PUNGGAWANEWS — Ulama kharismatik KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha menyampaikan pesan penting tentang tata cara berdoa yang benar dalam pengajian di Yogyakarta. Menurut Gus Baha, umat Islam hendaknya berdoa dengan cara tadarruk, yakni sopan, tidak berlebihan, dan penuh kesederhanaan.
Makna Tadarruk dalam Berdoa
“Kalau kamu berdoa itu yang tadarruk. Tadarruk itu ya yang sangat sopan, secara diam-diam atau secara tidak berlebihan,” ujar Gus Baha mengawali ceramahnya. Beliau merujuk pada ayat Al-Quran yang menyatakan “innahu la yuhibbul mu’tadin” yang bermakna Allah tidak menyukai orang yang melewati batas.
Gus Baha memberikan contoh konkret tentang doa yang berlebihan. “Sebagai cowok berdoa, ‘Ya Allah, saya ingin punya istri cantik, salihah, nasabnya baik, tidak pernah cerewet, tidak pernah apa.’ Itu kan nanti nyarinya juga susah,” kata beliau sambil tersenyum. “Kira-kira itu sudah berlebihan.”
Doa Sebagai Bentuk Ibadah
Mengutip pandangan para ulama, Gus Baha menjelaskan konsep “doa itu mukhul ibadah” (doa adalah inti ibadah). Menurutnya, doa merupakan bukti bahwa manusia membutuhkan Allah, dan merasa butuh adalah bagian dari ibadah itu sendiri.
“Doa itu bukti kita minta. Minta itu bukti kita lemah. Merasa lemah itu sudah bagian dari ibadah,” terang Gus Baha. Beliau menekankan bahwa doa tetap bernilai ibadah meskipun tidak dikabulkan, karena esensinya terletak pada pengakuan kelemahan manusia di hadapan Allah.
Kritik Terhadap Doa Menuntut
Gus Baha memberikan peringatan keras terhadap sikap menuntut dalam berdoa. “Kalau kita berdoa terus posisi kita protes, katanya kamu baik, ya Allah, engkau baik. Ternyata tidak juga semua doa saya kamu kabulkan. Ini malah doa kriminal,” tegasnya.
Beliau mengingatkan bahwa hubungan dengan Allah harusnya dimulai dari rindu kepada Allah, bukan dari masalah atau keinginan duniawi. “Kalau wali itu kangen Allah dulu baru minta. Kalau kita tidak, banyak masalah dulu baru melibatkan Allah.”
Pesan tentang Kesyukuran
Dalam ceramahnya, Gus Baha juga menyoroti pentingnya bersyukur sebelum meminta yang lain. Beliau memberikan contoh seorang jomblo yang setelah menikah langsung meminta istri yang salihah dan tidak cerewet.
“Hilang status jomblo saja belum kamu syukuri kok sudah minta macam-macam. Jadi harusnya syukur dulu ya,” ujar beliau. Pesan serupa juga berlaku bagi mereka yang baru mendapat pekerjaan sebagai dosen namun langsung mencari insentif tambahan.
Refleksi tentang Tauhid
Gus Baha mengakhiri ceramahnya dengan refleksi mendalam tentang tauhid. Beliau menekankan bahwa cara berpikir tauhid adalah tidak bergantung pada makhluk, tetapi sepenuhnya bergantung pada Allah sebagai Ar-Razzaq (Pemberi Rezeki) dan Al-Hadi (Pemberi Petunjuk).
“Allah menamakan dirinya Al-Hadi, penunjuk jalan. Dan sifat Allah pasti nafidah (terlaksana). Karena Allah tidak terkalahkan,” pungkas Gus Baha, meyakinkan jamaah bahwa petunjuk Allah akan selalu ada di setiap zaman.
Ceramah Gus Baha ini memberikan pencerahan bagi jamaah tentang pentingnya menjaga adab dalam berdoa dan memahami hakikat hubungan hamba dengan Tuhannya. Pesan beliau relevan untuk mengingatkan umat Islam agar senantiasa berdoa dengan penuh kesopanan dan tidak melampaui batas yang telah ditetapkan Allah SWT.

Tinggalkan Balasan