PUNGGAWANEWS – Seringkali kita merasa bahwa kemuliaan di sisi Allah SWT hanya dapat diraih oleh mereka yang memiliki ilmu agama yang sangat luas atau amalan ibadah yang luar biasa banyaknya. Namun, salah seorang ulama besar dan sufi terkemuka, Imam Junaid al-Baghdadi, memberikan panduan sederhana namun mendalam bagi setiap Muslim untuk diangkat derajatnya, meskipun ilmu dan amalan kita terasa sedikit.

Menurut beliau, ada empat pilar kehidupan yang jika mampu kita jalani dengan konsisten, niscaya Allah SWT akan mengangkat derajat kita.

1. Kesabaran (As-Sabr)

Pilar pertama dan yang paling fundamental adalah kesabaran. Hidup ini adalah ujian, dan kesabaran adalah kunci untuk melewatinya.

Bukankah Allah SWT sendiri berfirman, “Innallaha ma’ash-shabirin” (Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar)?

Orang yang sabar adalah orang yang dicintai oleh Allah. Walaupun ilmu kita sedikit, amalan kita sedikit, jika kita mampu bersabar menghadapi setiap takdir—baik itu musibah, kesulitan rezeki, maupun godaan maksiat—maka kita telah memenuhi syarat utama untuk mendapatkan pertolongan dan kedekatan dari-Nya. Sabar menjadikan ibadah kita bernilai lebih tinggi.

2. Kesederhanaan (At-Tawassuth)

Imam Junaid al-Baghdadi mengajarkan agar kita menjalani hidup dengan kesederhanaan (sikap pertengahan atau tidak berlebihan). Kesederhanaan dalam segala hal, baik itu dalam mencintai maupun membenci.

  • Sederhana dalam Kegembiraan: Jika kita berhasil, berbahagialah secara sederhana. Sadari bahwa keberhasilan itu semata-mata berasal dari Allah SWT. Tidak perlu berlebihan (takabur), karena “La haula wala quwwata illa billah” (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah).
  • Sederhana dalam Kesedihan: Ketika ditimpa kesedihan, bersedihlah sewajarnya. Yakinlah bahwa kesedihan itu pasti akan berlalu, karena “La yukallifullahu nafsan illa wus’aha” (Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya).

Sikap sederhana menghindarkan kita dari keterikatan duniawi yang berlebihan, menjauhkan kita dari penyakit hati, dan membuat jiwa kita lebih tenang.

3. Kemurahan Hati (Al-Jud)

Pilar ketiga adalah kemurahan hati. Kita tidak pernah layak untuk menjadi pelit atau kikir, sebab Allah SWT, Pencipta kita, tidak pernah pelit kepada hamba-Nya.

Bayangkan, betapa banyak maksiat dan dosa yang kita perbuat, namun Allah tetap melimpahkan rezeki, kesehatan, dan kebaikan kepada kita. Allah senantiasa menunjukkan kasih sayang-Nya: “Fabiayyi ala’i rabbikuma tukadzdziban?” (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?).

Menjadi murah hati—baik dalam memberikan harta, tenaga, ilmu, maupun memaafkan—adalah cerminan dari meneladani sifat Al-Karim (Yang Maha Mulia) milik Allah. Ketika kita memberi, kita tidak pernah akan rugi, karena Allah adalah sebaik-baiknya Pemberi Balasan.

4. Akhlakul Karimah (Budi Pekerti Mulia)

Pilar terakhir yang menyempurnakan adalah akhlakul karimah (budi pekerti yang mulia). Akhlak adalah manifestasi dari seluruh keimanan dan ibadah seseorang.

Tidak ada artinya ilmu yang tinggi atau amalan yang banyak jika tidak disertai dengan akhlak yang baik kepada sesama manusia dan makhluk lain. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Akhlakul karimah mencakup kejujuran, sopan santun, keadilan, dan kasih sayang. Inilah yang akan membedakan derajat seorang Muslim di mata manusia dan di sisi Allah SWT.

Penutup

Sungguh, panduan dari Imam Junaid al-Baghdadi ini adalah peta jalan menuju ketenangan dan kemuliaan. Dengan bersabar, hidup sederhana, murah hati, dan berakhlak mulia, kita sejatinya sedang mengumpulkan bekal spiritual yang jauh lebih berharga daripada tumpukan harta atau gelar duniawi. Marilah kita berusaha keras untuk menghiasi hidup kita dengan empat pilar agung ini.

Sumber