“Apa itu?” tanya Umar penasaran.
“Pertama: Kelembutannya selalu lebih besar daripada amarahnya. Tidak peduli seberapa besar orang memprovokasi, ia tetap lembut.”
“Kedua: Semakin orang memperlakukannya dengan kasar, semakin besar kasih sayang yang ia tunjukkan.”
Zaid melanjutkan dengan mata berkaca-kaca:
“Dan hari ini, wahai Umar, aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri. Aku sengaja datang sebelum jatuh tempo. Aku sengaja bersikap kasar. Aku ingin menguji apakah Muhammad benar-benar nabi yang disebutkan dalam Taurat. Dan ternyata… dia memang benar.”
Lalu, di hadapan Umar bin Khattab, Zaid bin Sa’nah mengangkat tangannya dan bersumpah dengan penuh khidmat:
“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai nabiku.”
Sejak saat itu, Zaid bin Sa’nah resmi menjadi seorang muslim. Bukan karena dipaksa. Bukan karena dibujuk. Tapi karena akhlak Rasulullah yang menaklukkan hatinya.

Tinggalkan Balasan