullah memandangmu sebagai ahli surga?” tanyanya.

Zayn terkejut dan tidak percaya. Ia merasa tidak memiliki amalan khusus yang lebih baik dari para sahabat lain yang lebih dekat dengan Rasulullah. Ia bahkan bingung mengapa Rasulullah menilai dirinya seperti itu.

Setelah Ibnu Amr pamit, Zayn tiba-tiba teringat sesuatu. Ia memanggil kembali Ibnu Amr dan berkata, “Mungkin ini sebabnya. Aku tidak pernah merasa iri atau dengki dengan kesuksesan orang lain. Aku menganggap semua itu adalah anugerah dari Allah.”

“Lalu?” tanya Ibnu Amr penasaran.

“Sebelum tidur, aku selalu berdoa agar Allah memaafkan aku jika aku pernah mengecewakan orang lain. Dan yang terpenting, aku juga berdoa agar Allah memaafkan siapa pun yang pernah menyakiti atau mengecewakanku,” jawab Zayn dengan tenang.

Mendengar itu, Ibnu Amr terharu. Ia menyadari bahwa amalan sederhana Zayn—memaafkan dan melepaskan rasa dengki—adalah sesuatu yang sangat luar biasa dan sulit dilakukan oleh banyak orang. Ia kini mengerti mengapa Rasulullah begitu memuji pemuda tersebut.

Kisah Zayn ini mengingatkan kita bahwa terkadang, amalan sederhana yang dilakukan dengan ketulusan bisa lebih bernilai di mata Allah. Ia mungkin tidak dikenal di dunia, tetapi namanya mungkin telah diagungkan di langit. Sebagaimana Rasulullah pernah memuji Uwais al-Qarni yang memilih untuk merawat ibunya daripada ikut berbaris bersama kaum Muhajirin.

Kisah ini mengajak kita untuk merenung: Sanggupkah kita memaafkan orang yang telah menyakiti kita? Jika kita berharap Allah mengampuni dosa-dosa kita di masa lalu, apakah adil jika kita sendiri masih keberatan untuk memaafkan orang lain?