PUNGGAWANEWS, Shalat bukanlah sekadar ritual menggugurkan kewajiban. Ia adalah dialog langsung antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah SWT menjelaskan esensi shalat dan rahasia tersembunyi di dalamnya, khususnya melalui pembacaan Surah Al-Fatihah.
“Aku membagi shalat menjadi dua bagian, untuk-Ku dan untuk hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku, apa pun yang ia minta akan Aku berikan.”
Janji luar biasa ini—bahwa Allah akan mengabulkan apa pun yang diminta hamba—terikat pada satu syarat: kesempurnaan dan kesungguhan hamba dalam menunaikan shalat, terutama saat melewati titik inti dalam Al-Fatihah.
Shalat sebagai Dialog Ihsan
Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk shalat dengan sifat Ihsan (seakan-akan melihat Allah, atau setidaknya merasa diawasi oleh-Nya). Rahasia Ihsan ini terkuak dalam setiap kalimat Surah Al-Fatihah, di mana Allah SWT menjawab setiap pujian dan permohonan kita:
- Ketika Hamba Membaca: Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin
- Jawaban Allah: “Hamadani abdi.” (Hamba-Ku sedang memuji-Ku.)
- Ketika Hamba Membaca: Ar-Rahmanir Rahiim
- Jawaban Allah: “Atsna alayya abdi.” (Hamba-Ku sedang menyanjung-Ku.)
- Ketika Hamba Membaca: Maliki Yawmiddin
- Jawaban Allah: “Majjadani abdi.” (Hamba-Ku sedang mengagungkan-Ku.)
Tiga ayat pertama adalah fase pujian, pengakuan kita atas keagungan Allah sebagai Rabb, yang Maha Pengasih, dan Pemilik Hari Pembalasan.
Titik Kritis: Perjanjian Pengabulan Doa
Puncak dari dialog ini—dan janji pengabulan doa—terjadi pada ayat keempat, yaitu:
Ketika Hamba Membaca: Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in
Jawaban Allah: “Hadza baini wa baina abdi, wa li’abdi ma saala.” (Inilah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku, apa pun yang ia minta akan Aku kabulkan.)
Kalimat “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in” (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan) adalah sumpah dan komitmen ganda dari seorang hamba. Saat kita mencapai kalimat ini dengan kesadaran penuh, perjanjian ilahi mulai berlaku. Ini adalah momen di mana Allah menyatakan bahwa, jika hamba telah memenuhi kewajibannya dalam shalat dengan benar (mulai dari wudu, niat, takbir, hingga pengakuan ketuhanan di awal Al-Fatihah), maka pintu permohonan dibuka selebar-lebarnya.
Inti Pesan:
Barangsiapa yang mampu menunaikan shalat dengan kesadaran penuh—menghadirkan Allah (Ihsan) dalam setiap pujian, dan mencapai kalimat “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in” dengan keikhlasan total—maka Allah telah mengikat janji. Shalatnya akan menjadi kunci yang sangat mudah bagi-Nya untuk mengabulkan apa pun permohonan dan kebutuhan hidupnya.
Maka, perbaiki kualitas shalat kita. Jadikan setiap shalat bukan sekadar kebiasaan, melainkan momen dialog terindah yang menjamin terbukanya gerbang Rahmat dan terkabulnya seluruh doa.


Tinggalkan Balasan