PUNGGAWANEWS, Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, Sayyidina Muhammad bin Abdullah beserta keluarga dan para sahabatnya. Saudara-saudara sekalian yang dimuliakan Allah, manusia dianugerahi tiga instrumen penting untuk menangkap kebenaran: pertama, pendengaran; kedua, penglihatan; ketiga, hati dan akal. Ketiga perangkat ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Ta’ala.
Kewajiban Menghadiri Shalat Jumat
Bagi setiap kepala keluarga yang dalam kondisi sehat, tidak sedang melakukan pekerjaan berat, dan tidak dalam perjalanan jauh, maka mendengarkan khutbah Jumat adalah kewajiban yang tidak boleh diabaikan. Rasulullah SAW bersabda bahwa barangsiapa meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali berturut-turut karena meremehkan atau menyepelekannya, maka Allah akan mengunci pintu hatinya.
Perhatikan, hadits ini menekankan tentang hati, bukan telinga. Mengapa demikian? Karena telinga mungkin masih bisa mendengar suara, namun pesan kebaikan tidak lagi menyentuh hati. Inilah laknat terbesar—bukan sekadar penyakit fisik, melainkan kegelapan spiritual yang membuat hati tertutup dari cahaya petunjuk.
Hari Jumat: Hari Penuh Berkah
Hari Jumat adalah hari istimewa yang penuh keberkahan. Di hari ini, kita dianjurkan memperbanyak shalawat kepada Nabi. Allah memberikan kita telinga untuk mendengar dengan tujuan menghidupkan hati. Jika mata bertugas melihat dan telinga bertugas mendengar, maka hati bertugas merasakan—khususnya merasakan perasaan orang lain.
Seperti bulan Sya’ban yang sering terlupakan orang—padahal Nabi SAW paling banyak berpuasa di bulan ini setelah Ramadhan. Ketika banyak orang lupa, kita yang ingat memiliki nilai lebih. Begitu pula dengan tahajud: bernilai tinggi karena dikerjakan saat kebanyakan orang tertidur.
Mendengar dan Melihat untuk Menghidupkan Hati
Ketika Al-Qur’an dibacakan, kita diperintahkan mendengarkan dengan baik agar rahmat Allah turun. Tanda turunnya rahmat adalah hati yang hidup. Kepandaian membaca atau menulis Al-Qur’an hanyalah wasilah, sarana. Tujuan sejatinya adalah membuat hati menjadi hidup—mampu merasakan dan berempati.
Di dalam tubuh kita terdapat segumpal daging. Jika ia sehat, seluruh tubuh akan sehat. Jika ia rusak, seluruh tubuh akan rusak. Itulah hati. Maka laknat terbesar bukanlah sakit fisik, melainkan hati yang terkunci. Allah menyebutkan: mereka tuli, buta, dan bisu—padahal memiliki telinga, mata, dan lidah. Semuanya tidak berfungsi karena hatinya mati.
Kesempurnaan Iman: Merasakan Perasaan Orang Lain
Puncak keimanan dalam Islam adalah ketika seseorang mampu merasakan apa yang dirasakan saudaranya. “Tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
Bagaimana kita bisa merasakan lapar jika tidak berpuasa? Lapar tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata; ia harus dirasakan. Karena itulah Allah mewajibkan puasa Ramadhan—agar kita merasakan lapar yang menyentuh ulu hati, sehingga tangan kita ringan memberi kepada yang membutuhkan.
Kisah Inspiratif
Nabi menceritakan tentang seorang wanita pelacur yang melihat anjing kehausan di dekat sumur. Tergerak hatinya, ia mengambil air dengan sepatunya yang kotor dan memberikannya kepada anjing tersebut. Meskipun keempat unsurnya kotor—wanita berdosa, anjing, sepatu, dan cara mengambil air—Allah mengampuni dosanya karena amal hatinya: merasakan penderitaan makhluk Allah.
Para sahabat bertanya: “Apakah berbuat baik kepada binatang pun mendapat pahala?” Nabi menjawab: “Dalam setiap hati yang hidup, ada nilai sedekah.”
Jika merasakan penderitaan hewan saja mendapat pahala, bagaimana dengan sesama muslim?
Kondisi Umat Hari Ini
Hari ini, kita tidak kekurangan jamaah masjid, jamaah haji, jamaah umrah, atau peserta pengajian. Yang kita alami adalah krisis kepekaan—kekurangan orang yang pandai merasakan perasaan orang lain. Maka, kita perlu mengasah kemampuan menghidupkan rasa ini.
Lima Cara Menghidupkan Hati
1. Bertafakur (Merenungi Diri)
Luangkan waktu untuk merenung, terutama di tengah malam saat tahajud. Siang hari kita terlalu sibuk—teknologi modern membuat kita semakin tak punya waktu untuk merasakan, bahkan perasaan diri sendiri. Sesaat merenungi diri lebih baik daripada beribadah sepanjang malam tanpa kesadaran.
2. Berpuasa Sunnah
Rasakan lapar seperti yang dirasakan orang-orang yang kekurangan. Puasa Senin-Kamis, Ayyamul Bidh (13-14-15), atau puasa Nabi Daud sehari puasa sehari berbuka—ini melatih empati kita. Jika masih ada hutang puasa Ramadhan, qadha-lah segera, bahkan di akhir Sya’ban.
3. Berinteraksi dengan Kaum Dhuafa
Nabi mengajarkan: untuk melembutkan hati yang keras, beri makan orang miskin dan usap kepala anak yatim. Tidak cukup sekadar transfer uang—datanglah ke panti asuhan, ke panti jompo. Ajak keluarga berkunjung, belikan makanan yang sama dengan yang kita makan, usap kepala mereka. Sentuhan langsung ini menghidupkan hati kita.
4. Memakan yang Halal
Hati hidup jika diberi makanan halal. Sepiring makanan halal berubah jadi setetes darah, darah masuk ke jantung, jantung memompa ke seluruh tubuh—termasuk mata dan telinga. Mata akan melihat yang halal, telinga mendengar yang halal.
Al-Qur’an menyebut “ubun-ubun pendusta” dan “ubun-ubun penjahat”—padahal yang berdosa adalah lidah dan anggota tubuh lain. Mengapa ubun-ubun? Karena otak di sana menerima darah kotor dari jantung, yang berasal dari makanan haram.
Jika ingin berpikir baik, merasa baik, berhati baik—jangan beri makan haram pada tubuh. Makanan haram menghijab kita dari merasakan penderitaan orang lain. Itulah sebabnya ada orang kaya yang kikir, ada penguasa yang zalim—karena hati dan pikiran mereka gelap akibat makanan haram.
5. Berdoa Memohon Cahaya
Nabi selalu berdoa dalam tahajudnya: “Ya Allah, jadikan hatiku cahaya, telingaku cahaya, mataku cahaya, kananku cahaya, kiriku cahaya, depanku cahaya, belakangku cahaya, atasku cahaya, bawahku cahaya. Berikanlah aku cahaya.”
Dengan cahaya itulah kita bisa membedakan yang hak dari yang batil, yang lurus dari yang bengkok, yang baik dari yang buruk.
Kepada Allah jualah kita berdoa: “Ya Allah, Engkau yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.”
Saudara-saudaraku, marilah kita jaga shalat Jumat dengan sepenuh hati. Dengarkan khutbah dengan penuh perhatian, bukan sekadar hadir secara fisik. Karena tujuan dari semua ini adalah menghidupkan hati—agar kita menjadi manusia yang beriman, yang mampu merasakan, yang peduli, yang tidak hanya hidup untuk diri sendiri.
Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.
Barakallahu li wa lakum fil Qur’anil ‘Azhim.


Tinggalkan Balasan